KALIAN LEBIH PERCAYA MEDIA LUAR ATAU LOKAL TERKAIT PEMBERITAAN KEBAKARAN DI KALIMANTAN?
karena media luar benar benar menguliti masalah ini dari sisi yang paling dipertanyakan, seperti:
- The Guardian: menyoroti praktik tebang-bakar dan kedekatan api dengan habitat orangutan, membangun narasi bahwa karhutla berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang lebih besar.
- ABC News: mempertanyakan efektivitas penegakan hukum dan menekankan bahwa dampak asap sudah menyeberang ke Malaysia hingga mengganggu ratusan ribu siswa.
- Al Jazeera: menggambarkan karhutla sebagai krisis kemanusiaan, dari keterbatasan perlindungan relawan sampai jutaan orang yang terancam gangguan pernapasan.
- Reuters: kenaikan hotspot di Kalimantan menjadi indikator bahwa situasi kembali memburuk dan menguji kesiapan mitigasi pemerintah.
- AP News: menyoroti keterbatasan tim darat dalam menjangkau titik api terpencil, sekaligus memperlihatkan persoalan tata kelola lahan gambut.
- Mongabay: degradasi biodiversitas dan ancaman langsung terhadap habitat orangutan di Kalimantan.
- Amnesty International: karhutla diposisikan sebagai krisis hak atas kesehatan dan lingkungan yang sehat, bukan cuma persoalan kebakaran biasa.
bahkan media seperti BBC menyoroti empat perusahaan yang diselidiki terkait karhutla di Kalimantan, sekaligus mempertanyakan apakah penegakan hukum akan benar-benar menyasar seluruh pihak yang terindikasi terlibat
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Just learned about the existence of WikiRug. There’s a map of regional rug patterns of Iran where clicking on each province directs you to a dedicated page about that particular rug.
Nature can surprise you at any time. I came across this beautiful animal the other day. You don't see him easily, and during the day you don't see it at all. It's really rare. The Cyclopes didactylus looks like a toy animal 😍
Bayangin kamu ceritanya lagi naik tangga buat “jadi pinter”. Nah, ada yang namanya Taksonomi Bloom nih, Taksonomi Bloom itu kayak peta tangganya dari yang paling dasar sampai yang paling “pro level” dalam cara kita berpikir.
Penjelasannya gini:
Awalnya, kamu cuma ngumpulin info dulu. Ini level paling bawah, namanya mengingat. Kayak hafalin rumus, inget tanggal sejarah, atau sekadar tahu misal “oh ini namanya fotosintesis” gitu.
Naik dikit, kamu mulai ngerti. Bukan cuma hafal, tapi udah bisa jelasin pake kata-kata sendiri. Hal ini udah masuk ke dalam tahapan Memahami. Misalnya, kamu bisa cerita ulang kenapa tumbuhan butuh cahaya matahari tanpa ngelihat buku.
Terus, kamu masuk ke tahap pakai ilmunya. Ini level Menerapkan. Jadi bukan cuma ngerti teori, tapi bisa dipraktikkan. Contohnya, kamu pakai rumus matematika buat nyelesain soal atau pakai grammar yang bener pas ngomong bahasa Inggris.
Naik lagi, kamu mulai nih masuk tahap selanjutnya yaitu Menganalisis. Di sini kamu udah kayak detektif, bisa ngebedah sesuatu, nyari pola, atau ngerti kenapa sesuatu bisa terjadi. Misalnya, kamu bisa bandingin dua teori atau ngerti penyebab suatu peristiwa.
Abis itu, kamu masuk ke level Menilai. Di level ini kamu udah mulai “beropini tapi beralasan”. Kamu bisa bilang sesuatu itu bagus atau nggak, setuju atau nggak, tapi pake alasan yang kuat. Kayak nge-review film tapi bukan cuma “jelek”, tapi jelasin kenapa jelek.
Paling atas, level tertingginya ada Mencipta. Di sini kamu nggak cuma pakai atau nilai sesuatu, tapi bikin hal baru. Bisa berupa ide, karya, solusi, atau konsep yang belum ada sebelumnya. Misalnya bikin aplikasi, nulis cerita, atau nemuin cara baru buat nyelesain masalah.
Jadi intinya, Taksonomi Bloom itu kayak perjalanan:
dari “cuma tahu” lanjut ke “beneran ngerti” lanjut lagi “bisa pakai” maju ke “bisa bedah” berubah menjadi “bisa nilai” akhirnya sampai “bisa bikin sesuatu yang baru.”
Semakin naik, otak kamu makin “kerja keras” tapi juga makin keren.
Jadi dalam belajar tuh kita bener-bener harus tau tahapannya ya, supaya kita bisa berurutan ga asal loncat aja hehehehehe