>Mumpung gabut saya rangkumin isi videonya (khususnya buat buzzer)
>Anies bilang kondisi Indonesia sekarang tuh lagi ga baik-baik aja. Rupiah jatoh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga barang naik, lapangan kerja makin dikit, daya beli masyarakat melemah.
>ke depan jg tantangannya masih panjang. Dunia lagi panas gara-gara geopolitik ama konflik Timur Tengah, ditambah El Nino kuat. Jadi masalah datengnya barengan, bebannya rakyat jadi dobel
>yg paling dibutuhin sekarang itu kepastian bukan sekadar narasi tenang aja atau masalah dianggap ga ada. Kepastian muncul kalo pemerintah transparan, buka semua data, kasih arah yg jelas, dan keliatan negara ini mau dibawa ke mana
>Masalahnya yg kejadian malah kebalikannya. Data yg ditampilin cuma yg bagus-bagus, yg jelek disimpen. Pejabat jg sering becanda atau terlalu enteng ngomongin masalah serius. Kebijakan hari ini beda ama besok, akhirnya pada bingung
>Padahal warning udah dateng dari banyak pihak. Dari ekonom dalam negeri, lembaga keuangan dunia, sampe media dalam dan luar negeri
>Solusi dia: berhenti kasih obat tidur ke rakyat. Buka semua data apa adanya, jujur ama kondisi, bikin kebijakan yg jelas dan konsisten, terus pemerintah harus beneran serius dari atas sampe bawah
Ada berapa hal yang bisa kita garisbawahi dari postingan mereka
1. Ada kata thin-skinned, alias berkulit tipis.
Kalau yg gw tahu, itu maksudnya mudah tersinggung.
Ya, The Economist bilang Presiden mudah tersinggung alias temperamental.
2. Lalu, The Economist bilang Prabowo harus siap sama unpalatable truths alias kebenaran yang menyakitkan.
Implikasinya, majalah ini menduga kalau Prabowo sering disuapin info manis dan nggak siap dengan info jelek.
3. Judul berita yang menyebut risky path, eroding finance and democracy.
The economist ingin pembaca mengetahui bahwa Indonesia berada di posisi yang rawan atas ulah presidennya sendiri.
Seperti apa ulah itu?
Pengkondisian oposisi, kebijakan MBG dan Kopdes dsb.
Kalau kelen sadari, hanya media asing yang berani nulis postingan kek gini. Media lokal mana sanggup. Bisa diganggu-ganggu mereka ntar.
Source gambar : VOI
Sebagai bapak bapak yang punya dua anak perempuan.
Ngurusin anak tuh menyenangkan sekali, sungguh.
Stress release sekali buat gue.
Mbak di rumah pernah tiba tiba bilang, "Pak saya ga enak kalo bapak yang mandiin makanin anak anak pagi pagi"
Lah gue emang senenggggg, gimana dong wkwkwkwk.
@dogerymon@hrdbacot Bener. Kalo mau upgrade HU beli merk kenwood, pioneer, alpine, sony, clarion, jvc. Harga ga pernah bohong. Kalo kemahalan mending nambah peredam pintu + dsp + sub aktif buat permulaan, selanjutnya baru upgrade speaker
Di Eropa nyetir 4 jam udah pindah negara.
Indonesia :
Nyetir 4 jam di Pulau Jawa udah pindah provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Sumatra masih di satu provinsi.
Nyetir 4 jam di Pulau Kalimantan masih di satu kabupaten.
Nyetir 4 jam di TB Simatupang jam pulang kantor masih dalam satu kecamatan.
Kalau mau jujur, sebetulnya yang terjadi sekarang ini dampak ekonominya sudah lebih parah dari krisis 97-98.
Dulu masyarakat terbiasa hidup dalam ilusi stabilitas, jadi ketika fondasinya runtuh, kepanikan langsung pecah karena orang-orang belum siap hidup dalam ketidakpastian yang mendadak.
Bandingkan dengan sekarang, dimana orang sudah terbiasa hidup tanpa fondasi yang kokoh.
Salah satu indikatornya adalah lebih dari 50% penduduk Indonesia bertahan di sektor nonformal, gig economy, dan penghasilan yang serba tidak pasti.
Itulah kenapa kita merasa seolah krisis hari ini keliatannya biasa-biasa saja.
Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras.
Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar.
Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder
Bukan orang kaya.
Bukan CEO.
Bukan entrepreneur.
Orang rata-rata.
Profesional biasa.
Manajer.
Pegawai kantoran.
Mediannya?
Rp1,9 miliar.
Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu.
Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun.
Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita.
Sekarang udah 18 kali lipat.
Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita.
Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil.
Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura.
Namanya HDB Housing Development Board.
Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total.
HDB itu bukan program perumahan.
Ini program distribusi kekayaan.
Begini cara kerjanya.
Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar.
Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta.
Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun.
Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja.
Fixed. Dua koma enam persen.
Dua puluh lima tahun.
Di Indonesia bunga KPR kita berapa?
10% ke atas.
Floating.
Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya.
Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri.
Di Singapura?
Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan.
Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa.
Dan ini contoh nyata yang Leon kasih:
Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 m² di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura.
Bayar dulu cuma 5%.
Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir.
Serah terima 2020.
Baru mulai nyicil.
Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura.
Capital gain: 500.000 dolar.
Sekitar Rp5,5 miliar.
Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun.
Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan.
Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside.
Sistem ini dirancang buat semua fase hidup.
Waktu muda beli yang kecil.
Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi.
Per keluarga bisa dua kali.
Setiap kali jual, dapat capital gain.
Setiap kali beli, tetap dapat diskon.
Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain.
Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan.
Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa.
Lihat datanya dan ini yang paling nyesek:
Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah.
Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya.
Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas.
Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati.
Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ.
Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri.
Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan.
Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit.
Yang Leon sarankan dan ini masuk akal:
Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah.
Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik.
Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar.
Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama.
"Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"
Mau komentar agak sensi dikit: inilah namanya normalisasi dan komodifikasi kejahatan. Video ini membungkus lelang sitaan seperti acara shopping haul TikTok yang fun dan menggoda. “Belanja mewah bekas koruptor sambil bantu negara” kalimat ini sendiri sudah morally obscene.
Korupsi bukan sekadar kejahatan ekonomi, tapi pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Mengubah hasil pengkhianatan itu menjadi obralan mewah yang bisa dibeli orang kaya adalah bentuk pencucian moral. Seolah korupsi itu hanya “kesalahan bisnis” yang bisa diselesaikan dengan diskon. Badut semua. 🤡
Prabowo
TAK PERNAH JADI DANDIM
TAK PERNAH JADI DANREM
TAK PERNAH JADI PANGDAM
Tidak pernah berada benar-benar dari bawah.
Ia tidak lahir dari jalur kewilayahan.
Tak pernah ditempa oleh ritme desa,
tak pernah membaca denyut rakyat dari meja Danramil, tak pernah menghirup bau keringat petani lewat lintasan Babinsa.
Ia asing pada bahasa sungai, buta pada logika hutan, dan tak pernah memahami wilayah sebagai ruang hidup—bukan sekadar batas administratif.
Bagi dirinya, kewilayahan hanyalah koordinat di slide presentasi.
Ia berbicara wilayah seperti turis berbicara kampung:
fasih istilah, miskin pemahaman.
Yang muncul bukan kepekaan ruang,
melainkan refleks kekuasaan.
Rakyat direduksi menjadi objek bantuan, bukan subjek pemulihan.
Ia mengalami gagap struktural:
pengalaman komandonya terputus dari realitas tanah, sungai, dan desa.
Tak heran, kebijakannya sering jatuh seperti sepatu bot di lumpur:
berat, bising, namun tak pernah benar-benar melangkah.
Namun perlu ditegaskan:
🔹️Ini bukan soal kepedulian personal.
🔹️Ini soal formasi mental.
Sejak awal, ia dibesarkan untuk menguasai, bukan memahami.
Wilayah tidak pernah tunduk pada mereka yang hanya mengenal peta
tanpa pernah menjejak tanah.
Pada akhirnya, ini bukan kritik emosional, melainkan evaluasi struktural atas kepemimpinan yang kehilangan rasa tanah.
Karena negeri ini tidak dibangun dari PowerPoint, melainkan dari lumpur, sungai, hutan, dan manusia yang hidup di dalamnya.
Dan siapa pun yang gagal memahami itu, akan selalu salah alamat—betapapun tinggi jabatannya.
:: WeKa ::
Malam 2 Februari nanti ada apa?
Malam nisfu syaaban:
1. Malam terbukanya seluas luasnya pintu taubat
2. Malam di kabulkan setiap doa dan amal ibadah
3. Malam di turunkan rahmat dan rezeki
4. Malam di tentukan kembali takdir
Sabda Rasulullah Saw:
"Allah melihat makhluknya pada malam nisfu syaaban dan mengampunkan semua makhluk-nya kecuali orang yang syirik dan bermusuhan"
Kata imam Asy Syafi'i:
"Doa itu mustajab pada 5 malam, yaitu malam Jum'at idul Fitri, malam Idul Adha, malam awal Rajab, dan malam nisfu syaaban