Pantes aja orang tiktok & ig ngatain orang twitter khayal. Emang banyak yg gak napak tanah. Dunia twitter tuh dunia ide, kalo mau lihat realitas dunia lewat sosmed masih mending ke tiktok aja. Aplikasi yg kalian bilang kandang monyet itu, will slowly making you understand how complex being a human, and how cruel life could be.
Sejak dulu saya paham kalo memperkerjakan anak di bawah umur itu ilegal. Sampe skrg saya punya stance yg sama. Tulisan ini pun bukan sebagai pembenaran eksploitasi anak. Tapi tahu gak? Dunia gak akan langsung bisa menjadi lebih baik hanya karena kamu punya kompas moral diatas orang lain.
Saya ngajar di lereng gunung dengan profil sosioekonomi masyarakat yg rentan miskin. Murid SMP saya banyak yg gak lanjut ke SMA/SMK karena mereka harus berjuang hidup. Lulus SMP di usia 15-16 tahun mereka udah kerja.
Gak perlu nunggu lulus. Tiap musim tani, para guru sering dapat izin "bu, besok saya izin gak masuk karena bantu ayah ponjo kubis." Atau bikin lanjaran, atau ikut borongan nebas tebu. Bangun sebelum subuh jadi kuli panggul di pasar. Ikut kerja di pabrik kerupuk rumahan. Any kind of job that they can find. Akhirnya di sekolah ngantuk, gak semangat, sering izin.
Mau marahin pemilik modal karena memperkerjakan murid saya yg umurnya 12-15thn jg gak bisa. Di mata roda ekonomi, pemilik modal dan murid saya memang saling membutuhkan.
Marahin keluarga murid karena membiarkan anaknya di bawah umur bekerja? It's actually not simple as you think guys. Banyak orang tua yg deep down gak rela ngelihat anaknya bekerja, tapi mereka jg gak bisa berbuat banyak karena impitan ekonomi.
Anak umur 13 tahun yg bangun jam 4 pagi buat bantu di pasar itu mungkin di timeline kalian keliatan kayak korban sistem. Tapi di rumahnya, murid saya mungkin merasa sedang jadi bagian dari solusi keluarga. Banyak dari mereka sebenarnya bukan dipaksa. Mereka tahu kondisi keluarganya sampe ikut turun tangan sebisanya.
Kadang orang di internet ngomongnya gampang banget โeksploitasi anak nihโ
That's actually a very valid reason to be angry. Secara hukum dan secara moral, memang salah.
Tapi ketika kamu benar-benar hidup di lingkungan seperti ini, kamu mulai sadar kalau realitas itu gak hitam-putih.
Apakah itu ideal? Tentu tidak.
Apakah itu seharusnya terjadi? Juga tidak.
Tapi dunia nyata seringkali berjalan jauh lebih kompleks dari sekadar benar dan salah versi timeline. Makanya hati-hati sebelum nunjuk siapa yang harus disalahin. Di rantai ini semua orang sebenarnya sama-sama terjepit. Orang tua terjepit ekonomi. Anak terjepit keadaan.
Satu-satunya pihak yang benar-benar punya kapasitas mengubah keadaan itu sistem yang lebih besar: akses pendidikan, lapangan kerja yang layak, perlindungan sosial yang benar-benar jalan. Selama itu belum kuat, realitas di bawah akan terus seperti ini bukan karena orang-orangnya gak punya moral tapi karena hidup tetap harus berjalan.