𝗧𝗢𝗟𝗢𝗡𝗚 𝗩𝗜𝗥𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡: 𝗦𝗨𝗔𝗠𝗜 𝗦𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗞𝗥𝗜𝗠𝗜𝗡𝗔𝗟, 𝗗𝗜𝗔 𝗛𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗠𝗘𝗟𝗜𝗡𝗗𝗨𝗡𝗚𝗜 𝗦𝗔𝗬𝗔! 😭
Kepada seluruh masyarakat Indonesia, para petinggi hukum, Bapak Kapolri, dan orang-orang baik di luar sana...
Nama saya Arsita Minaya. Hari ini saya memberanikan diri menulis ini dengan air mata yang tidak kunjung berhenti. Saya memohon bantuan Anda semua untuk menyelamatkan suami saya, Hogi Minaya, yang kini terancam dipenjara 6 tahun hanya karena dia mencoba menyelamatkan nyawa saya.
Kejadian itu masih membekas di ingatan saya. Saat kami sedang mengantar pesanan, saya dijambret oleh dua orang yang membawa pisau cutter. Tali tas saya diputus paksa. Saat itu, saya hanya bisa berteriak ketakutan.
Suami saya, yang melihat istrinya dalam bahaya, secara refleks mencoba menghentikan pelaku. Dia tidak punya niat membunuh, dia hanya ingin mengambil kembali barang yang dirampas. Namun, pelaku yang panik memacu motornya dengan sangat kencang, menabrak tembok, dan meninggal dunia.
Sekarang, dunia kami hancur.
Pelaku jambretnya bebas dari hukum karena meninggal, tapi suami saya—korban yang membela saya—justru dijadikan TERSANGKA. Kakinya dipasangi gelang GPS seolah-olah dia penjahat besar yang mau melarikan diri. Padahal kami hanya pedagang jajanan pasar yang jujur.
Logika mana yang dipakai?
Apakah seorang suami harus diam saja saat istrinya ditodong pisau di depan matanya?. Apakah membela diri dan keluarga sekarang dianggap sebagai kejahatan di negeri ini?.
SAYA MEMOHON DENGAN SANGAT:
Bantu saya VIRALKAN tulisan ini. Saya butuh perhatian dari Bapak Presiden, Bapak Kapolri, Bapak Mahfud MD, Bang Hotman Paris, dan siapa pun yang punya kekuatan untuk menegakkan keadilan yang sesungguhnya
Jangan biarkan suami saya membusuk di penjara karena melakukan tugasnya sebagai pelindung keluarga. Saya hanya ingin keadilan, bukan hukum yang berat sebelah.
Tolong share postingan ini... satu share dari Anda sangat berarti untuk kebebasan suami saya.
@merapi_uncover Banyak temanya yg udah ketipu model gini..buat pelajaran jangan mudah percaya tergiur hasil besar tanpa kerja keras.. semangat kakak..smoga kedepan nggk terulang biasanya karakter yg susah bilang tidak yg kena mantranya
Opini dr Tifa
Banjir Aceh & Sumatera:
Perspektif Kesehatan Masyarakat
Bismillahirrahmanirrahiim
1.
Banjir ini bukan hanya persoalan curah hujan ekstrem. Dari perspektif epidemiologi perilaku, ini adalah kombinasi kerusakan ekologi, tata ruang yang lemah, dan kesiapsiagaan masyarakat yang belum terbangun. Yang terdampak bukan cuma rumah, retapi rasa aman, identitas, dan harapan.
2.
Perubahan tutupan lahan (hutan → sawit), pemukiman di zona rawan, lemahnya sistem peringatan dini, dan respons yang lebih reaktif dari preventif adalah faktor berulang. Air tidak datang “tiba-tiba”. Yang tiba-tiba adalah kesadaran kita.
3.
Risiko kesehatan tidak selesai ketika air surut. Justru saat itu penyakit mulai meningkat: diare, infeksi kulit, leptospirosis, infeksi saluran napas–ditambah trauma psikologis yang kerap tak terlihat, terutama pada anak-anak.
4.
Solusi harus multi-level: pemerintah memperkuat early warning system, audit tata ruang, dan memastikan konsesi lahan tidak merusak daya serap alam. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal keberpihakan pada keselamatan warga.
5.
Komunitas bisa membangun peta risiko lokal, jalur evakuasi, dan simulasi kebencanaan rutin seperti Jepang lakukan. Sekolah juga bisa menjadi pusat literasi mitigasi, bukan sekadar tempat distribusi bantuan.
6.
Layanan kesehatan harus fokus pada dua hal: penyakit pasca-banjir dan kesehatan mental korban.
Trauma yang tidak dirawat berubah menjadi luka sosial jangka panjang.
7.
Bencana tidak boleh dinormalisasi. Kalimat “memang tiap tahun begini” adalah tanda bahaya bahwa kita mulai menerima sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah. Kita bisa memilih jalan berbeda: dari menjadi korban, menjadi masyarakat yang siap, sadar risiko, dan lebih kuat menghadapi yang akan datang.
Solidaritas itu perlu.
Tapi kesadaran, itu yang mengubah masa depan.
Jika tulisan ini bermanfaat, silakan share.
Kesadaran publik adalah bagian dari mitigasi.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir.
Laa hawla wala quwwata ilabillahil 'alliyil adziim.
Salam Takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Pernyataan dr Tifa atas banjir Sumatera
Bismillahirrahmanirrahiim
DOKUMEN TUNTUTAN PUBLIK
ATAS BANJIR SUMATERA & JEJAK KEBIJAKAN REZIM 2014-2024
1. Banjir Sumatera bukan bencana alam. Ini bencana kebijakan.
Banjir yang menenggelamkan Sumatera adalah akibat langsung dari q
10 tahun keputusan politik yang membuka hutan, membongkar bukit, dan menjadikan tanah air sebagai pasar bagi para oligark tambang–proyek negara–dan korporasi lintas negara.
2. Kami menuntut audit total atas seluruh izin tambang dan sawit
Mulai dari Aceh, Sumut, Riau, Jambi, hingga Sumsel–seluruh titik banjir beririsan dengan:
Ekspansi sawit raksasa
Tambang emas, batu bara, dan nikel
Proyek jalan tambang dan food estate
Penggundulan hutan untuk kepentingan “strategis” rezim 2014-2024
Semua berada dalam pola yang sama: izin dipercepat, pengawasan dilonggarkan, rehabilitasi hutan dihapus hanya di atas kertas.
3. Kami menuntut pertanggungjawaban pejabat yang menandatangani izin-izin tersebut.
Tidak hanya korporasi. Pejabat yang menandatangani SK, memuluskan izin, menghapus AMDAL, mengubah peruntukan kawasan hutan, juga harus masuk radar investigasi publik.
Rezim yang membuat kebijakan—bukan korban yang harus disalahkan.
4. Kami menolak narasi bahwa ini “cuaca ekstrem”.
Data menunjukkan bahwa sejak 2014:
Laju deforestasi Sumatera melonjak luarbiasa.
Tutupan hutan merosot, DAS rusak, gambut dikeringkan.
Sungai-sungai kehilangan zona resapan setelah masuk dalam wilayah konsesi sawit-tambang.
Hujan dan banjir adalah cara alam membuka borok kebijakan.
5. Kami menuntut pembentukan Komisi Independen Investigasi Banjir Sumatera.
Anggotanya bukan pejabat negara, tetapi:
Ahli hidrologi
Ahli tata ruang
Aktivis lingkungan
Wakil masyarakat lokal
Komisi ini harus memiliki akses penuh ke peta konsesi, izin, dan data satelit.
6. Kami menuntut penghentian seluruh proyek ekstraktif yang terbukti memperparah banjir.
Termasuk:
Tambang batubara Sumsel (Muara Enim – Lahat – PALI)
Tambang emas Sumut (Moro, Mandailing Natal)
Tambang ilegal dan legal yang merusak hulu sungai
Proyek jalan tambang dan proyek strategis nasional yang memotong kawasan resapan
Food estate yang mengubah gambut menjadi kawasan produksi paksa
7. Kami menuntut pemulihan hutan dan DAS secara menyeluruh.
Bukan seremonial.
Bukan pencitraan.
Bukan program tanam pohon untuk publikasi.
Pemulihan harus diwajibkan, dipantau publik, dan dibiayai oleh pemilik konsesi.
8. Kami menuntut perlindungan hukum bagi warga yang menggugat.
Karena dari dulu, mereka yang melawan perusakan lingkungan justru dibungkam.
Hari ini kami nyatakan: warga bukan musuh negara.
Musuhnya adalah kebijakan yang merusak ruang hidup warga.
9. Kami menuntut transparansi penuh: peta izin, peta konsesi, peta tambang, dan dokumen AMDAL
Harus dibuka tanpa sensor di situs pemerintah.
Publik berhak tahu siapa yang menguasai bumi tempat mereka tinggal.
10. Kami menegaskan bahwa bencana ini adalah titik balik.
Jika negara tidak berbenah, banjir Sumatera bukan yang terakhir.
Ini hanya pembuka.
Karena selama kebijakan dikuasai oligarki, bencana akan terus menjadi langganan rakyat.
Rakyat hanyut. Hilang. Terbawa banjir. Tinggal nama. Apakah ini salah satu agenda?
🔥 TUNTUTAN INI BUKAN UNTUK DIBACA, TETAPI UNTUK DIJALANKAN.
Rakyat menagih.
Sejarah mencatat.
Dan bumi Sumatera telah mengingatka Pemerintah sekarang, Presiden @prabowo, beserta jajarannya, untuk bertindak, atau hanya menjadikan bencana ini sebagai konten belaka.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah.
Salam takzim
dr Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Zaman ini melahirkan manusia yang:
Patah arus pikirannya
Terjerat hasrat dan validasi sosial
Menolak koneksi Ilahiah
Tunduk pada teknologi yang mereka tidak pahami
Jika kerusakan sistemik ini tidak segera dihambat
maka dunia bergerak menuju kehancurannya
Apakah Allah membiarkan saja?
Tidak!
Dia mengutus jiwa-jiwa yang dipilih olehNya:
Mereka yang,
Mengalami realitas tapi menolak ditundukkan olehnya
Merindukan yang hakiki ketika dunia menertawakan yang sakral
Menolak tunduk pada arus demi menjaga kesadaran
Dan terus bergerak menembus batas: antara ilmu, cinta, dan langit
Carilah mereka, mendekatlah, dan bergabunglah.
Seperti apa ciri-ciri mereka?
Wajah yang bercahaya
Lisan yang menjaga kebenaran
Dan keberanian di atas rata-rata manusia
Kiat Mencintai Allah dalam Zaman yang Sibuk
oleh dr Tifauzia Tyassuma
Cinta kepada Allah bukanlah milik para pertapa.
Ia juga bukan kemewahan para wali.
Ia adalah tugas dasar setiap ruh,
dan bisa dijalani di tengah rutinitas, air mata, dan layar HP yang tak berhenti menyala.
Cinta kepada Allah bukan untuk nanti. Tapi untuk hari ini.
Dengan bayi di tangan, anak dalam pantauan, laptop di pangkuan, atau rapat yang tak selesai-selesai,
engkau tetap bisa menjadi kekasih-Nya.
Apa pun peranmu:
ibu, dokter, guru, penulis, aktivis, pegawai, pemilik bisnis
Jadikan pekerjaanmu bukan tentang dunia,
tapi tentang mempersembahkan hasil terbaikmu kepada Sang Pencipta.
Katakan:
“Aku tidak mencari rezeki. Aku sedang mencintai Allah lewat kerjaku.”
Maka:
Deadline jadi zikir
Excel sheet jadi ladang jihad
Mikrofon jadi mimbar cinta
Anakmu jadi pengingat syurga
Telinga dan mata di zaman ini cepat haus.
Isi dengan sesuatu yang menjaga api cinta tetap hidup:
Dengarkan 10 menit murattal Al-Qur’an per hari
Simak 1 ceramah ruhani per minggu
Baca 1 kalimat sufi setiap pagi
Matikan notifikasi Instagram, nyalakan notifikasi langit
Engkau tidak harus jadi ulama.
Cukup jadi pecinta yang tidak ingin kehilangan sinyalNya.
"Pencinta sejati tidak menyentuh sesuatu yang menjauhkan dia dari kekasihnya."
Jaga ini:
Hindari ghibah dan percakapan ketawa-ketiwi tanpa arti
Kurangi scroll HP hanya karena tanganmu tak bisa berhenti
Jauhi konten yang membekukan hati
Kurangi perdebatan yang membuatmu kasar dan hilang kendali
Karena cinta bukan hanya tentang apa yang kau kejar,
tapi juga tentang apa yang kau tolak karena takut kehilangan-Nya.
“Jangan tunggu waktumu lapang untuk mencintai Allah.
Karena kadang, cinta yang paling jujur…
adalah saat engkau tetap menyebut nama-Nya di tengah hidup yang kacau.”(Tifauzia)