Aku pernah bilang ke terapis kalau rasanya aku terus terjebak di pola yang sama.
Dia lalu ngasih aku sebuah jurnal dan bilang,
"Kalau ketakutan terbesarmu adalah menyia-nyiakan hidup, 10 pertanyaan ini bakal nunjukin sebenarnya apa yang lagi kamu sia-siakan."
Ini dia:
baca ini deh, mungkin kamu butuh:
• kalo kamu merasa benci sama semua orang, MAKAN.
• kalo kamu merasa semua orang benci kamu, TIDUR.
• kalo kamu merasa benci sama diri sendiri, MANDI.
• kalo kamu merasa dunia kacau banget, KELUAR RUMAH, dan hirup udara segar.
jujur aja ini salah satu tips kesehatan mental paling berguna yang pernah aku baca. kadang hal simpel kaya gini bisa ngebantu banget, loh🥹🫶🏻
Buat siapapun, kalau tiba tiba kepikiran mau buka usaha, kepikiran S2, kepikiran travelling ke Eropa and others. Tolong jangan diabaikan yah. Karna itu bukan kepikiran yg biasa aja.
Percaya ga percaya itu namanya hikmat dari Tuhan yg mana kalo kamu struggle for that, dengan sangat mungkin bisa terjadi.
Been there many times. Jangan kecilkan dirimu dengan alasan apapun yaahh
adulting itu rumusnya cuma “never asking why”
Dihapus pertemanan? Ok.
Diunfollow? Ok.
Ngga dikabarin? Ok.
Ngga diajak? Ok.
Bersikap seperti biasanya dan melanjutkan hidup. Temanmu juga tidak sepenting itu.
Hati selamat dan hidup tenang.
Saran gratis dari psikolog mahal:
Kalau kamu orang yang cemas, lakukan semuanya untuk bersenang-senang.
Melamar kerja? Anggap lagi iseng.
Ngumpulin dokumen? Anggap lagi main puzzle.
Buka blog? Anggap lagi iseng nulis jurnal.
Anxiety itu hidup dari rasa “ini penting banget”. Semakin kamu anggap satu hal sebagai soal hidup-mati, semakin keras dia mencengkeram.
Jadi turunin levelnya.
Jangan kasih dia bahan bakar.
Coba mulai dari hal kecil hari ini:
lakukan satu hal yang biasanya bikin deg-degan…
tapi kali ini dengan niat “cuman buat fun aja”.
waktu itu pernah liat pak Anies diwawancara ttg kekalahannya. kurang lebih quotenya gini:
Jika dikabulkan berarti baik bagi saya,
jika tidak dikabulkan berarti Allah melindungi dari sesuatu yang tidak saya ketahui.
udah stoik and setenang itu pak Anies menjalani kehidupan.
(nggak mabuk kekuasaan, jabatan apalagi harta)
Wahai Pak Presiden, lihatlah ini!
Tidakkah bapak merasa miris dengan nasib para guru? 40 tahun mengabdi berakhir dengan pengunduran diri, dengan gaji terakhir hanya Rp414.000.
Mau berbagi cerita pengalaman apply di perusahaan ini sekitar tahun 2021 silam.
Sebagai lulusan sebuah PTN di Surabaya yang jurusannya cukup relevan prodinya dengan perusahaan ini, gue bersama temen seangkatan dan beberapa junior dari mencoba apply beberapa posisi Management Trainee yan berbeda. Bahkan sempet bikin grup di Telegram biar saling koordinasi, misal ada berkas yang belum. Semacam saling mengingstkan. Selama persiapan hingga setelah tes, kita kayak saling ngobrol “eh lu gimana tadi jawab soalnya”. Ada 1 junior yang dia selalu nanyain gue, sebut saja Yono.
Jarak antar tahapan tes dan pengumumannya pun terbilang cukup cepat dan jelas, sekitar 2 minggu.
Kalau ikonnya berwarna abu-abu, artinya masih diproses. Kalau merah, artinya tidak lolos di tahap yang bersangkutan.
Kalau hijau, selamat, lanjut terus ke tahap berikutnya.
Dan alhamdulillahnya semua tahap gue libas dan kerjakan dengan maksimal + ikhtiar gas pol rem blong.
Long story short, tak terasa sudah sampai di tahap MCU, yang kalo kata orang-orang, jika tahap ini terlewati ya sisanya cuma sekedar formalitas aja. Saat tes, sempet ketemu beberapa temen dan si Yono ini. Satu yang gue sadari, sudah banyak yang berguguran.
Tibalah tahap Top Management Interview yg diwawancara 3 direksi + 1 HR. Bahkan saking amazenya, dua dari tiga direktur sampe bilang “nanti kalo kamu udah disini, kerja di direktorat saya ya”. Pun gue sempat tersenyum simpul, menandakan optimis karena merasa sudah mengantongi dua ‘tiket’ untuk masuk ke perusahaan impian sejak kecil.
Setelahnya, gue excited gak karuan nungguin hasil tes. Berharap menemukan ikon hijau, pertanda lulus. Dua minggu gue tungguin, kok tumben masih abu-abu. Seminggu setelahnya, pun masih sama. Dan ini terjadi sampai sekitar sebulan lebih. Gue pun mulai was-was.
Gak lama kemudian, gue iseng buka Instagram. Dilalah entah kenapa nemu updatean di Reels kalo perusahaan ini lagi melakukan tahap Yudisium. Yak, tanpa ada update resmi di portal recruitment, maupun memberikan update di profil lamaran gue. Bener-bener digantung.
Dan yang bikin gue nyesek, junior gue bernama Yono ini lolos. Ternyata, dia selalu ‘mantau’ progress gue yang dia sendiri sempet bilang secara langsung keminderannya “mas mah enak udah punya ijazah S2 pasti nilai plus buat diterima, saya mah masih S1 doang”. Ditambah kata junior lain yang cerita, Yono ini emang punya ‘orang dalem’ di perusahaan tersebut, gue lupa apakah itu saudara atau om/tante, tapi entahlah. Gue sendiri gak punya siapa-siapa, murni berjuang tanpa ada pegangan orang dalem seperti Yono.
Disitu gue kecewa parah karena merasa gak adil dengan digantung dan sistem orang dalem tersebut. Bahkan gue sampai 2 minggu mengurung diri saking sedihnya.
@bonzowaw@okthingsz kakk jujur i've been there too. ceritanya sama bgt kaya akuu huhu kmren aku bener" perjuangin masuk ke perusahaan impian tapi gagal smpe trauma sndiri ikut tes" ginian. Org yg mnrt aku (dan tmn2 lain) mikir ga mgkin lolos mlh lolos krn trnyta punya ordal. sediii bgt🥹😭
@fancyluvvy beberapa tahun terakhir gue ga berani jalan sambil liat sekitar. krna gue menyerap energi capeknya org lain, efeknya gue akan sedih trs marah sampe nangis. gue marah karna kita sering dizolimin sama orang apalagi sama pemerintah. bukannya ga peduli, tapi gue juga ga kuat liatnya
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
WAH INI SIH
jujur, setakut apapun lu, selama lu show up, everything will comes along.
every good thing in your life will and only will happen when you show up.
Jangan tutup mata kalau MBG tuh memotong anggaran pendidikan dan kesehatan.
Jangan tutup mata kalau ratusan siswa keracunan karena MBG.
Jangan tutup mata karena MBG stok susu di swalayan habis.
Jangan tutup mata MBG memakan banyak sekali APBN