Maaf nih gue harus terpaksa bilang
Emang ada kok cewek yang mager banget buat keluar rumah. Lu kasih dia wifi kenceng, makanan cukup, sama AC nyala 24 jam, dia bisa betah ngendon di rumah sebulan juga santai aja.
Jadi nggak usah kasihan, malah dia lebih enjoy dan bahagia kalau di rumah. Percaya deh 😹 apalagi kalau kulkas penuh.
TRUST ME, NGL
Aku dulu ngerasa ga nyaman tiap dibayarin cowo. Jiwa provider aku yang sugar sister itu beneran terluka dan gak dikasih makan egonya.
Sampe akhirnya keseringan dapat mokondo dan aku punya temen deket namanya A yang dari awal jalan lgsg bilang "Rin, ini all me ya. Lemme pay karena ini treat dari aku"
Dia sering banget jemput aku di tempat kerja lama + ninggalin helm dan motorku di parkiran. Gatau berapa kali bawa aku night ride sambil muter lagu lana del rey atau bernadya. Sometimes dia tetep kasih makan egoku dengan letme pay tapi transfer diem-diem.
Dia beneran bikin aku belajar menerima dibayarin tapi pelan-pelan. Yang kedua waktu aku jalan sama B, dengan tegas dia bilang "bub, aku ini cowo. Kamu juga harus kasih makan egoku".
Oh ternyata ego jiwa provider ini tetep perlu dikasih makan. Rasa ingin diandalkan itu perlu dikasih makan juga.
Papaku? He gimme the money tapi aku yang bayar ke kasir. Mungkin ini yang bikin aku jadi terbiasa ngebayarin.
Jadi, kalo kamu dibayarin tolong belajar menerima ya girls. As provider cuma pengen kamu seneng dan bahagia kok. Perihal reimburse seperlunya aja buat kasih makan rasa ingin diandalkannya.
Apapun itu semoga dipertemukan dengan yang setara, baik dari pemikiran maupun keadaan ekonomi yaaa 🥰
"Rakyat kita tidak bermimpi kehidupan yang kaya-raya."
JARE SOPO PAKKKKK????????????? NGUAWUR AE SAMPEAN
AKU PENGEN KELILING DUNIAAA
PENGEN WORLD TOUR KE KONSER2 IDOL GW
PENGEN CEPET2 NAIK HAJI
PENGEN BELI SEMUA MERCH KIPOP
PENGEN NIKAH
PENGENKU BANYAKKKK
STOP ASBUN PLS 🫵🏻
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
Terlalu lama hidup susah sampe makan sate 10 tusuk sendiri kerasa aneh, tiap makan di resto kerasa boros, traveling tiap 3-6 bln sekali kerasa foya2. Ini efek hidup miskin dari kecil, pas udah kerja ngerasa gak bisa manage uang. Padahal gw cuma hidup LAYAK.
kayaknya semenjak aku bisa kerja cari uang sendiri & menghidupi diri sendiri, jadi lebih wise buat ngelihat kehidupan orang dari berbagai sudut pandang
dulu pas masih sekolah aku inget bgt, dulu super gampang buat gosipin temen ke temen (sadly). tp skrg liat anak2 remaja atau siapapun misal ada yg diomongin gt dalem hatiku ngebatin “dia begitu pasti ada alasannya”
kayak udah ada di titik selalu ngeliat org lain dari sisi baiknya dulu, atau misal emg udah diluar batas bgt aku tutup telinga better alihin pembicaraan
Guys ada beberapa momen di wawancara Najwa dengan Prabowo yang gw rasa perlu lebih banyak orang cermatin.
Bukan yang bagus-bagusnya. Tapi yang mengejutkan dan jujur tidak nyaman untuk didengar dari seorang presiden.
Pertama soal demonstrasi dan bom molotov.
Najwa kasih data ratusan mahasiswa dan aktivis ditangkap pasca demo. Penangkapan terbesar sejak reformasi. Dan aktor yang menyuruh tidak pernah terungkap.
Prabowo tidak jawab soal kenapa aktornya tidak pernah diusut.
Dia malah balik tanya ada yang ribut tidak soal bom molotov? Ada yang ribut tidak soal gedung DPR mau dibakar?
Najwa bilang banyak Pak yang protes.
Prabowo bilang enggak ada itu.
Dan mereka debat soal apakah ada yang protes atau tidak. Di depan kamera. Dengan nada yang semakin meninggi dari sisi Prabowo.
Presiden dan jurnalis berdebat soal fakta apakah ada pemberitaan atau tidak bukan soal substansi pertanyaannya.
Pertanyaan aslinya tidak pernah dijawab. Kenapa aktor intelektualnya tidak pernah ditangkap.
Kedua soal kritikan yang dianggap regime change.
Najwa tanya apakah semua kritikan terhadap pemerintah bermuara pada keinginan untuk regime change.
Prabowo bilang tidak semua tapi ada.
Lalu dia sebut Asia Tengah. Color revolution. Disinformasi dari negara-negara tertentu.
Dan kalimat ini yang menurut gw paling mengkhawatirkan.
'Kita ini bukan anak kecil. Kadang ada peristiwa yang dibuat seolah-olah. Itu namanya false flag operation.'
Ini diucapkan dalam konteks kasus Andri Yunus yang pelakunya sudah terbukti dan dikonfirmasi sendiri oleh Mabes TNI sebagai anggota Bais TNI.
Bukan spekulasi. Bukan rumor. Sudah dikonfirmasi institusi militer negara sendiri.
Tapi presiden membuka kemungkinan bahwa itu bisa jadi false flag.
Dan itu bukan pernyataan yang kecil. Karena kalau presiden sendiri meragukan fakta yang sudah dikonfirmasi institusinya sendiri bagaimana publik bisa percaya bahwa penyelidikannya akan tuntas.
Ketiga soal 'kalau tidak suka bisa turun ke jalan.'
Ini yang paling bikin gw diam sebentar.
Di tengah diskusi soal kekhawatiran ruang demokrasi yang menyempit Prabowo bilang kalimat ini.
'Kalau memang rakyat tidak suka sama saya bisa turun ke jalan ramai-ramai.'
Konteksnya dia sedang bilang bahwa rakyat yang mendukung dia tahu kalau rusuh semua yang rugi.
Tapi framing-nya bisa dibaca dua arah.
Satu dia percaya diri karena merasa dukungan rakyat masih kuat.
Dua ada nada yang terasa seperti tantangan. Di saat yang bersamaan dengan konteks mahasiswa yang baru saja mengalami penangkapan massal terbesar sejak reformasi.
Ajakan untuk turun ke jalan dari seorang presiden — di tengah diskusi soal intimidasi terhadap pengkritik itu pilihan kata yang sangat tidak biasa.
Keempat soal 'saya korban juga.'
Ketika Najwa tanya soal ruang bersuara yang menyempit dan kasus-kasus intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis Prabowo bilang satu kalimat yang gw tidak bisa lewatkan begitu saja.
'Saya ini korban juga.'
Lalu langsung pivot ke harga pangan yang terkendali di Ramadan.
Gw tidak tahu maksudnya persis. Korban dalam konteks apa. Diserang secara politik? Difitnah?
Tapi menyebut diri sendiri sebagai korban di saat yang sama ketika aktivis HAM yang luka bakar 24 persen dan korneanya rusak sedang dirawat di rumah sakit itu pilihan framing yang sangat tidak tepat waktunya.
Gw tidak bilang semua yang Prabowo katakan malam itu salah. Ada yang bagus. Ada yang jujur. Ada yang berani.
Tapi ada beberapa momen yang seharusnya tidak keluar dari seorang presiden di forum publik.
Karena kata-kata presiden itu bukan sekadar pendapat pribadi. Itu sinyal. Dan sinyal yang salah efeknya jauh lebih luas dari kata-katanya sendiri.
so teetee, i need to give him his flowers because the way he delivered these emotions was insane. i felt everything duang was feeling straight through the screen, even without him having to say much, the intensity in his gaze, that kind of emotional depth is no joke and he pulled it off so naturally. oh my god, he was incredible. i love this boy, he’s actually insane
Gw punya temen namanya si A, tinggal di Bekasi kerja di Sudirman.
Senin sampai Jumat rutinitasnya sama terus.
Bangun setengah lima pagi.
Siap siap.
Berangkat sebelum jam enam karena kalau kesiangan macetnya tidak manusiawi.
Sampai kantor jam tujuh.
Kerja sampai jam lima sore.
Sampai rumah jam tujuh atau delapan malam.
Dua jam lebih di jalan.
Tiap hari.
Pulang pergi.
Dan ini bukan keluhan dia ini memang realita yang dijalani jutaan orang yang tinggal di penyangga Jakarta setiap harinya.
Jadi waktu weekend datang orang lain mungkin langsung mikir mau hangout ke mana.
Si A mikir hal yang berbeda.
Sabtu pagi dia bangun siang.
Tidak ada alarm.
Tidak ada jadwal.
Buka Netflix yang episodenya sudah lama tidak dilanjutin.
Siapkan snack.
Dan tidak kemana mana sampai Minggu malam.
Dan dia bahagia.
Genuinely bahagia.
Bukan karena dia antisosial.
Bukan karena tidak punya teman.
Tapi karena dia paham persis apa yang paling dia butuhkan setelah lima hari menguras energi di jalan dan di kantor.
Kita hidup di kota yang desainnya tidak ramah waktu. Jarak rumah ke tempat kerja yang tidak masuk akal. Transportasi yang belum cukup untuk semua orang. Dan budaya kerja yang masih menganggap hadir lebih awal dan pulang paling telat sebagai tanda dedikasi.
Akibatnya banyak orang yang secara fisik ada di rumah tapi energinya sudah habis sebelum sampai pintu.
Dan weekend bukan lagi soal hiburan atau eksplorasi.
Tapi soal pemulihan.
Jadi kalau ada yang nanya memang ada orang yang genuinely senang di rumah seharian sendirian tanpa ketemu siapapun?
Jawabannya ada.
Banyak malah.
Dan mereka bukan aneh atau kurang pergaulan.
Mereka cuma orang yang sudah terlalu lelah oleh perjalanan yang bahkan belum dimulai sebelum matahari benar benar terbit.