@venomarka Hehehe dulu pas bokap meninggal tahun 2021, gw gabisa nangis, kaya ketahan terus, efeknya gw kaya develop tics gt, mata sama mulut kaya kedut2 dan gw gak nyadar, sembuhnya kudu diterapi gt, jadi nangis dek nangislah, sedih sedihlah.
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
Dulu di kantor, ada senior namanya Pak Agus. Hubungan gue sama beliau tu sebel-sayang. Sering saling jadi menyebalkan satu sama lain, tapi tiap ada makanan, selalu disisihkan untuk gue. Tiap istrinya masak makanan enak, selalu diselundupkan cuma untuk gue (soalnya nggak enak sama yang lain karena nggak kebagian). Kalau gue sendirian di ruangan, beliau selalu nungguin karena tahu gue penakut akut.
Gue tahu makanan apa yang beliau boleh makan dan nggak. Hampir setiap hari beliau minta dibelikan fish and fries ke gue karena cuma itu yang bisa beliau makan. Gue selalu ngomel kalau beliau lemburnya bablas karena gue tahu rumahnya jauh, dan beliau sudah nggak lagi bugar.
Beliau tipikal bapak-bapak teduh. Jalannya pelan, tertawanya renyah, kalau ngomel judes banget tapi sepersekian detik lunak lagi.
Ingat banget dulu satu unit ke Dufan, dan beliau cuma ikutin rombongan gue main, nunggu di depan wahana sambil lihatin kita. Kalau di suruh istirahat, nggak mau, bilangnya, “Udah main aja, bapak lihatin kalian.”
Gue nggak peduli sebete apa orang-orang ke beliau kalau menyangkut kerjaan, bagi gue beliau adalah “Bapaknya gue.”
Sampai satu hari beliau meninggal. Di rumah duka, gue memperkenalkan diri ke istrinya, lalu di depan Pak Agus gue janji, “Aku nggak akan lupa sama keluarga kecil Bapak.”
Keluarga kecil yang selalu beliau banggakan. Cerita perjalanan cintanya yang selalu beliau ulang-ulang ke gue tiap jam 5 sore. Kesombongan beliau soal makanan istrinya yang enak. Kebanggaan beliau soal anaknya yang cerdas. Keluarganya kecil, hanya ada istri dan satu anak. Kalau dari cerita si Bapak, mereka berbahagia dalam sunyi.
Sampai hari ini, hubungan gue sama istrinya sangat baik. Dari anaknya masih SMP sampai sekarang sudah kuliah, jalinan silaturahim kita nggak terputus. Kalau ada apa-apa, istrinya selalu menghubungi. Tiap natal, beliau selalu kirim ayam bakar buatan sendiri dan tiap hari raya, gue selalu kirim nastar buatan Mamah.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Lebaran kemarin, istrinya kirim teflon buat Mamah. Katanya tiba-tiba ingat kalau si Mamah suka masak. Tahun kemarin, beliau kirim satu set sprei biru buat gue, katanya biar gue tidur nyenyak 🥹
Gue bersyukur atas ikatan sederhana ini. Simpulnya nggak rumit tapi erat dan nggak terputus meskipun si penghubung utamanya hilang. Sebab setelah kepergian Bapak, kita punya penghubung baru. Kebaikan Pak Agus yang kita lestarikan bersama-sama.
Gue setuju dengan kalimat, “Panjang umur kebaikan.” Orangnya memang mati, tapi baiknya terus hidup di sela-sela kehidupan kita yang masih bernapas di sini.
Beneran deh, jangan.
Ada banyak hal yg emang udah gitu aja gak usah dibumbui aneh-aneh atau malah dibuang bumbunya. Lebaran.. ya emang gitu. Silaturahmi.. kasih THR kalau mampu. Panjangin kebahagiaan diri sendiri dan orang lain.
Dulu pas kecil, nunggu lebaran tuh rasanya lamaaaaaa banget dan begitu tahu besok lebaran, bahagia dan groginya gak ketulangan. Dari malem udah nyetrika baju baru. Dielus-elus ditaruh di tempat aman, udah nyuci bersi mukena (namanya rukuh di desaku), disuruh tidur ibuk juga kaya ngga mau.. takut kebablasan dan gak bangun tepat waktu.
Habis shalat ied langsung lari dari lapangan desa pulang ke rumah. Ganti baju baru dengan kecepatan petir. Gak sabar nunggu bapak ibuk buat sungkeman dan silaturahmi ke tetangga dan keluarga lain. Kayaknya dulu gak setiap lebaran juga bapak ibuk bagi-bagi duit. Karena ya, kami emang gak punya. Tapi kami, anak-anaknya sudah hafal tetangga mana yg pasti bagi-bagi duit.
Kalau plan silaturahmi kami ketahuan ibuk, pasti dimarahin. Disuruh silaturahmi ke semua, THR-an itu bonusnya. Jadi kami nurut tapi tetep patokin nanti sampai mana silaturahminya.
Pokoknya hari lebaran itu syahdu dengan vibe silaturahmi dan bagi-bagi THR nya. Kalau tiba-tiba mak jleb lebaran gak ada silaturahmi, gak ada THR.. lalu apa yang mau dirayakan? Biarlah anak-anak lain, minimal mereka tahu kebahagiaan di hari lebaran. Sekali setahun juga, kan?
Bayangin, lu masih bocil (kira-kira umur 10 taun) dan cuma bisa bengong di pojokan. Di depan mata, bokap tiri lagi mukbang fried chicken sama adek-adek tiri. Wanginya ke mana-mana, crispy-nya kedengeran banget, tapi piring gw? Cuma ada nasi dingin sisa kemarin. No protein, just sadness. Gw cuma bisa telan ludah, trying to act like I wasn't starving. Itu momen yang bener-bener bikin gw mikir, "One day, I’m gonna buy all the chicken in the world."
Sepuluh tahun kemudian, the grind started to pay off. Gw udah mulai punya duit sendiri. Awalnya cuma sanggup beli ayam goreng tepung pinggir jalan yang harganya receh. Tapi lama-lama? I upgraded. Dari yang lokal sampai akhirnya bisa masuk ke gerai internasional tanpa perlu liatin harga di menu. That feeling of ordering a bucket of chicken with my own hard-earned money? Chef’s kiss. Puas banget, bener-bener healing luka lama.
Fast forward ke sekarang. Roda beneran berputar, and God is good. Sekarang posisinya udah balik 180 derajat. Gw bisa duduk bareng bokap kandung gue, the man who’s been through it all with me. Gw tinggal bilang, "Dad, mau makan fried chicken di mana hari ini? Just name the place, I got you." Bukan lagi soal rasa ayamnya, tapi soal power buat bilang "pilih aja" tanpa harus mikir saldo. It’s not just about the chicken, it’s about the victory.
beli barang buat diri sendiri mikirnya berminggu-minggu, tapi buat ngajak keluarga makan enak di luar mikirnya cuma 2 menit. semoga Allah lancarkan rejeki kita semua biar bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayang, aamiin.
When we were humiliated 4-0 at Brentford in the summer of 2022, the football world turned away in disappointment. But one man, thousands of miles from Old Trafford, watched every painful second from his home in Madrid and sent a simple, defiant message to his agent:
“Tell them I’ll fix this.”
Those five words carried the weight of a champion who had already conquered everything. Five Champions Leagues, a shelf full of trophies, the respect of the entire game. Casemiro didn’t need Manchester United. Manchester United needed him. Yet he chose the chaos, the rebuild, the roar of a stadium desperate for leadership.
You told them you’d fix it. And for a while, you really did.
Rest well in the knowledge that Old Trafford will never forget the man who ran toward the storm ❤️
Sepanjang yang saya tahu, semua kontrasepsi (KB) perempuan itu pasti ada "efek nggak enak" ke istri kita.
Dan di awal punya anak, biasanua cenderung istri yang ber-KB.
Wajar kalau ada saatnya, gantian laki-laki yang KB. Dan vasektomi itu menurut saya adalah bentuk kepedulian suami ke istri.
Pilihan KB pria kan cuma kondom sama vasektomi. Vasektomi menurut pemerintah harus di atas 35 tahun. Sedangkan kondom, merepotkan dan nyampah.
Termasuk kami sendiri (saya dan istri), setelah anak kami lahir, istrilah yang KB.
Dunia KB perempuan penuh dengan efek samping. Bingung pilih mana. Makanya saya dulu setuju ketika istri pilih IUD Mirena yang tergolong mahal tapi paling minim gangguan ke istri.
Mirena adalah sebuah brand dari Bayer. Mirena termasuk IUD yang hormonal. Efek sampingnya paling minim tapi ya lumayan mahal.
Tapi itulah pilihan yang menurut kami paling minim "mengganggu" istri.
Setelah memutuskan untuk tidak punya anak lagi, saatnya suami yang KB. Vasektomi seperti menjadi satu-satunya pilihan.
Dan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sesama laki-laki adalah: "Bagaimana pengaruh ke hubungan seksual?"
Setelah sudah setahun lebih vasektomi, jawaban saya tetap: "Nggak ada bedanya."
Tidak ada bedanya sebelum dan sesudah vasektomi. Tidak ada efek negatif sama sekali. Begitupun efek positif, ya tidak ada sama sekali. Kecuali, saya tak lagi bisa menghamili istri saya.
Contoh efek negatif yang sering ditanyakan: apa jadi loyo, apa nggak "keluar" lagi, dsb.
Contoh efek positif yang sering ditanyakan: apa jadi tambah libido, apa jadi makin tegang, dsb.
Sekali lagi, jawabannya: tak ada bedanya.
Kembali ke tujuan kita vasektomi: menyenangkan istri. Gantian kita yang KB. Jangan cuma istri yang direpotkan.
Betul, pasangan tidak perlu punya hobi yang sama. Yang penting saat istri curhat tentang rekan kerjanya di kantor, respon kita sebagai suami adalah: "wah emang gak bener tu orang...". Dijamin langgeng puluhan tahun.
Something clicks in your brain after 30 and you are unable to enjoy video games.....
The inability to ignore your entire life for hours a day just becomes overwhelming....