Semua ada waktunya. Progress & hasil masing2 orang juga beda.
Kadangkala ketemu hasil yg ga memuaskan, tapi itu bagian dari proses.
Selalu lapar akan prestasi dan ada tujuan yg dicapai, itu yg membuat tiap orang bisa berkembang.
Gapapa juga klo growth kita pelan banget
Keep steppin. Keep progressin. Itu mungkin pelajaran dari musim 2025/26.
Liat aja liga-liga top Eropa.
Arsenal juara Prem. Lens juara Coupe de France. Como UCL. Getafe, Celta Vigo, Stuttgart, Sunderland, Bournemouth, Brighton semua ke Eropa.
Siapa yg sangka?
Pencapaian mereka ini mungkin keliatan luar biasa. Di luar dugaan banyak orang. Tapi sebenernya semua sejalan dengan proyeksi mereka.
Brighton & Bournemouth selalu punya target untuk memperebutkan tiket Eropa sejak kultur klub mengalami transformasi.
Pelatih-pemain, datang & pergi mereka tetap teguh pada rencana awal, tidak mengubah pendekatan. Hasilnya kini terasa.
Sunderland memiliki rencana yg sama dengan mereka. Pembangunan kultur itu sudah dimulai sejak di League One.
Masuk Premier League, ada perubahan dalam jajaran, namun ide yg ada terus dilanjutkan & dikembangkan. Bukannya diterlantarkan karena ada perubahan di jajaran.
Bagi Sunderland, lolos ke UEL 2026/27 memang lebih cepat dari rencana awal. Sama seperti Como lolos UCL, ataupun kesuksesan Lens mengangkat piala tapi itu memang selalu jadi target mereka.
Mereka semua berhasil menjaga diri masing-masing untuk tetap stabil. Tak terbutakan gemerlap sinar yg menyorot mereka.
Hal yang sama juga bisa dikatakan untuk Stuttgart di Jerman.
Klub seperti Getafe bisa saja memecat Jose Bordalas apabila tertekan dengan sorotan negatif terkait gaya main tim.
Klub seperti Celta Vigo bisa saja mendepak Claudio Giraldez pada tengah musim, karena masih berkutat di papan bawah La Liga. Jauh dari posisi 7, pencapaian mereka musim sebelumnya.
Akhirnya keyakinan mereka untuk terus melangkah, dan berproses jadi landasan keberhasilan mereka musim ini.
Apalagi Arsenal. Ada masanya "Trust the process" justru jadi bahan banter.
Sudah bertahun-tahun jadi "tukang jaga piala", Arteta bisa saja dianggap tidak layak, dibilang "bukan levelnya untuk juara". Ternyata musim ini mereka buka puasa juara liga.
Waktu banyak justru klub kehilangan momentum karena merasa harus cepat melakukan perubahan demi bisa "naik level", mereka yg teguh pada pedoman justru memetik hasil musim ini.
Terkadang situasi membuat kita merasa tertinggal. Tertinggal soal pencapaian. Tertinggal dalam kehidupan.
Kadang kita dibuat merasa stuck. Impresi gak meningkat. Susah gajian.
Kita dibuat seakan-akan harus ada perubahan signifikan.
Padahal jika kita percaya sama apa yg kita lakukan, terus melangkah, dan tidak berhenti mengembangkannya, progres itu pasti terlihat.
Pada saat waktunya tiba, kita pun akan siap dengan landasan yg lebih kuat!
Klo turun ke lapangan, saya pribadi inginnya pake kaos atau baju simple aja, ga perlu seragam kedinasan.
Sejak awal menjadi ppl, saya menganggap petani itu rekan & mitra kita, bukan bawahan kita.
Bahkan kita mesti menaruh respect kepada petani
Saya sendiri juga ngerasa gimana gitu ngeliat pejabat klo lagi turun ke lapangan.
Terlalu banyak protokol, ga generik, dsb.
Sempet ngobrol dengan seorang petani, dia inginnya pejabat turun ke sawah, liat kondisi langsung, ga usah ada gap antara pejabat dengan masyarakat
Guys, tadi ada netizen yang cerita soal perbedaan gaya pejabat di Indonesia dan Australia, dan jujur cukup menarik buat dibahas.
Dia ngasih contoh waktu ada acara resmi di Australia. Katanya ada seorang pejabat tinggi Australia yang keluar hotel sendirian menuju parkiran tanpa rombongan besar,
tanpa staf yang sibuk ngawal, tanpa suasana yang bikin orang sekitar langsung tahu kalau itu pejabat penting.
Terus dia membandingkan dengan budaya birokrasi yang sering kita lihat di Indonesia. Kadang ada pejabat datang, yang sibuk bukan cuma acaranya, tapi juga rombongannya.
Ada yang bawain tas, ada yang ngurus ini-itu, ada yang sampai terkesan semua harus mengalah demi pejabat tersebut.
Menurut dia, salah satu alasannya adalah budaya di Australia yang dikenal dengan istilah Tall Poppy Syndrome.
Sederhananya, masyarakat di sana cenderung kurang suka kalau ada pejabat atau tokoh publik yang terlalu menunjukkan status, kemewahan, atau merasa lebih tinggi dari orang lain.
Makanya banyak politisi dan pejabat Australia yang sebenarnya bergaji besar, tapi tetap berusaha tampil biasa saja.
Bukan karena nggak mampu hidup mewah, tapi karena mereka tahu masyarakat akan langsung mengkritik kalau dianggap terlalu jauh dari kehidupan rakyat biasa.
Yang menarik, netizen itu bilang mungkin salah satu alasan Australia bisa berkembang seperti sekarang karena masyarakatnya rajin mengawasi dan mengkritik pejabat publik.
Jadi ketika ada pejabat yang mulai terlihat terlalu istimewa, terlalu pamer, atau terlalu menikmati fasilitas jabatan, publik langsung ribut.
Beda dengan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, di mana kadang masyarakat justru kagum kalau pejabat terlihat mewah.
Mobil makin banyak, pengawalan makin panjang, ajudan makin ramai, malah dianggap simbol kesuksesan.
Padahal pertanyaan sederhananya begini:
Kalau seseorang jadi pejabat untuk melayani masyarakat, kenapa semakin tinggi jabatannya justru semakin jauh dari kehidupan masyarakat biasa?
@staymyday KPop bernuansa rock selalu menarik sih, apalagi klo misalnya girl grup, jadi lumayan non mainstream.
Haha, iya lagu2 yg bernuansa fresh juga asiiikk. JYP girlgrup memang ga mengecewakan
Well, final Liga Champions tahun 99 juga bisa dibilang final dramatis pertama yg saya lihat.
Menginjak remaja, perlahan Premier League jadi primadona.
Ketika dewasa, udah masuk era Messi vs CR7.
Udah baca tabloid Bola sejak sekitar tahun 97, berlangganan juga.
Pertama kali ngikutin bola eropa itu di musim 97/98. Ronaldo vs Del Piero.
Serie A masih yg terdepan.
Piala Dunia 98 jadi PD pertama yg saya tonton. Udah ngerasa Brazil bakalan juara, eh ternyata engga.
Diantara 5 gambar tersebut, Ronaldo 2002 yg paling ikonik yg saya rasain
Belum lahir ketika Diego Maradona mengangkat Piala Dunia
Masih terlalu kecil untuk menikmati Eric Cantona, hanya kebagian sedikit
Tapi, cukup waktu buat menikmati the beauty of Serie A, perkembangan Liga Inggris era Kick n Rush hingga jd liga paling semarak di dunia
Coba ceritain pengalaman kalian dg sepakbola atau momen mana di antara gambar ini yg paling ikonik buat kalian
Suka banget progresnya Jean-Philippe Mateta yang dibangun dari divisi amatir.
2015/16
- Usia 18 tahun.
- Lagi main di Châteauroux B, divisi 5 Liga Prancis. Setara dengan liga amatir.
- Sebelumnya, Mateta rutin bermain di lapangan sepak bola mini publik di kota tempat kelahiran dan tinggalnya di Sevran, Prancis.
- Performa oke. Naik level ke Châteauroux inti.
- Mateta main di Championnat National, kasta ke-3 Liga Prancis.
- Performa meyakinkan di Châteauroux, sempat membuat Tottenham bahkan tertarik.
2016/17
- Usia 19 tahun.
- Pindah ke Lyon, tapi mengawali kiprahnya di tim B yang saat itu berada di kasta ke-4 Liga Prancis.
2017/18
- Usia 20 tahun.
- Dipinjamkan ke Le Havre. Mateta cukup gacor dengan mencetak 20 gol dari 38 pertandingan.
2018/19
- Usia 21 tahun.
- Pindah Bundesliga dan bermain di Mainz 05.
- Menjadi pemain dengan transfer termahal bagi Mainz 05.
2021/22
- Usia 24 tahun. Dipinjamkan ke Crystal Palace.
- Dianggap bagus dan cocok bagi tim, akhirnya dibeli sepenuhnya di musim 2022/23.
2022/23 - sekarang
- Makin jadi andalan Crystal Palace.
- Dipanggil Thierry Henry ke skuad Olimpiade 2024. Berhasil meraih medali perak.
- Di akhir musim 2024/25 berhasil meraih FA Cup!
- Kemudian di awal musim 2025/26 berhasil mendapatkan trofi Community Shield.
- Yang terkini: Masuk ke skuad Prancis di Piala Dunia 2026 DAN bersama Crystal Palace berhasil meraih trofi UEFA Conference League!
Sumber: Wikipedia Prancis
Bien joué, Mateta !
Pada uda nonton dokumenter Netflix terbaru belum? Yang judulnya Untold Uk: Jamie Vardy!
Gilak ya perjalanan hidup nya!
Bukan wonderkid, bukan jebolan akademi elit, bukan pemain yg diprediksi bakal jadi super star juga.
Kerja di pabrik, sambil main di Liga amatir. Pagi kerja, sore latihan, weekend tanding di lapangan ala kadarnya.
Ga ada spotlight. Ga ada media. Ga ada yang bilang dia calon legend.
Lucunya, di usia 25, yang katanya uda “telat” dia baru mulai karir pro.
Bayangin, di saat banyak orang umur 25 lagi quarter life crisis karena ngerasa ketinggalan dan semua sudah telat:
“Temen gue udah sukses.”
“Orang lain udah punya karier jelas.”
“Kayaknya hidup gue jalan di tempat.”
Vardy malah baru mulai!
Cerita dia mungkin relate dengan hidup gw dan mungkin lu yang baca ini juga. Soal timing hidup.
Kisah Jamie Vardy kayak reminder, kalau telat bukan berarti gagal.
Kadang hidup emang nyuruh kita main di “liga bawah” dulu. Kerja yang capek, karier belum jelas, duit pas-pasan, mimpi masih diketawain orang.
Tapi bukan berarti cerita kita selesai. Hidup bukan lomba siapa yang paling cepat sampai. Tetap percaya sama diri sendiri!
Dua tahun berturut-turut ada di kelas unggulan.
Memang cepet nyambungnya sih klo soal masuknya materi pelajaran, tapi kelas kami juga terbilang "paling berisik" 😂
kadang smart (dalam hal akademik) juga berasosiasi dengan "bandel"
Tapi saya ga pernah nge-crush dia 😂
udah puber saat itu,cuma memang waktu kelas 2 lagi ga naksir siapapun.
Singkat cerita, kita di SMA yang berbeda, bahkan dia di PTN ternama.
Years later, denger kabar doi udah menikah. Congrats for her👏
Sampai sekarang,blm pernah kontekan lagi
Salah satu kebijakan wali kelas saat itu, cowo-cewe duduk semeja.
Waktu kelas 2 semester (atau cawu? lupa euy) pertama, semeja dengan salah satu "bunga sekolah". Doi smart, keliatan lumayan berada, anak OSIS juga. Keturunan manado, jadi pastinya cantik.
dulu belum ada jaman komputer, jadi mainnya aktivitas outdoor di sekolah. misal sepakbola, benteng, gundu, gangsing, petak umpet, dan banyak lagi.
Precious childhood.
tiap senin pagi upacara bendera, jumat pagi SKJ.
sabtu biasanya ada pramuka, sampe bawa tongkat, wkwkwk
sebagian masih ingat dan jadi core memory, misalnya serunya olahraga outdoor sama temen, main gimbot pas jam istirahat, kemping pramuka di sekolah, dianterin ibu waktu masih awal2 sekolah, ngerasa sakitnya disuntik pas vaksinasi, minjem buku cerita yg ada di perpus, dll
- pernah semeja dengan teman yg secara wajah mirip, bedanya dia pake kacamata
- waktu ujian kelas IX, sistemnya semeja dengan kakak kelas. Masih inget dia ini cantik, sayang lupa namanya
- diajarin mtk sama wali kelas yg masih muda & gaul, jadinya saya suka mtk saat SMA