walaupun tumbuh tanpa peran ayah, aku sangat bersyukur krn masih ada mama, yang selalu ingetin aku buat jaga diri di lingkungan yang serba di normalisasikan ini🫶🏻
Pas aku lagi sakit tipus, pacarku tiap hari jenguk. Tapi ada satu malam di mana aku nggak bisa tidur sama sekali karena pusing. Sekitar jam 2 dini hari, aku bangun dan liat dia masih duduk di kursi sebelah kasur. Matanya merah, tapi dia tersenyum.
"Awasin kamu," katanya.
"Lama banget, kamu nggak tidur dari jam 8?"
"Iya. Takut kamu kenapa-kenapa."
Aku bilang, "Nggak usah, aku nggak kenapa-napa."
Diem sebentar. Lalu dia berdiri, ambil pulpen, dan nulis di punggung tanganku:
"KALAU BANGUN, CEPET TELEPON AKU. NOMOR 1 DI SPEED DIAL."
Aku ketawa. Tapi dalem hati aku nangis.
Besok paginya, dia beliin bubur ayam plus jus jambu. Padahal dia nggak tidur semaleman, tapi masih sempat lari pagi ke warjo langganan.
Sekarang kami udah nikah. Dan setiap kali dia kebangun tengah malam, dia masih nanyain aku dulu, baru tidur lagi.