9. Berani berkata "tidak."
Tidak semua kesempatan adalah rezeki.
Tidak semua ajakan harus diterima.
Fokus juga berarti berani menolak.
10. Mulai menabung pengalaman, bukan hanya uang.
Belajar.
Mencoba.
Gagal.
Bangkit.
Semuanya akan menjadi modal yang tidak bisa dicuri siapa pun.
7. Bangun hubungan yang sehat.
Pasangan yang tepat membuatmu berkembang.
Bukan membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
8. Berhenti mencari validasi.
Semakin dewasa...
Kamu akan sadar,
ketenangan jauh lebih berharga daripada pengakuan.
5. Berhenti membandingkan timeline hidupmu.
Ada yang menikah di usia 25.
Ada yang menemukan karier impiannya di usia 38.
Tidak ada lomba.
Yang ada hanyalah perjalanan yang berbeda.
6. Kurangi pengeluaran untuk gengsi.
Banyak orang terlihat kaya.
Sedikit orang benar-benar punya aset.
Jangan tertukar.
3. Jangan menunggu percaya diri.
Banyak orang berpikir:
"Nanti kalau sudah jago, baru mulai."
Padahal...
Orang yang jago justru karena berani mulai saat belum siap.
4. Belajar satu skill yang membuatmu dibayar lebih mahal.
Jangan hanya bekerja.
Naikkan nilai dirimu.
Karena perusahaan menggaji nilai yang kamu bawa, bukan seberapa sibuk kamu terlihat.
2. Mulai perlakukan kesehatan seperti investasi.
Tidur 7 jam.
Olahraga.
Makan makanan bergizi.
Medical check-up.
Tubuhmu di usia 35 adalah hasil keputusanmu di usia 26.
1. Berhenti mengejar semua hal sekaligus.
Karier.
Uang.
Pasangan.
Bisnis.
Healing.
Olahraga.
Kalau semuanya kamu kejar bersamaan, biasanya yang terjadi bukan sukses.
Tapi burnout.
Pilih satu prioritas utama setiap fase hidup.
ketua DPRD kota malang sedang memasak, waktu demo dia datangi mahasiswa dan denger aspirasi
bahkan dia juga resah dan mengajukan ke pemerintah pusat untuk segera
memberhentikan MBG
sudah di pastikan ibu ini
tidak punya satu pun atau sanak saudara
yang punya dapur SPPG
sehingga tidak ada kepentingan apapun
Untuk perempuan yang akhir-akhir ini sering merasa capek hidup, tapi tidak bisa menjelaskan alasannya kepada siapa pun…
Tidak apa-apa jika kamu sedang lelah.
Tidak apa-apa jika akhir-akhir ini kamu lebih sering diam, lebih mudah menangis, atau merasa kehilangan semangat untuk hal-hal yang biasanya kamu sukai.
Kamu tidak harus selalu terlihat kuat hanya karena semua orang terbiasa melihatmu baik-baik saja.
Aku tahu, ada banyak hal yang tidak bisa kamu ceritakan. Ada banyak perasaan yang bahkan kamu sendiri kesulitan menjelaskannya.
Jadi, jika hari ini yang bisa kamu lakukan hanya bertahan dan melewati hari dengan seadanya, itu sudah cukup.
Kamu tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Istirahatlah jika perlu. Menangislah jika ingin. Tidak semua luka harus segera sembuh, dan tidak semua lelah harus segera dijelaskan.
Semoga hal-hal yang membuatmu menangis diam-diam, perlahan diganti Allah dengan ketenangan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Dan semoga suatu hari nanti, kamu tersenyum lagi. Bukan karena terpaksa, tetapi karena hatimu benar-benar sudah lebih tenang.
Pelan-pelan saja, ya. Kamu sudah berjuang sejauh ini.
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” — Ir. Soekarno
“Pemimpin harus tegas dan mampu mengambil keputusan yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya di atas segalanya” — B. J. Habibie
"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu” — Gus Dur
“Yang nyinyir-nyinyir-nyinyir biar aja itu. Nyenyenyenye” — ….
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Kata Siapa Demo Tidak Ada Gunanya?
kata siapa gada hasilnya?
Coba tanya Soeharto.
coba baca sejarah sebentar
32 Tahun Berkuasa.
Jatuh dalam 3 Minggu.
Bayangkan ini:
Seorang pria memegang seluruh Indonesia selama tiga dekade lebih.
Militer di tangannya.
Media di bawah kendalinya.
Tidak ada yang berani melawan setidaknya, tidak terang-terangan.
Lalu datanglah anak-anak muda berjas almamater.
Tanpa senjat4.
Tanpa tentara.
Hanya suara, spanduk, dan nyali yang tidak muat di dada.
Yang Terjadi di Mei 1998
Empat mahasiswa Trisakti gugur ditemb4k.
Seharusnya itu membungkam yang lain.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya
jutaan orang makin berani.
Gedung MPR/DPR simbol kekuasaan tertinggi negeri ini dipadati massa.
Bukan tentara.
Bukan politisi.
Mahasiswa.
Dan pada 21 Mei 1998, pria yang selama 32 tahun tidak tersentuh itu duduk di depan kamera, lalu mengucapkan kata-kata yang tidak pernah ada yang percaya akan keluar dari mulutnya:
"Saya menyatakan berhenti..."
Ini Bukan Keajaiban. Ini Bukti.
Reformasi yang kamu nikmati hari ini kebebasan berpendapat, pemilu langsung, hak bersuara bukan hadiah dari penguasa.
Itu hasil dari orang-orang yang turun ke jalan dan tidak pulang sebelum didengar.
Demo mengubah sejarah.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Dan akan terus begitu
selama rakyat tidak memilih diam.