Setelah menjalani hidup single sekian lama, sejujurnya aku sudah sampai di titik ikhlas jika aku ternyata ditakdirkan untuk tidak bertemu jodohku di dunia, tapi mungkin di akhirat. I've made peace with that. Dan kalau dipikir-pikir, hidupku juga nggak menderita. Banyak mimpi-mimpiku yang alhamdulillah tercapai, banyak pula bahagia yang datang. Tapi, seseorang yang sudah ikhlas sendiri bukan berarti tidak merasa kesepian. Seseorang yang hidupnya bertabur bahagia bukan berarti merdeka dari rasa sepi. I'm happy, but I'm also lonely sometimes. Satu kesepian terbesar yang kurasakan adalah setiap orangtuaku sakit. Sendiri, aku harus memikirkan semuanya, mengatur semuanya. Terduduk di ruang IGD menunggui bapakku yang serangan jantung di satu malam, ada secuil andai-andai yang muncul: andai aku punya suami yang bisa membantuku dan menguatkanku. Berupaya kuat sendiri itu bukan sesuatu yang mustahil, tapi nggak mudah.
Momen-momen kesepian itu yang kuingat saat aku menulis #Satine. Momen di mana aku kadang bertanya-tanya: apakah seorang Ika Natassa berhak bahagia untuk semuanya kecuali urusan cinta? Apakah seorang aku memang tidak ditakdirkan untuk dicintai? Pertanyaan yang sebenarnya tidak ada gunanya.
Aku menulis #Satine untuk menjadi 'teman' dan 'cermin' bagi siapa pun yang pernah merasa kesepian. Tempat berkaca dan belajar berkawan dengan kesepian itu, karena justru dalam sepi, kita dimampukan untuk mengenal dan mencintai diri sendiri.
Novel #Satine sudah hadir di toko buku seluruh Indonesia.
Karena Desember kemarin ugal-ugalan mengeluarkan uang (ya meski bukan aku yang kerja π) jadi marilah Januari mengetatkan ikat pinggang.
Pertama, per 3 Januari ini aku menghukum diriku tidak jajan/makan di luar, maks 10 hari ke depan biar fokus ngabisin stok makanan di kulkas.
Pagi ini dengar kutipan yang sangat hebat dari seorang kawan ketika mendengar suaminya berselingkuh. βBukan siapa yang dia bawa pulang, tapi kemana dia harus pulangβ.