REKTOR ITB KE KOMISI X DPR:
KAMI CUMA DIBIAYAI APBN 18%, UKT 26%, SISANYA CARI SENDIRI!
INI KAMI SANGAT BERAT!
DI MALAYSIA, KAMPUS DIBIAYAI APBN 45%.
DI CHINA, 70-80%.
DI SINGAPURA, ANGGARANNYA 10x ITB, 50% DARI APBN.
KITA KAYA KAMPUS DI AMERIKA YANG CUMA 10% APBN.
Please allow me to repeat: "Negara ternyata bisa memberikan gaji sebesar 5,5 juta Rupiah bagi 'intern', tapi kenapa tidak bisa untuk guru (khususnya honorer)?"
cuma di indonesia.
Besar atau kecil transaksi.
biaya admin tetap sama Rp.2.500
— namanya tarif regresif
kita adalah bangsa yang besar,
dan Cuma di indonesia, transaksi 50.000 biaya adminya sama dengan transaksi 10.000.000.
bangsa yang besar your eyes.
1). Perbankan mempertahankan sistem biaya tetap ini karena alasan kemudahan operasional dan efisiensi administrasi internal.
2). Bagi pihak bank, setiap transaksi, berapapun nominalnya, tetap memakan sumber daya sistem yang sama, sehingga model biaya tetap dianggap sebagai mekanisme yang paling sederhana dan mudah untuk mengelola pemeliharaan infrastruktur pembayaran digital mereka.
—cc: @grok, menurutmu kita harus ganti kapolri tidak?—
3). Padahal, praktik ini menciptakan ketidakadilan ekonomi yang nyata karena membebani transaksi kecil secara tidak proporsional dibandingkan transaksi besar, yang dalam terminologi ekonomi dikenal sebagai biaya regresif.
4). Kebijakan ini menjadi hambatan bagi inklusi keuangan, di mana masyarakat kelas bawah yang melakukan transaksi bernilai kecil harus menanggung beban persentase biaya yang jauh lebih tinggi daripada nasabah dengan nilai transaksi besar.
5). Hal ini menciptakan subsidi silang yang terbalik dan mengabaikan prinsip kemampuan membayar yang seharusnya menjadi fondasi keadilan dalam sistem ekonomi.
6). Solusinya khilafah?
ya bukan lah wkwkwk
Sebagai solusinya, Indonesia sudah saatnya beralih ke model berbasis persentase, misalnya 0,1% per transaksi.
— Model ini sudah diterapkan di banyak negara untuk menjamin keadilan proporsional, seperti di Tiongkok yang menggunakan skema persentase untuk transaksi di atas kuota tertentu, atau standar biaya kartu kredit global yang menggunakan persentase untuk memastikan beban biaya selalu mengikuti nilai transaksi.
— Dengan beralih ke skema persentase, beban biaya akan selalu adil dan terukur bagi semua pengguna.
salam presisi.
@txtkaryawan@txtsambatwni@txtdemocrazy@txtdrmana
Menurutku ini cara pandang kekuasaan, dan tidak fair. Terlalu menyederhanakan persoalan menjadi sekadar kegagalan moral masyarakat. Seolah-olah Indonesia bisa dipahami hanya dari perilaku warga yang menjarah telur, padahal perilaku sosial tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh lingkungan, insentif, dan teladan yang diberikan oleh mereka yang memegang kekuasaan.
Kalau ingin konsisten, maka pertanyaannya bukan hanya mengapa warga menjarah telur, tetapi juga mengapa begitu banyak pejabat menjarah uang negara. Mengapa korupsi menjadi peristiwa yang nyaris rutin? Mengapa penyalahgunaan jabatan, nepotisme, jual beli proyek, dan impunitas terus berulang? Ketika orang-orang yang berada di puncak kekuasaan mempertontonkan bahwa mengambil yang bukan haknya bisa dilakukan tanpa konsekuensi yang setimpal, pesan moral yang sampai ke masyarakat menjadi sangat jelas.
Peristiwa di Purbalingga memang patut disesalkan. Namun menjadikannya bukti bahwa “rakyat Indonesia memang seperti itu” adalah bentuk generalisasi yang tidak adil. Dalam banyak kecelakaan lain, kita juga melihat warga bergotong royong menolong korban, mengatur lalu lintas, bahkan mengumpulkan donasi. Mengapa satu peristiwa dipilih untuk mewakili karakter rakyat, sementara ribuan tindakan baik diabaikan?
Jelas keliru masyarakat yg menjarah, tp melihat Indonesia hanya dari warga yang menjarah telur itu adalah cara pandang nggak tepat. Indonesia juga bisa dilihat dari pejabat yang menjarah anggaran, aparat yang menyalahgunakan wewenang, birokrasi yang mempersulit pelayanan, atau sistem politik yang lebih menghargai loyalitas daripada integritas. Semua itu membentuk budaya yang kemudian merembes ke bawah.
Lo semua pasti udah denger: 30 Juni 2026, Nadiem Makarim divonis 10 tahun penjara sama Pengadilan Tipikor Jakpus, kasus korupsi pengadaan Chromebook, kerugian negara Rp1,56 triliun.
Tapi sebelum lo simpulin apa-apa, gue ajak bedah utuh 5 tahun kepemimpinannya di Kemendikbudristek.
Data dulu, opini belakangan
3 NARASI REZIM UNTUK NGIBULIN KITA
1. Populisme
Kami ini (Prabowo) adalah yang paling merakyat
Maka para pengkritik adalah antek asing bayaran
2. Prabowo adalah seorang bapak sosialisme Indonesia
Para pengkritiknya pasti kaum borjuis.
Sejak kapan, melawan sebagian orang kaya tertentu (dan memelihara hubungan dengan orang kaya lain) adalah sosialisme? 😜
3. Mistifikasi bahwa yang kami lakukan ini adalah hal yang benar (demi rakyat) dengan cara benar. Tidak mungkin kami mengkhianati rakyat.
Nah ...
Ini sudah sering kan kita dengar?
Semoga paham
ERA NADIEM GURU DAN DOSEN ITU DIBUAT SULIT HIDUPNYA.
CPNS GURU HILANG, DIGANTI JADI PPPK GURU. ALIAS HAK GURU DIRAMPAS.
TUKIN DOSEN, TIDAK DIBAYAR
HAK DOSEN DIRAMPAS.
DOSEN DIPECAH BELAH, DENGAN ADANYA STATUS PPPK DOSEN.
MASIH PADA BELAIN NADIEM?
DIH.
Pakar Tata Negara Feri Amsari:
MAKANYA NEGARA ITU BEKERJA PAKE OTAK!!!
Ini Koperasi latihannya latihan militer.
Ini logikanya gak ketemu.
INI KELALAIAN NEGARA!
@albiceleste_id Prtma kali suka argen krna ad batigol dsna. Heran jg ancur2an maennya argen pas itu. Scara bielsa scara tktik sdh by sistem yg zmn itu kurng populer. Hrsnya works jk meliht byk pmain brbkat dsna. Kbrnya ruang gnti jg kurang hrmonis. veron-ortega katnya gak saling sapan sejk 98
"Terus yang Kedua, " kata guru honorer yang ikut berorasi di tengah demonstrasi mahasiswa,
"Saya pingin tanya ke temen-temen (mahasiswa) dan ke bapak (pejabat + pemilik dapur SPPG)... "
"Tugas Utama dari seorang guru itu apa pak?"
"Mengajar?! Kok waktu saya di sekolah habis untuk ngurusin Ompreng?" Tanya pak guru dengan satir.
(((Huaa))) Mahasiswa bersorak, pejabat dan polisinya mingkem.
Aneh melihat orang yg gagal membuktikan kapasitasnya di ruang ganti merasa paling berhak menguliahi klub sebesar Barcelona soal cara membangun tim. Mungkin itulah alasan kenapa banyak mantan pemain Inggris berakhir menjadi pundit, sementara pelatih-pelatih Spanyol justru datang ke Inggris untuk memenangkan liga, mengangkat trofi, dan mengubah standar sepak bola mereka.
Mengkritik Anthony Gordon bahkan sebelum ia menjalani satu pertandingan bukanlah analisis, tapi itu opini murahan yg dijual untuk mencari perhatian. Jika penilaian pemain semudah itu, klub-klub elite tdk perlu memiliki departemen scouting, data analyst, dan staf teknis yg bekerja sepanjang tahun.
Sepak bola modern tidak menghargai siapa yang paling lantang di depan mikrofon. Ia menghargai mereka yang mampu membuktikan idenya di pinggir lapangan. Dan sejarah beberapa tahun terakhir sudah menjawab dengan jelas: pelatih Spanyol memimpin klub-klub terbesar, sedangkan sebagian pundit Inggris hanya menjadi komentator yang mengkritik keputusan orang-orang yang jauh lebih sukses daripada mereka.