Walau dia ga di dalem lagi, ferry tau banget daleman kemenkeu. Gw gabisa ngomong lebih jauh, tapi biar orang2 lain yg lebih paham dan ngulik2 itu yg akan menjabarkan kebenaran
Gw menduga penjatuhan nama Menkeu kemarin dan Wamenkeu saat ini masih ada benang merahnya
Awal belajar hubungan antara Output, Outcome, dan Impact,
Diajari :
- Output = Barang/Jasa dihasilkan
- Outcome = Hasil dari berfungsinya Output
- Impact = Dampak jangka panjang dari berfungsinya Output.
Dicontohkan :
- Output = membangun sekolah
🧵
Postingan Pandawara awal-awal:
“Kalau negara gak mau bersihin sampah, biar kami yang bersihin!!”
Postingan Pandawara sekarang:
“Kok warga kita gini…”
Semua orang yg udah turun ke lapangan dan ketemu warga langsung pasti sangat-sangat relate 😅
@BBCIndonesia Inilah efek dari mengkultuskan tokoh agama yg notabenenya hanya manusia. Masih punya nafsu ( gak kontrol diri ), msh punya salah, tapi dianggap sbg orang suci. Berbuat kejahatan pun msh ttp dipuja.
Dulu aku memilih marah dan confront langsung ketika menghadapi jokes pelecehan seksual.
Tp seringkali dibalikin, "bercanda doang kali".
Sekarang, aku pilih biar mereka merasa malu sama pikiran mereka sendiri.
Hari ini ke Tateyama Kurobe di Japanese Alps, cukup malu melihat sebuah papan pengumuman yang khusus ditujukan kepada pengunjung INDONESIA
Isinya mengatakan bahwa camper Indonesia bawa banyak leftover food, sampah, berisik sampai tengah malam, dan lain-lain
Tolong lah ya teman2 yang berkunjung untuk menjaga adab saat camping 🙏
Handai Tolan, inilah dampaknya kalau setiap peristiwa peracunan tidak ada pihak kubangan lumpur (SPPG)—baik itu Kepala, Ahli Gizi, mitra, ataupun yayasan (pemilik), yang DIPIDANA, meskipun korbannya hampir selalu menyentuh angka RATUSAN.
Nyantai, ayem, bahkan PLAYING VICTIM.
Saya sampaikan di TV One, jika ada tambahan anggaran kebencanaan, mitigasi dan kesiapsiagaan perlu menjadi prioritas utama karena investasi sebelum bencana jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penanganan setelah bencana terjadi. Anggaran perlu diarahkan untuk pemetaan risiko, penguatan infrastruktur dan fasilitas publik, sistem peringatan dini, jalur serta tempat evakuasi, edukasi dan simulasi masyarakat, peningkatan kapasitas BPBD, serta penguatan komunikasi risiko hingga ke tingkat paling bawah. Tujuannya bukan mencegah semua bencana, karena bahaya alam tidak dapat dihentikan, tetapi mencegah bahaya alam berkembang menjadi bencana besar dengan korban dan kerugian yang besar. Dengan kata lain, setiap rupiah yang dibelanjakan sebelum bencana adalah investasi untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi biaya pemulihan yang jauh lebih mahal setelah bencana.
FITNAH HAARP: Menguji Secara Ilmiah Klaim bahwa HAARP Dapat Memicu Gempa, Tsunami, dan Erupsi Gunung Api.
Oleh Dr. DARYONO, angota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)
Pendahuluan: Ketika Teknologi Nyata Diberi Kemampuan yang Tidak Nyata: HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program) mrpkn fasilitas penelitian ilmiah yg nyata.
Fasilitas ini berada di Gakona, Alaska, Amerika Serikat, dan digunakan utk mempelajari sifat serta perilaku ionosfer, yaitu bagian atmosfer atas yg mengandung ion dan elektron bebas serta berinteraksi kuat dengan radiasi Matahari dan gelombang radio.
Instrumen utamanya, Ionospheric Research Instrument (IRI), terdiri atas 180 antena radio HF yg tersusun sebagai phased array dan mampu memancarkan daya radio hingga sekitar 3,6 MW ke ionosfer. HAARP memang menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi untuk memberikan gangguan kecil dan terkontrol pada plasma ionosfer, kmd mengamati responsnya.
Justru karena HAARP adalah teknologi nyata, memiliki pemancar berdaya tinggi, dan pada sejarah awalnya dikembangkan bersama unsur militer Amerika Serikat, fasilitas ini kemudian menjadi objek berbagai teori konspirasi.
Dalam narasi tersebut, HAARP dituduh mampu mengendalikan cuaca, memicu gempa bumi, menghasilkan tsunami, memicu letusan gunung api, bahkan menciptakan berbagai bencana alam.
Persoalannya bukan apakah HAARP benar-benar ada, HAARP memang ada, melainkan apakah kemampuan luar biasa yg dituduhkan kepadanya sesuai dengan hukum fisika dan bukti observasional. Di sinilah persoalan tersebut harus dikembalikan dari ranah spekulasi ke ranah sains.
HAARP Memang Pernah Dikembangkan Militer, tetapi Itu Bukan Bukti sebagai Senjata Bencana: Ada satu fakta yg harus diakui secara jujur: HAARP memang memiliki sejarah keterlibatan militer. Program ini dimulai pada 1990 dan hingga 2014 dikelola bersama oleh U.S. Air Force dan U.S. Navy, antara lain utk memperluas pengetahuan mengenai ionosfer dan pengaruhnya terhadap propagasi gelombang radio, komunikasi, serta sistem navigasi. Namun, pada 11 Agustus 2015, fasilitas dan peralatan HAARP secara formal dialihkan dari militer kepada University of Alaska Fairbanks (UAF) untuk kepentingan penelitian dan lab mahasiswa.
Fakta historis tersebut penting, tetapi tidak boleh mengalami logical leap: “pernah dikembangkan oleh militer” tidak sama dengan “merupakan senjata yang mampu menciptakan bencana alam.”
Banyak teknologi fundamental memang memiliki sejarah pengembangan militer krn negara membutuhkan teknologi komunikasi, radar, navigasi, dan pengamatan atmosfer. Status sebagai proyek yg pernah melibatkan militer TIDAK OTOMATIS MEMBUKTIKAN SEMUA KEMAMPUAN YANG KEMUDIAN DILEKATKAN KEPADANYA.
Dalam ilmu pengetahuan, kemampuan sebuah alat harus dibuktikan berdasarkan mekanisme fisik, besaran energi, lokasi interaksi, hasil eksperimen, dan reproduktibilitas, bukan berdasarkan siapa yang pernah membiayai atau mengembangkan teknologi tersebut.
Apa Sebenarnya yang Dilakukan HAARP?: Untuk memahami persoalan ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya disentuh oleh HAARP. HAARP tidak bekerja dengan memancarkan energi ke dalam kerak Bumi. Sasaran eksperimennya adalah ionosfer, yg berada kira-kira mulai 60–80 km hingga lebih dari 500 km di atas permukaan Bumi. Gelombang radio HF dari HAARP berinteraksi dengan elektron bebas di ionosfer dan dapat menghasilkan perturbasi plasma yang kecil, lokal, sementara, serta dapat dikontrol waktu dan lokasinya.
Inilah salah satu sumber kesalahpahaman paling besar. Pernyataan “HAARP dapat memanaskan ionosfer” adalah benar secara ilmiah. Tetapi pernyataan “karena dapat memanaskan ionosfer maka HAARP dapat memanaskan kerak Bumi, menggerakkan sesar, atau memicu gunung api” adalah LOMPATAN KESIMPULAN YANG TIDAK MEMPUNYAI DASAR MEKANISME FISIKA, ALIAS SESAT PIKIR.
Dalam sains, kemampuan untuk memengaruhi suatu sistem pada skala tertentu tidak berarti kemampuan untuk mengendalikan sistem lain yang berbeda secara fundamental.
HAARP dan Gempa: Di Mana Mekanisme Fisiknya? Gempa tektonik terjadi ketika tegangan yg terakumulasi pada kerak bumi dan bidang sesar akhirnya melampaui kekuatan gesek atau kekuatan stress batuan sehingga terjadi slip secara tiba-tiba. Energi gempa berasal dari energi elastik yg telah tersimpan dalam sistem kerak Bumi akibat deformasi tektonik selama waktu yg panjang.
Pergerakan lempeng secara perlahan membangun tegangan pada zona sesar; ketika tegangan tersebut mengatasi friksi, terjadi pelepasan energi dlm bentuk gelombang seismik.
Pertanyaannya kemudian sangat sederhana tetapi fundamental: bagaimana energi radio HAARP di ionosfer dapat ditransfer menjadi energi mekanik pada bidang sesar di dalam kerak Bumi sehingga menyebabkan rupture tektonik?
Sampai saat ini tidak terdapat mekanisme fisika yang telah terbukti untuk menjelaskan rantai sebab-akibat tersebut. HAARP bekerja melalui interaksi gelombang radio dgn plasma di ionosfer, sedangkan gempa tektonik merupakan proses mekanik-geologi yg berlangsung pada batuan kerak Bumi. Kedua sistem tersebut berada pada lingkungan fisik, mekanisme energi, dan skala yg sangat berbeda.
Karena itu, klaim bahwa HAARP dapat menciptakan gempa bukan sekadar persoalan “belum terbukti”; persoalannya lebih mendasar: mekanisme fisik yg diperlukan untuk menghubungkan kedua proses tersebut tidak ditunjukkan oleh bukti ilmiah.
Kalau HAARP Bisa Mengubah Ionosfer, Mengapa Tidak Bisa Mengubah Bumi?: Jawabannya terletak pada skala energi dan mekanisme interaksi. HAARP memang mampu menghasilkan perturbasi plasma ionosfer. Bahkn fasilitas tersebut sengaja dirancang agar ilmuwan dapat menciptakan gangguan kecil yg dapat diulang sehingga respons ionosfer bisa dipelajari secara eksperimental. Namun perubahan tersebut terjadi pada lingkungan plasma yg sangat berbeda dari batuan padat di kerak Bumi.
Sebuah analogi sederhana dapat digunakan. Kita dapat menggunakan pemanas listrik untuk menaikkan suhu air dalam sebuah gelas. Tetapi kemampuan MEMANASKAN AIR DALAM GELAS TIDAK BERARTI ALAT TERSEBUT MAMPU MEMANASKAN SELURUH SAMUDRA (CATAT !).
Yang menentukan bukan hanya apakah energi tersedia, tetapi bagaimana energi tersebut ditransfer, ke mana energi tersebut masuk, berapa besar energi yg dibutuhkan, dan apakah medium memungkinkan terjadinya proses tersebut. Dalam geofisika, pertanyaan seperti itu bukan tambahan kosmetik. Itulah inti pembuktian ilmiah.
HAARP Tidak Memiliki Mekanisme untuk Menghasilkan Tsunami: Tsunami besar umumnya membutuhkan perpindahan massa air secara tiba-tiba dalam skala besar. Salah satu mekanisme paling penting adalah deformasi dasar laut akibat gempa tektonik, meskipun tsunami juga dapat disebabkan oleh longsoran bawah laut dan sumber lainnya.
Jika seseorang menyatakan HAARP menyebabkan tsunami, maka harus dijelaskan rantai mekanismenya:
HAARP → perubahan ionosfer → perubahan kerak Bumi → rupture sesar bawah laut → deformasi dasar laut → perpindahan massa air → tsunami.
Masalah ilmiahnya muncul pada mata rantai pertama hingga keempat. Tidak ada mekanisme yg telah ditunjukkan bhw perturbasi ionosfer yg dihasilkan HAARP dapat menghasilkan deformasi tektonik bawah laut dalam skala yg diperlukan utk membangkitkan tsunami.
Dengan demikian, menghubungkan HAARP dgn tsunami bukanlah sekadar klaim yg kekurangan data; klaim tersebut harus terlebih dahulu menemukan mekanisme fisika yg mampu menjembatani dua sistem yg sangat berbeda tersebut. Ini konsep sains yg sahih, jika anda tidak percaya, tidak ada masalah bagi saya.
HAARP dan Gunung Api: Ionosfer Bukan Dapur Magma. Hal serupa berlaku terhadap gunung api. Sistem vulkanik dikendalikan oleh proses di dlm kerak dan mantel atas, termasuk pergerakan magma, tekanan fluida dan gas, perubahan tekanan, rekahan batuan, serta kondisi sistem magmatik.
Erupsi dpt berlangsung sangat eksplosif karena energi dan volatil yang tersimpan dlm sistem magma. Namun tidak ada bukti bhw gelombang radio HAARP dpt mentransfer energi ke dapur magma dalam cara yg dapat meningkatkan tekanan magmatik hingga menyebabkan erupsi.
Dengan kata lain, mengubah kondisi plasma di ionosfer bukan berarti mengubah tekanan magma puluhan kilometer di bawah permukaan Bumi.
Keduanya sama-sama merupakan bagian dari sistem Bumi, tetapi secara fisik bukan berarti keduanya dapat dikendalikan oleh sumber energi yang sama (CATAT!).
Mengapa Teori HAARP Tetap Bertahan?: Teori semacam ini tidak hanya muncul di Indonesia. HAARP telah berkali-kali dikaitkan dengan bencana di berbagai negara.
Salah satu faktor yang membuat narasi ini bertahan adalah adanya kombinasi antara TEKNOLOGI YG BENAR-BENAR NYATA, SEJARAH MILITER YG BENAR-BENAR ADA, ISTILAH ILMIAH YG SULIT DIPAHAMI MASYARAKAT, DAN TERJADINYA BENCANA ALAM YG SECARA PSIKOLOGIS MEMBUTUHKAN PENJELASAN SEBAB-AKIBAT YANG SEDERHANA.
Di sinilah fenomena conspiracy thinking bekerja. Sebuah kejadian besar dan menakutkan sering mendorong manusia mencari penyebab yg juga besar dan terencana. Ketika masyarakat mengetahui bhw ada fasilitas pemancar radio berdaya tinggi milik Amerika Serikat, fasilitas tersebut mudah dijadikan “tersangka” untuk berbagai fenomena yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kausal dengannya.
Masalahnya, korelasi waktu bukan bukti kausalitas. HAARP beroperasi dan kemudian terjadi gempa tidak membuktikan HAARP menyebabkan gempa. Untuk membuktikan kausalitas harus ditemukan mekanisme, pola hubungan yg konsisten, prediksi yang dapat diuji, serta bukti independen yang dapat direplikasi.
Cara Paling Ilmiah Membantah Mitos HAARP: Membantah teori HAARP dengan mengatakan “itu hanya hoaks” sebenarnya kurang kuat. Cara yang lebih ilmiah adalah mengajukan uji mekanisme.
Pertanyaan PERTAMA: dari mana energi bencananya berasal?
Pertanyaan kedua: bagaimana energi tersebut ditransfer dari ionosfer menuju kerak Bumi?
Pertanyaan KETIGA: mekanisme fisik apa yg membuat bidang sesar mengalami peningkatan tegangan akibat gelombang radio HAARP?
Pertanyaan KEEMPAT: mengapa hubungan tersebut tdk terlihat secara konsisten dalam data geofisika?
Pertanyaan KELIMA: apakah hipotesis tersebut dapat menghasilkan prediksi yg dpt diuji dan gagal maupun berhasil secara objektif?
Inilah perbedaan fundamental antara sains dan spekulasi. Sains tidak bertanya hanya “mungkinkah?”, tetapi bertanya “melalui mekanisme apa, dgn energi berapa, pada medium apa, dan apakah dapat dibuktikan secara observasional?”
Kesimpulan: HAARP Nyata, tetapi “Senjata Bencana” Tidak Terbukti. HAARP adalah fasilitas ilmiah yg nyata. HAARP menggunakan pemancar radio HF berdaya tinggi utk melakukan eksperimen terhadap ionosfer.
HAARP mmg memiliki sejarah keterlibatan militer dan pernah digunakan untuk penelitian yg berkaitan dgb kepentingan komunikasi dan pertahanan. Namun fasilitas tsb kmd dialihkan kepada University of Alaska Fairbanks dan digunakan sbg fasilitas penelitian ilmiah.
Yang tidak memiliki dasar ilmiah adalah LOMPATAN KESIMPULAN bahwa karena HAARP nyata, berdaya tinggi, dan pernah dikembangkan militer, maka HAARP otomatis mampu menciptakan gempa, tsunami, erupsi gunung api atau mengendalikan cuaca. TIDAK DEMIKIAN CARA KERJA SAINS.
Sebuah klaim tentang kemampuan teknologi harus dibuktikan melalui mekanisme fisika, keseimbangan energi, hubungan sebab-akibat, observasi dan eksperimen yang dapat direplikasi.
Dalam kasus HAARP, kemampuan yang terbukti adalah melakukan eksperimen terhadap ionosfer. Sementara kemampuan HAARP untuk mengendalikan proses tektonik, vulkanik, tsunami, atau cuaca ekstrem tidak didukung oleh mekanisme fisika dan bukti ilmiah yang kredibel.
Publik tidak perlu panik terhadap HAARP dan tidak perlu menghabiskan energi untuk mencari-cari hubungan antara HAARP dengan setiap gempa, tsunami, atau erupsi gunungapi.
HAARP memang fasilitas nyata dan memang dapat memberikan gangguan kecil yg terkontrol pada ionosfer, tetapi fungsi tsb berbeda secara fundamental dengan proses yang menghasilkan gempa tektonik, tsunami, erupsi gunungapi, maupun cuaca.
Bahkan pengelola HAARP secara eksplisit menjelaskan bahwa GELOMBANG RADIONYA TIDAK BERINTERAKSI SECARA SIGNIFIKAN DENGAN TROPOSFER DAN STRATOSFER TEMPAT SISTEM CUACA BERLANGSUNG.
Jadi sayangilah diri anda, jangan sakiti dengan berilusi liar. Berbanggalah dengan akal dan pikiran pemberian Tuhan. Jangan takut kepada HAARP, takutlah pada ketidaksiapan kita menghadapi bencana yang memang nyata di depan mata kita.***
Bahkan ada yg dengan sadar utang ke bank syariah, dijelaskan akadnya gimana dan setuju. Angsuran berjalan beberapa tahun, trus karena sulit ekonomi jadi pembayaran agak seret
Trus ngide sepulang pengajian kalo "utang 1 rupiah harus dibayar 1 rupiah, kalo lebih itu riba!". Dia itung pokok pinjaman dia dengan total cicilan. Trus ke bank, maunya lunasin angka yg dia itung
Loh ya gabisa dong
Trus gamau bayar bank, katanya riba
Bank syariah, akadnya jual beli, riba
🫠
"Bukannya sama-sama ngurus gempa?” 👀
Eits, BMKG dan PVMBG punya tugas dan fungsi yang berbeda, lho.
Swipe untuk tahu siapa melakukan apa, dan pastikan kamu nggak salah sumber informasi. 👉
#InfoBMKG#BelajarBarengBMKG#PVMBG
Kandungan racun MBG yang di konsumsi ratusan siswa di Berastagi.
Ironis, ternyata bukan hanya ikan yang terkandung bakteri tapi juga buah melon serta Nasi yang dikonsumsi anak anak juga terkandung bakteri.
Anehnya hasil pemeriksaan ini yang keluar pada tanggal 16 Agustus 2026 lalu ini tidak pernah dipublish oleh Pemkab Karo dan BGN.
Kenapa kalian tutupi fakta ini??
Belum pernah ketemu ya Bang,
Sekolah yang murid mau lomba dipersulit?
Lomba yang difasilitasi, cuma yang diselenggarakan Dinas.
Ehh, bocah jadi Juara, sekolah make foto anak, buat promo..
Gini lur, mbah Rono ini kepakaranyya ga usah diragukan lagi, apalagi terkait vulkanologi.
Yg dikatakan beliau itu benar. Energi letusan anak Krakatau tidak mampu memicu tsunami sebesar tsunami 1883 (ibu Krakatau).
Erupsi Krakatau skrng juga sangat sulit membangkitkan tsunami seperti tsunami 2018, karena saat ini, tubuh gunung volumenya "relatif kecil", ga ada yg bisa di longsorkan seperti saat anak Krakatau erupsi 2018 lalu.
Karena apa? Ya karena tubuh gunung Anak Krakatau ini sebagian besar sudah dilongsorkan semua pada 2018 lalu (istilah ilmiahnya adalah "flank collapse"). Letusan yg skrng tidak akan memicu longsoran besar, karena material longsorannya (yaitu tubuh gunung) udah ga ada
Lihat aja skrng Anak Krakatau pendek bgt kan.
Soo jangan panik dan berlebihan terus nyebarin hoak sana sini seolah semua gunung di Indo akan meletus, seolah Anak Krakatau akan meletus sehebat ibuknya, seolah pasti akan terjadi tsunami seperti 2018.
Waspada boleh, lebay jangan, pantau secukupnya, pakai masker, jalani kehidupan seperti biasa. Alhamdulillah abunya mostly ke arah samudra Hindia kok
BARU, FRESH FROM OVEN !!
Perkembangan Aktivitas Gunung Anak Krakatau 7 September 2026, pukul 06.00 WIB
Dengan hormat, dilaporkan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai berikut:
Kondisi terkini
Episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah itu, aktivitas kembali berupa erupsi strombolian yang merupakan karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini.
Hasil pemantauan
Pada periode 6–7 September 2026 teramati erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam setinggi maksimum 300 meter di atas puncak. Secara instrumental terekam 3 kali gempa erupsi, 62 kali gempa hembusan, 54 kali gempa harmonik, 174 kali gempa frekuensi rendah, 198 kali gempa hybrid/fase banyak, serta kegempaan vulkanik lainnya.
Energi aktivitas vulkanik berdasarkan nilai RSAM sempat meningkat pada 5 September 2026, kemudian menurun kembali pada 6 September 2026. Data deformasi belum menunjukkan perubahan signifikan yang mengindikasikan peningkatan tekanan secara cepat.
Evaluasi
Berakhirnya erupsi menerus dan kembalinya pola erupsi strombolian untuk sementara diinterpretasikan sebagai berakhirnya satu episode erupsi menerus. Namun, dinamika aktivitas vulkanik masih tinggi dan kemungkinan terjadinya erupsi kembali dalam waktu dekat masih tetap ada.
Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Status dan rekomendasi
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, dan pelaku pelayaran tidak diperbolehkan memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang. Aktivitas erupsi saat ini tidak memicu tsunami, sehingga masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti informasi resmi dan arahan pemerintah daerah.
Tindak lanjut
Badan Geologi melalui PVMBG terus melakukan pemantauan intensif secara visual dan instrumental. Status serta rekomendasi akan segera dievaluasi apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Demikian dilaporkan.
Kepala PVMBG
Telah terjadi erupsi G. Anak Krakatau, Lampung pada tanggal 06 September 2026 pukul 20:23 WIB namun tinggi kolom abu erupsi tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi ± 44 detik.
Saat ini G. Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi:
Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.
SUMBER DATA
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
@xendless_s Ya mau Quran, mau music horeg, mau campursari, intinya kalau di ruang public ya harus consider sama yg lain.
Memang kita pejabat pemerintah yang bisa otomatis tidak mendengar rakyatnya?
Common sense.