Jadi meninggalnya korban commuter line itu akibat dari serentetan random tai babi situation
Ada perlintasan gak resmi, tapi pas mau ditutup sama pemda, ada ormas tai babj yg nolak, lalu pemdanya juga tai babi gak mampu ngatasin tekanan ormas tai babi
Lalu ada sopir tai babi dari armada tai babi melintas di lintasan tai babi, lalu ditabrak oleh kereta, kemudian sangking tai babinya, taxi ini menolak diderek oleh KAI karena kebijakan manajemen armada taksi tai babi bilang kalo gak diderek oleh derek dari perusahaan tai babi, itu duit derek keluar dari sopir tai babi itu.
Dan sialnya sinyal kereta api pagi tai babi sehingga KA antar kota menabrak Commuter line yg terpaksa menunggu akibat tai babi tai babi di atas.
Gue kalo jadi keluarga korban sih akan ngamuk pol
Libur telah usai, saatnya kembali ke rutinitas esok hari dengan energi baru penuh semangat, jangan lupa panjatkan doa dan rasa syukur untuk kelancaran aktivitas esok hari. Selamat malam dan beristirahat #RekanCommuters
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Guys update terbaru dari Reuters dan ini makin menarik.
Perang sudah masuk minggu ketiga.
Brent crude sekarang di atas 104 dolar.
Dubai airport sempat ditutup karena drone serang tangki bahan bakar.
Saudi Arabia intersep 34 drone dalam satu jam.
Dan Trump masih minta koalisi untuk jaga Hormuz.
Hasilnya?
Jepang bilang tidak ada rencana kirim kapal.
Australia bilang tidak diminta dan tidak akan berkontribusi.
China belum jawab.
EU mau rapat tapi tidak akan putuskan apa-apa soal Hormuz hari ini.
Korea Selatan bilang akan dikaji dengan hati-hati yang artinya juga tidak.
Tapi ini yang paling menarik dari ini.
Iran bilang satu kalimat yang sangat tegas.
Mereka tidak pernah minta gencatan senjata.
Tidak pernah minta negosiasi.
Dan siap bertahan selama apapun yang diperlukan.
Sementara Trump bilang Iran mau negosiasi.
Menteri Luar Negeri Iran langsung bantah itu di TV nasional Amerika sendiri.
Dua narasi yang berlawanan.
Di panggung yang sama.
Dan ini yang harus lo perhatikan sebagai orang Indonesia.
Pasokan jet fuel mulai jadi masalah.
Vietnam sudah warning industri penerbangannya bersiap untuk pengurangan penerbangan mulai April karena China dan Thailand sudah stop ekspor jet fuel akibat perang ini.
Dubai, Doha, Abu Dhabi masih terganggu.
Ribuan penerbangan dibatalkan.
Puluhan ribu penumpang terdampar.
Stok BBM Indonesia 20 hari.
Dan pejabat Amerika dengan santai bilang perang ini akan selesai dalam beberapa minggu dan harga minyak akan turun setelahnya.
Tapi Iran bilang mereka siap bertahan selama yang diperlukan.
Salah satu dari dua pihak ini berbohong.
Atau keduanya salah perkiraan.
Dan selama mereka masih saling tembak yang menanggung bukan Trump.
Bukan Netanyahu.
Bukan Khamenei.
Yang menanggung adalah 140 juta orang Indonesia yang hidupnya bergantung pada harga BBM, harga barang, dan ekonomi yang sekarang sudah tertekan dari segala arah.
Tujuh negara sudah dikontrak Trump untuk diajak bicara soal koalisi.
Tidak ada yang mau.
Dan Iran masih di sana.
Siap.
Gw mau lo baca ini pelan pelan.
Pak Purbaya bilang kalau anggaran kurang, pilihannya cuma dua. Geser anggaran pembangunan atau BBM naik. Yang tidak akan digeser adalah anggaran Makan Bergizi Gratis.
Sekarang gw mau kita hitung bareng.
Anak sekolah dapat makan gratis 10 ribu per hari.
Tapi BBM naik harga logistik naik. Harga logistik naik semua harga barang di pasar naik. Bahan makanan naik. Ongkos transport naik. Tagihan listrik naik.
Satu keluarga bisa keluar tambahan ratusan ribu per bulan karena efek domino BBM naik.
Tapi anaknya dapat makan gratis 10 ribu per hari.
Jadi pemerintah dengan bangga kasih 10 ribu ke anak lo di sekolah sementara mereka ambil jauh lebih besar dari meja makan keluarga lo di rumah.
Dan ini dikemas sebagai kebijakan pro rakyat.
Yang lebih bikin gw geleng geleng ini bukan kebodohan. Ini kalkulasi.
Karena makan gratis itu kelihatan. Bisa difoto. Bisa dijadiin konten. Bisa dijadiin legacy program.
Tapi dampak BBM naik itu tersebar. Gak kelihatan langsung. Gak ada yang foto ibu rumah tangga yang diem diem ngurangin lauk karena harga naik.
Mereka tau persis mana yang akan diingat publik.
Dan mana yang akan ditelan diam diam.
Lucunya kalo liat timeline presiden kita:
- ga ngucapin Ramadhan
- ga ngucapin belasungkawa ke Khamenei (padahal sesama kepala negara)
empati nol, diplomasi nol
nilai 11/100
Pantes aja orang tiktok & ig ngatain orang twitter khayal. Emang banyak yg gak napak tanah. Dunia twitter tuh dunia ide, kalo mau lihat realitas dunia lewat sosmed masih mending ke tiktok aja. Aplikasi yg kalian bilang kandang monyet itu, will slowly making you understand how complex being a human, and how cruel life could be.
Sejak dulu saya paham kalo memperkerjakan anak di bawah umur itu ilegal. Sampe skrg saya punya stance yg sama. Tulisan ini pun bukan sebagai pembenaran eksploitasi anak. Tapi tahu gak? Dunia gak akan langsung bisa menjadi lebih baik hanya karena kamu punya kompas moral diatas orang lain.
Saya ngajar di lereng gunung dengan profil sosioekonomi masyarakat yg rentan miskin. Murid SMP saya banyak yg gak lanjut ke SMA/SMK karena mereka harus berjuang hidup. Lulus SMP di usia 15-16 tahun mereka udah kerja.
Gak perlu nunggu lulus. Tiap musim tani, para guru sering dapat izin "bu, besok saya izin gak masuk karena bantu ayah ponjo kubis." Atau bikin lanjaran, atau ikut borongan nebas tebu. Bangun sebelum subuh jadi kuli panggul di pasar. Ikut kerja di pabrik kerupuk rumahan. Any kind of job that they can find. Akhirnya di sekolah ngantuk, gak semangat, sering izin.
Mau marahin pemilik modal karena memperkerjakan murid saya yg umurnya 12-15thn jg gak bisa. Di mata roda ekonomi, pemilik modal dan murid saya memang saling membutuhkan.
Marahin keluarga murid karena membiarkan anaknya di bawah umur bekerja? It's actually not simple as you think guys. Banyak orang tua yg deep down gak rela ngelihat anaknya bekerja, tapi mereka jg gak bisa berbuat banyak karena impitan ekonomi.
Anak umur 13 tahun yg bangun jam 4 pagi buat bantu di pasar itu mungkin di timeline kalian keliatan kayak korban sistem. Tapi di rumahnya, murid saya mungkin merasa sedang jadi bagian dari solusi keluarga. Banyak dari mereka sebenarnya bukan dipaksa. Mereka tahu kondisi keluarganya sampe ikut turun tangan sebisanya.
Kadang orang di internet ngomongnya gampang banget “eksploitasi anak nih”
That's actually a very valid reason to be angry. Secara hukum dan secara moral, memang salah.
Tapi ketika kamu benar-benar hidup di lingkungan seperti ini, kamu mulai sadar kalau realitas itu gak hitam-putih.
Apakah itu ideal? Tentu tidak.
Apakah itu seharusnya terjadi? Juga tidak.
Tapi dunia nyata seringkali berjalan jauh lebih kompleks dari sekadar benar dan salah versi timeline. Makanya hati-hati sebelum nunjuk siapa yang harus disalahin. Di rantai ini semua orang sebenarnya sama-sama terjepit. Orang tua terjepit ekonomi. Anak terjepit keadaan.
Satu-satunya pihak yang benar-benar punya kapasitas mengubah keadaan itu sistem yang lebih besar: akses pendidikan, lapangan kerja yang layak, perlindungan sosial yang benar-benar jalan. Selama itu belum kuat, realitas di bawah akan terus seperti ini bukan karena orang-orangnya gak punya moral tapi karena hidup tetap harus berjalan.
Tau ngga? “Unpaid labours” yang dilakukan wanita dirumah tangga, kalo dihentikan sehari aja, bisa bikin dunia berhenti bergerak.
25 Oktober 1975, wanita di Iceland kompak berhenti ngurus rumah, ngurus anak, bahkan wanita pekerja juga berhenti dateng ke kantor.
Seharian itu, sekolah sekolah daycare, sampe pabrik pada tutup gara gara pekerja cewenya pada ga ada.
Nasib rumah tangga gimana tanpa peran ibu dan istri sehari aja?
Suami harus bawa anaknya kerja, di supermarket makanan cepat saji kaya nugget, sosis langsung ludes habis, karena banyak cowok yang gabisa dan gapunya waktu buat masak dengan penuh hati kaya cewe biasanya.
Dinamain “The Women’s Day Off” gerakan ini berhasil nunjukin, kalo tanpa sosok yang katanya “cuma numpang dirumah suami” itu, suami yang awalnya cuma fokus kerja, harus sekaligus ngurus anak dan masak makanannya sendiri.
Saking susahnya, gerakan ini berhasil bikin Iceland lolosin banyak undang undang yang menjamin hak perempuan.
Beneran, dunia ini ga berjalan kalo kontribusi tiap hari wanita melakukan pekerjaan rumah tuh ga dihargain.
Cara memengaruhi bokap lo.
Pinjam hapenya.
Buka aplikasi yang sering dipake nonton.
Cari video yang sesuai dengan apa yang lo mau / pikirkan / percaya.
Like 100 video sejenis.
Huwala!!!! Algoritmanya isinya begituan semua. Lama-lama juga terpengaruh ngoahaha