Seorang kakek pedagang tiba-tiba menjadi sorotan setelah membagikan aktivitasnya berjualan lewat siaran langsung TikTok.
Sayangnya, bukan dukungan yang ia dapat. Beberapa warganet justru melontarkan komentar yang cukup menyakitkan tentang barang dagangannya. Bahkan ada yang tega mengatakan barang tersebut seperti diambil dari jemuran tetangga atau tong sampah.
Mendengar komentar seperti itu, mungkin banyak orang akan memilih marah atau membalas dengan kata-kata kasar.
Tapi respons kakek ini justru bikin hati tersentuh. 🥺
Ia tidak membalas dengan emosi. Ia malah meminta maaf kepada para penonton.
Di balik barang yang mungkin terlihat sederhana, ada seorang kakek yang sedang berusaha mencari rezeki dengan caranya sendiri.
Kadang kita lupa, sesuatu yang terlihat biasa bagi kita bisa jadi adalah hasil dari perjuangan panjang seseorang.
Semoga setelah melihat kisah ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam berkomentar. Kalau belum bisa membantu, setidaknya jangan menyakiti. 🙏🏻
Semoga dagangan kakek ini semakin laris, diberi kesehatan, dan selalu dilancarkan rezekinya. Aamiin. 🤲🏻❤️
...Gw doain kawan² online di X bisa ke tempat ini.
Yang punya pasangan, silakan bawa pasangannya ke sini. Kemping semalam.
Yang jomblo, yaudah kemping sendirian juga gapapa.
Yg bingung cari guide, boleh pakai jasa gw.
Namanya Tebing Romantis Lembah Ollon.. (``,)
...Dunia pendakian kehilangan 1 legenda.
Nirmal Purja, the GOAT of mountaineering.
Mirip Lionel Messi, dia dikaruniai fisik luar biasa di atas rata² manusia.
Lalu menempa fisiknya yg sudah spesial itu dengan latihan militer level ultra.
Jadilah kombinasi "mengerikan".. (``,)
Adik saya kuliah dokter hewan, peminatannya satwa liar.
Tapi… dia terobsesi dengan hewan kuda. Sampai-sampai dia “iseng” magang di Klinik Kuda di Perth, Australia saat masih mahasiswa.
Abis lulus dan bisa praktik, malah makin spesifik lagi. Adik saya melayani pasien sebagai dokter hewan gigi kuda.
Katanya, gigi kuda itu harus dikikir setidaknya enam bulan sekali. Alasannya, gigi kuda itu tumbuh terus-menerus sepanjang hidupnya. Pertumbuhan gigi ini diimbangi dengan proses pengikisan alami saat mereka merumput dan mengunyah.
Nah… Jika tidak dirawat, proses pengikisan yang tidak merata dapat menyebabkan tonjolan tajam yang melukai mulut dan mengganggu proses pencernaan.
Sampai sekarang, adik saya siap melayani pelayanan kesehatan dan medis soal kuda. Utamanya memang melayani daerah Jabodetabek. Tapi adik saya siap dipanggil dari seluruh Indonesia jika ada kasus emergency (darurat).
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
Mirip-mirip pengalaman saya di Mekah..
Seperti biasa di hari kamis-jum'at pekan pertama setiap bulan, kami melaksanakan umrah. Karena memang di hari-hari itu adalah hari libur.
Jum'at pagi setelah umrah, salah satu temen nyeletuk,"Bang, beli Indomie aja ya. Udah sering makan sandwich kalau sarapan." Akhirnya saya pun setuju.
Kita berdua pun datang ke baqalah (toko) utk beli Indomie sekalian diseduh pake air panas. Saya pun nyeletuk ke penjualnya,"Syekh, antum tahu gak Indomie itu dari mana?" Dengan pede dia jawab,"Asli buatan Saudi tuh.. lihat aja di kemasannya."
Saya pun jawab,"Memang buatan Saudi, tapi ini asli INDOnesia, namanya aja INDOmie." Dia masih ngeyel donk,"Enggak, itu barang asli sini!"
Akhirnya setelah wadah mie nya terisi air panas, kita pergi nyelonong gitu aja. Kesimpulannya, yang salah jadinya siapa nih? 😁
Jadi inget 1 pengalaman lucu debat sama salah satu tokoh kopi berpengaruh.
Taun lalu, waktu kami bahas kopi tradisional Indonesia, ada beberapa pihak yang gerah. Akhirnya kita sepakat buat ketemuan, biar sah, kami rekam juga percakapannya...
Setelah beli kubis 5000an aku liat ada yg panen sawi, ku liat² kok seger bgt (sambil bayangin masak emi dikasih sawi🤤). Terus ku tanya sama bapak yg panen, " Permisi pak, maaf mau nanya, boleh beli sawinya ngga pak?", terus si bapak bilang boleh. Terus blio lanjut nanya mau ambil berapa. Aku bilang mau ambil 2 aja. " Loh cuma 2 biji aja?" tanya si bapak buat memastikan. Aku jawab iya, soalnya jg takut kalau mubazir.
Eh sama si bapak diambilin 3 biji yg gede² dong😭. Mana gamau dibayar abis itu, terus diminta buat petik tomat sendiri di kebunnya. Aku gamau, gaenak juga kan. Nah bapaknya nyuruh aku nunggu, gaboleh pergi dulu. Terus si bapak metikin tomat buat di kasih ke aku. Bapaknya jg bilang, "Mbak kalau di desa mah kalau pas panen sayur orang-orang itu gausah beli, tinggal ambil di kebun. Melimpah di sini." Dan lanjut ngobrolin hal lain whwhwh.
Terakhir si bapak juga ngasih piweling, " Hati-hati di jalan ya mbak, siapin juga itu jas hujan. Bentar lagi kayanya hujan mau turun. "
Abis itu aku pamitan, sambil makasih makasih sama doain bapaknya biar sehat selalu. Sehangat itu gais bapaknya, terharu😭😭
"Dok, saya capek terus."
Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS.
Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa.
Saya perhatikan dulu.
Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung.
Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam.
Tapi keluhannya berulang terus.
Indonesia itu terang.
Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi.
Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama:
Kadar vitamin D yang rendah.
Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun.
Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda.
Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya.
Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja.
Membantu kalsium duduk rapi di tulang.
Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh.
Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih.
Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.'
Pegal yang datang tanpa sebab.
Lelah yang tidak sembuh oleh tidur.
Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa.
Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang.
Surat-surat itu sering kita abaikan.
Kita sering berangkat saat langit masih gelap.
Pulang saat matahari sudah pamit.
Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal.
Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D.
Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita.
Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana.
*600 IU per hari.*
Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun.
Kecil. Tapi baiknya setiap hari.
Dan di situlah banyak orang tidak berhasil.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai.
Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua.
Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan.
Opsi bentuk lain ada,
Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja.
Tubuh kita jarang berteriak.
Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal.
Dan yang ia minta bukan obat yang rumit.
Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.
Kalau pernah ke Bangka atau Belitung atau Kepulauan Riau, mungkin pernah bertanya2 kenapa kok bisa ada batuan gede2 gitu tersingkap?
Batu itu namanya batu granit. Dan penyingkapannya ke permukaan bumi itu luar biasa banget, sampe bikin Belitung jd Unesco Global Geopark.
1/n
Dulu di kantor, ada senior namanya Pak Agus. Hubungan gue sama beliau tu sebel-sayang. Sering saling jadi menyebalkan satu sama lain, tapi tiap ada makanan, selalu disisihkan untuk gue. Tiap istrinya masak makanan enak, selalu diselundupkan cuma untuk gue (soalnya nggak enak sama yang lain karena nggak kebagian). Kalau gue sendirian di ruangan, beliau selalu nungguin karena tahu gue penakut akut.
Gue tahu makanan apa yang beliau boleh makan dan nggak. Hampir setiap hari beliau minta dibelikan fish and fries ke gue karena cuma itu yang bisa beliau makan. Gue selalu ngomel kalau beliau lemburnya bablas karena gue tahu rumahnya jauh, dan beliau sudah nggak lagi bugar.
Beliau tipikal bapak-bapak teduh. Jalannya pelan, tertawanya renyah, kalau ngomel judes banget tapi sepersekian detik lunak lagi.
Ingat banget dulu satu unit ke Dufan, dan beliau cuma ikutin rombongan gue main, nunggu di depan wahana sambil lihatin kita. Kalau di suruh istirahat, nggak mau, bilangnya, “Udah main aja, bapak lihatin kalian.”
Gue nggak peduli sebete apa orang-orang ke beliau kalau menyangkut kerjaan, bagi gue beliau adalah “Bapaknya gue.”
Sampai satu hari beliau meninggal. Di rumah duka, gue memperkenalkan diri ke istrinya, lalu di depan Pak Agus gue janji, “Aku nggak akan lupa sama keluarga kecil Bapak.”
Keluarga kecil yang selalu beliau banggakan. Cerita perjalanan cintanya yang selalu beliau ulang-ulang ke gue tiap jam 5 sore. Kesombongan beliau soal makanan istrinya yang enak. Kebanggaan beliau soal anaknya yang cerdas. Keluarganya kecil, hanya ada istri dan satu anak. Kalau dari cerita si Bapak, mereka berbahagia dalam sunyi.
Sampai hari ini, hubungan gue sama istrinya sangat baik. Dari anaknya masih SMP sampai sekarang sudah kuliah, jalinan silaturahim kita nggak terputus. Kalau ada apa-apa, istrinya selalu menghubungi. Tiap natal, beliau selalu kirim ayam bakar buatan sendiri dan tiap hari raya, gue selalu kirim nastar buatan Mamah.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Lebaran kemarin, istrinya kirim teflon buat Mamah. Katanya tiba-tiba ingat kalau si Mamah suka masak. Tahun kemarin, beliau kirim satu set sprei biru buat gue, katanya biar gue tidur nyenyak 🥹
Gue bersyukur atas ikatan sederhana ini. Simpulnya nggak rumit tapi erat dan nggak terputus meskipun si penghubung utamanya hilang. Sebab setelah kepergian Bapak, kita punya penghubung baru. Kebaikan Pak Agus yang kita lestarikan bersama-sama.
Gue setuju dengan kalimat, “Panjang umur kebaikan.” Orangnya memang mati, tapi baiknya terus hidup di sela-sela kehidupan kita yang masih bernapas di sini.
Ngga kak, ngga lebay sama sekali. Bapakku dulu juga jualan makanan depan sekolah. Sampai ada keputusan-keputusan sekolah yang bikin omset yang biasanya bisa 100 ribu per hari jadi cuma 20ribu 50 ribu. Saking seretnya keuangan dulu, satu adekku sampai putus sekolah. Bukan sedih lagi kami dulu, sampai hampir putus asa.
Ngga kak, sama sekali ngga lebay ngerasa sedih ketika sumber penghasilan halal kamu tiba-tiba jadi seret begitu. Semoga Allah mudahkan rezekimu entah lewat jalan yang sama atau jalan yang lainnya. Jangan menyerah ya, kakak sender.