Gausah edgy kalau om tante di kampung nanya
"kapan lolos? kapan kerja? kapan nikah?"
karna mereka taunya cuma itu. masa expect mereka nanya "integrasi OpenClaw ke telegram caranya gimana?"
jawab baik-baik aja. dan jangan ulangi ke anak/ponakan kelak
toh ketemu juga jarang
Dulu ada laki2 bercerita soal gaji 3 juta, lalu direndahkan sampai serendah2nya kalau uang sgtu cma untuk perawatan hewan-nya.
Hari ini ada suami bercerita kalau istrinya menggunakan pinjol 300 juta, tapi tetap mendapatkan reaksi jelek krna mau berpisah.
Laki2 katanya jangan suka menyimpan dan menahan emosi dalam dirinya. Harus berani bercerita apa yang dia rasakan.
Tapi ketika laki2 bercerita…dia tetap disalahkan walaupun dia benar.
Sudah benar laki2 jangan bercerita apapun di sosmed.
Di sosmed sebelah lg rame. Kali ini gantian, pakaian laki-laki diatur oleh perempuan.
Reply-an nya pun ga jauh dari template feminazi ketika disuruh hal yg sama 😂
"My body, My choice ✨"
@sosmedkeras biasanya yg beneran stable menghindari cewe kaya gini, yg baru kenal udah ngorek2, mereka illfeel, better sama yg setara sama kaya aja soalnya ga musingin ginian di early stage dating. 🤷♀️
Men should control their women more often, especially on social media. Women’s digital exhibitionism and validation-seeking behavior often prove destructive to men’s lives.
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
Soalnya gue telat 7 tahun, baru sadar sekarang ternyata tiap bapak gue malem malem duduk di depan teras, pikiran kosong, tuh penyebabnya karena, jadi cowo emang seberat itu.
Gue telat 7 tahun belain dia waktu dizolimin keluarganya.
Telat 7 tahun buat ngasih kado, apalagi bunga. Sekarang bunga yang gue kasih harus tinggal petals gini.
Sedih banget.
Makanya gue gamau cowo cowo, calon bapak, di sia sia sama gender gue sendiri, cuma karena mereka gabisa kaya cowo fiksi novel dark romance.
Educate your daughter to actually care for someone else, because men are used to a role of serving families and society, when women first time chose to become independent, they are clueless about how to live in society because a cult is telling them lies about self empowerment
Kadang gue ga tega kalo ngomongin soal financial ke cowo. Karna mereka aja hidup untuk menghidupi, bahkan untuk ngerasain cinta, mereka diliat dari apa yang mereka kasih
Untuk semua laki laki diluar sana, apapun yang sedang kalian usahakan semoga sesuai harapan ya. SEMANGAT🔥🔥
Aslii jadi cowo tuh berat bgttt ga kebayang klo gw jd cowo ga bakal kayanya gw berani pacaran apalagi ngajak cewe jalan buat sekali ngedate ajaa bisa abisin 200-500rb 🥲 makanya i always ask for splitt bills tapi biasanya ditolak