Dear X/Twitter.
Pertemukan aku dengan perempuan yang akhir-akhir ini sering merasa capek hidup tapi tidak bisa menjelaskan alasannya kepada siapa pun.
Aku punya tulisan untuk mereka. 🥺
levels of emotional intimacy:
— base 1: tahap awal dimana mulai berani cerita tentang keaadaan keluarga
— base 2: tahap yg lebih dalem lagi, udh terbuka membagikan cerita kenangan dan kehidupan masa kecil
— base 3: tahap paling rapuh, saat mempercayakan rahasia ttg ketakutan, insecure, dan sisi tergelap yg ada di dalam diri
plot twistnya: gaada yg berhasil nembus sampai tahap akhir. dlu pernah nyoba sekali tp malah dijadiin senjata buat berantem wkwk makanya skrg lebih milih kesepian tp aman daripada nambah luka baru, uhuk..
ternyata bener ya trauma tuh kayak lu mengalami accident, gak mati, tapi cacat seumur hidup.
“time will heal, time never heals its just adapt the pain”.
“aku kurang apa?”
kalimat paling menyakitkan yang pernah aku tanyakan kepada orang yang jelas tau kalau aku sudah memberikan hampir seluruh hidupku, bukan separuh.
banyak orang lagi silent struggle. keliatannya fine, ketawa, jalanin hari kayak biasa. padahal deep downnya lagi capek-capeknya bertahan. so be kind, always. kita ga pernah tau seberapa berat dunia seseorang hari ini.
Sayang... 🌹
Aku cuma punya satu harapan, semoga kamu jadi lelaki terakhir buat aku, ya..
Yang tangannya tetep aku genggam sampai nanti mata ini nggak bisa kebuka lagi. Nanti kalau perjalanan kita berat, banyak belokannya, atau capek banget, aku nggak minta apa-apa, asal kita nggak saling ninggalin.
Tetap bareng yaa, saling percaya, dan saling rangkul, ya. Satu hal lagi, jangan pernah ada perempuan lain di antara kita, biar cerita ini cukup tentang aku dan kamu aja.
"love should be fun" kamu butuh cowok pinter yang bisa lebih dominan, cowok yang bisa ngasih penjelasan logis tentang overthinkingmu, sabar, ga insecure-an, ga banyak kode tapi action, ga banyak janji tapi bukti, dan bisa bikin kamu nurut tanpa ngatur-ngatur.
@cigxafteryou@bielbiey Betul kemungkinan gitu juga bisa, tapi kalau dari case ini aku jawabnya dari sepengetahuanku kalau margin dia buku dia emang gede. Kalau di Gramedia biasanya selain mereka push barang internal mereka, mereka ngepush produk eksternal yang marginnya gede juga, contohnya buku TL ini
@riojohan Krn konsep toko buku besar di Indonesia hanya profit. Sementara beberapa toko buku di Luar Negeri, selain profit, mereka jg memberikan spotlight ke emerging, POC, Indigenous, female writers. Ada misinya utk uplifting writers yg blm populer. Tapi jg ada yg nyari profit doang sih
@cigxafteryou@bielbiey Bukan nyewa sih, Kak. Lebih ke margin buku dia lumayan gede, banget malah. Gak bisa bohong mereka sebagai unit bisnis kan cari laba jugaaa.