Waktu interview sama company di Malaysia, gw udah set mindset, siap ditanya, “Expected salary berapa?”
Udah ancang-ancang mau jawab aman.
Main realistis. Jangan ketinggian.
Eh, mereka duluan yang ngomong, “Based on your CV and achievements, we would like to offer you MYR 17,500 per month.” (Waktu itu kurs RM 1 = Rp 2.900 (Kalau dikonversi: 17.500 × 2.900 = Rp 50.750.000)
Gw dalam hati, Oh… this is what it feels like when they value you first.
No awkward pause.
No bargain war.
No lowball energy.
Just clean appreciation.
Sometimes it’s not that you underprice yourself.
Sometimes you’re just in the wrong room.
Kenapa sih, di Indo tuh sex edu hanya berhenti di reproduksi dan penetrasi? Kenapa gak ngebedah boundaries, consent, relasi kuasa.
Perempuan banyak ketidaktahuan tentang haknya. Akhirnya, mostly mereka nggak punya bahasa untuk menamai apa yang terjadi pada mereka. Nggak tau kalau yang dialami itu manipulasi, coercion, atau pelecehan. Dari kecil nggak pernah dikasih framework untuk membaca situasinya.
Padahal, kalau perempuan tahu consent, dia bisa bilang tidak. Kalau dia paham relasi kuasa, dia bisa mempertanyakan struktur yang selama ini menguntungkan pihak tertentu.
as maba top 3, jadi nyadar kenapa snbp banyakan dari sma top bcs akademik di ptn! tsb emg not designed for anak² yg medioker haha. i asked em "kok bisa tau konsep ini?" and they'd say "udah belajar dr sma" (sma gw non top 1000 ga belajar sampe situ dawg)