Ada tipe orang yang kelihatannya biasa aja di sosial media. Jarang update. Nggak pernah share lokasi. Nggak pernah pamer lagi nongkrong di mana. Bahkan kadang orang mikir, “ini orang kemana sih hidupnya?”
Padahal dia tetap jalan. Tetap keluar. Tetap punya rutinitas, punya kesibukan, punya tempat favorit, punya circle. Cuma dia nggak merasa itu perlu diumumkan.
Orang datang dan pergi itu bukan tragedi.
Itu alur.
– Teman masa kecil perlahan cuma jadi kenangan foto lama.
– Teman kuliah yang dulu tiap hari bareng, sekarang cuma saling lihat story.
– Teman kerja yang dulu satu tim, sekarang sibuk di tempat berbeda.
– Sahabat yang dulu tahu semua cerita, sekarang obrolannya terasa asing.
Dan itu bukan karena benci.
Bukan juga karena ada yang berubah jadi jahat.
Kadang memang waktunya saja yang selesai.
Tweet gue kemarin tentang minimarket viral, jadi sekarang gue mau berbagi pengalaman lainnya..
Gue inget banget malam itu. Umur gue baru berganti ke 25 tahun waktu itu.
Hampir jam 12 malam, baru pulang kerja. Lorong kos sepi, lampu neon remang, lantai masih agak basah entah bekas pel atau bocor AC. Sandal orang berjejer depan pintu. Bau sabun campur lembap. Tempat yang tiap hari gue lewatin, tapi malam itu rasanya beda.
Gue berhenti sebentar di tengah lorong. Bukan capek fisik. Capek mikir. Dan entah kenapa, di lorong sempit itu, semua kegagalan gue kayak numpuk barengan di kepala.
Padahal dua tahun sebelumnya, gue ngerasa hidup gue berani.
Umur 23, gue resign dari kerjaan yang aman. Ga jelek, tapi bikin mati pelan pelan. Gue yakin waktu itu, daripada nyaman tapi hampa, mending ambil risiko. Tabungan gue sekitar 55 juta rupiah. Itu seluruh rasa aman gue. Gue bilang ke diri sendiri, “cukup buat nyoba setahun.”
Awalnya sok tenang.
Tiga bulan pertama masih bisa pura pura optimis.
Bulan ke empat mulai sering buka email sambil berharap ada kerjaan masuk.
Bulan ke enam, gue mulai bohong ke keluarga. Bilang lagi sibuk. Padahal siang gue banyak bengong.
Sampai akhirnya di umur 25, gue duduk sendirian di kamar kos, buka myBCA, Saldo Rp1.300.000.
Ga ada drama. Ga nangis. Cuma kosong.
Dan sekarang gue berdiri di lorong ini, udah balik kerja kantoran lagi. Bukan kerjaan impian. Bukan posisi keren. Dari luar, hidup gue kelihatan mundur. Kayak cerita gagal klasik. Nyoba keluar jalur, jatuh, lalu balik lagi ke jalur lama.
Menurut gue, Ga semua orang harus nekat.
Ga semua risiko itu bijak.
Ada orang yang hidupnya baik baik aja karena ga pernah lompat terlalu jauh, dan itu sah.
Tapi di lorong kos malam itu, gue sadar satu hal
Gue ga nyesel karena gagal.
Gue nyesel karena dulu hampir ga berani nyoba.
Gagal itu memalukan.
Gagal itu bikin ego ancur.
Tapi gagal juga bukti bahwa gue pernah bergerak, bukan cuma berdiri di tempat sambil mengeluh.
Kalau hari ini lo lagi di fase mikir, takut, ragu, ngerasa hidup mentok
Gue ga mau bilang semua akan indah.
Tapi satu hal pasti
Lebih baik jatuh karena melangkah, daripada hidup lurus tapi kosong karena ga pernah mencoba.
-Omsuskes
Tahun 2016, gue jaga malam di kantor rental kamera di daerah Klender, Jakarta Timur. Ruko tiga lantai, catnya mulai kusam, neon depan kedip-kedip tiap habis magrib. Lantai bawah display dan kasir, lantai dua gudang lensa, lantai tiga ruang servis. Malam cuma gue, bunyi kulkas pantry, dan dengung charger baterai yang nggak pernah benar-benar diam.
Di antara semua unit, ada satu kamera yang bikin gue nggak tenang. Body-nya mulus, shutter count rendah. Tapi tiap balik dari penyewaan, selalu ada satu file video baru di dalamnya.
Durasi konsisten: 01:00.
Padahal kartu memorinya sudah gue format sebelum disewakan.
Pertama kali gue buka, isinya bukan kantor. Tapi ruangan luas dengan cermin tinggi di satu sisi. Lantainya kayu. Lampunya temaram. Di pojok kiri, ada speaker tua. Kayak studio balet.
Kamera statis, menghadap ke tengah ruangan kosong.
Di detik ke-20, terdengar ketukan pelan. Bukan dari pintu. Dari lantai. Ritmis. Tok… tok… tok… seperti ujung sepatu pointe menghantam kayu.
Di detik ke-35, bayangan muncul di cermin. Sosok perempuan tinggi, sangat kurus, rambut disanggul ketat. Dia berdiri dalam posisi relevé, berjinjit sempurna. Tapi tubuh aslinya nggak ada di ruangan. Hanya pantulannya di cermin.
Wajahnya menunduk. Lehernya terlalu panjang. Saat dia mengangkat kepala, matanya hitam penuh, tanpa putih.
Video berhenti tepat di 01:00.
Besoknya gue tanya ke bos soal unit itu. Dia agak lama jawabnya. Katanya, dulu kamera itu pernah dipakai buat dokumentasi sanggar balet kecil di daerah Duren Sawit. Pemiliknya mantan guru les balet yang terkenal keras. Anak-anak sering pulang nangis. Ada isu dia suka “menghukum” murid yang gerakannya salah—disuruh berdiri jinjit berjam-jam sampai kuku kaki berdarah.
Sang guru itu ditemukan meninggal sendirian di studio. Kakinya patah di kedua pergelangan, tapi tubuhnya tetap dalam posisi berdiri berjinjit menghadap cermin.
Sejak itu sanggar tutup.
Malam berikutnya, kamera itu balik lagi. Gue sengaja nggak sentuh sampai lewat jam dua. Tepat 02:16, notifikasi bunyi sendiri. File baru muncul.
Kali ini angle-nya gudang lantai dua kantor gue.
Rak tripod berjajar. Box lighting tersusun rapi. Kamera merekam dari sudut atas, mustahil posisinya.
Di detik ke-10, terdengar suara gesekan kayu. Tok… tok… tok… makin dekat.
Di antara rak, muncul sosok perempuan itu. Dia berjinjit, tapi kakinya bengkok ke arah belakang. Setiap langkah, terdengar bunyi retak tulang halus. Tangannya terangkat anggun, seperti sedang mengoreksi murid.
Di detik ke-40, dia berhenti. Menghadap tepat ke arah kamera.
Pelan-pelan dia tersenyum. Mulutnya robek sampai ke pipi, seolah dipaksa tersenyum terlalu lebar.
Lalu layar berubah. Bukan lagi gudang.
Tapi ruang display lantai bawah. Gue terlihat duduk di kursi kasir, menatap kosong ke depan.
Sementara di belakang gue, di pantulan pintu kaca, dia berdiri berjinjit.
Sangat dekat.
Video berhenti di 01:00.
Masalahnya, saat itu gue lagi di lantai dua. Sendirian.
Dan dari bawah, gue mulai dengar ketukan pelan di lantai keramik.
Tok… tok… tok… mendekat ke arah tangga.
-PESUGIHAN BERCUMBU DENGAN KUNTILANAK-
Tahun 2017, usiaku 34 tahun 2 bulan. Peluang terakhir ikut tes CPNS. Atas saran kawan, aku mendatangi dukun. Aku kemudian menjalani ritual pesugihan yang ekstrem.
MENCUMBU KUNTILANAK
#bacahorror@IDN_Horor
Malam Misterius Tsunami Aceh 2004
(Cerita narsum)
Namaku Titin. Aku lahir di Jawa, tetapi sejak usia tiga bulan orang tuaku pindah ke Aceh. Tepatnya di Banda Aceh, dan di sanalah kami sekeluarga menetap hingga hari itu tiba.
@bacahorror
Piramida di Mesir itu bukan cuma bangunan gede yang bikin orang takjub, tapi juga punya cerita seru yang nyambung banget sama mitologi mereka.
Bayangin aja, piramida ini dibangun ribuan tahun lalu, gede banget, dan katanya sih jadi makam buat para Pharaoh—raja-raja Mesir kuno yang dianggap setengah dewa. Nah, ini dia yang bikin asik, piramida gak cuma soal batu-batu ditumpuk, tapi ada hubungan erat sama kepercayaan mereka tentang hidup, mati, dan dunia setelahnya.
Penasaran? Sini sini aku ceritain