Happy birthday to me in 27yo, may you be strengthened from all challenge and given the strength to get through difficult days and always be healthy so that all your affairs are easy in fulfilling worldly needs and getting blessings from God. Ameen
Soldaki gibi görünmek için gerekenler:
- Yakışıklı ol (elinde değil)
- 1.80 üstü ol (elinde değil)
- Geniş omuzlu ol (elinde değil)
- Kaslı ol (min iki yıl ağırlık kaldırma ve yüksek protein tüketimi gerekiyor)
Sağdaki gibi görünmek için gerekenler:
- Çok yeme
Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐️
Nggak. MBG sama Kopdes bukan yang bikin rupiah ambruk secara langsung. Tapi dua program ini turut bikin keuangan negara makin kepepet, dan itu berefek ke rupiah. Prosesnya gini: kalau pengeluaran negara jauh lebih gede dari pemasukannya, pemerintah harus ngutang lebih banyak lewat surat berharga. Investor asing yang pegang surat itu mulai ragu, karena makin gede defisitnya, makin mereka khawatir negara susah bayar utang. Makanya mereka jual, tukar ke dolar, cabut. Permintaan rupiah turun, dolar naik.
Mereka kan pantau terus berita kita, defisit APBN per April 2026 udah tembus Rp164,4 triliun, jauh lebih parah dibanding April tahun lalu yang cuma Rp4,3 triliun. Belum lagi dokumen APBN final 2026 tegas bahwa hampir sepertiga anggaran pendidikan, tepatnya Rp223,5 triliun dari total Rp769 triliun, digeser buat MBG.
Yang pasti bikin mereka tambah heran, tentang Kopdes. 80 ribu koperasi desa dikasih pinjaman dari bank BUMN buat modal usaha. Normalnya kan koperasi yang nyicil utang itu tiap bulan. Tapi di aturan terbaru, yang bayar cicilan pokok plus bunganya adalah negara, bukan koperasinya. Jadi koperasinya minjem, tapi yang nanggung utangnya APBN. Koperasinya rugi atau males pun, utangnya tetap kebayar. Beban itu nempel tiap bulan, dari 80 ribu koperasi sekaligus. Apa ga geleng-geleng kepala itu investor dan ekonom global.
Pemerintah udah gerak sih, hanya dinamikanya tetap belum meyakinkan (bahkan lucu). Purbaya udah bilang bakal motong anggaran MBG, ga sampe seminggu dibantah sama BGN. BI juga udah naikin suku bunga, rupiah tetap tembus 17.845. Tapi tetap gw apresiasi 2 upaya itu, khususnya MBG kalau bisa diturunkan lagi dananya, atau kalau tidak mau, fokus arahkan ke sekolah-sekolah di pelosok yang muridnya benar-benar membutuhkan.
Terus apa yang selanjutnya pemerintah harus lakukan?
Menurut keyakinan saya ada tiga hal.
Pertama soal defisit. Yang perlu dilakukan: tunda ekspansi Kopdes ke daerah yang belum siap, daripada maksa jalan tapi malah nambahin defisit baru. Yang lebih penting, buktiin ke pasar bahwa defisit nggak akan jebol 3% sampai akhir tahun. Investor nggak butuh janji, mereka butuh lihat konsistensinya.
Kedua soal cadangan devisa. Per April kata BI, cadangan devisa kita tinggal $146,2 miliar, turun dari $156,5 miliar di awal tahun. Artinya dalam 4 bulan BI udah habiskan $10 miliar buat jual dolar langsung di pasar supaya rupiah nggak makin nyungsep. Masih ada lumayan banyak sih, tapi kalau terus dikuras dengan laju segini, ruang geraknya makin sempit. Yang harusnya dilakukan bukan cuma jual dolar terus, tapi genjot dolar masuk: tarik investasi asing langsung. Dan ini butuh lebih dari sekadar Prabowo keliling dunia.
Kalau kita lihat, dalam 18 bulan Prabowo udah 49 kali keluar negeri, hampir setara 4 bulan penuh hari kerja, dan selalu pulang bawa "komitmen investasi" triliunan. Tapi investor terbesar Indonesia sampai sekarang tetap Singapura, Hong Kong, China, bukan negara-negara yang dikunjungi. Komitmen bukan realisasi. Yang bikin investor beneran masuk adalah kepastian hukum, kemudahan izin usaha, dan konsistensi kebijakan, bukan foto bareng pemimpin dunia.
Ketiga, dan ini yang paling kontroversial, tentang gimana caranya mendorong jumlah ekspor kita. Mulai 1 Juni 2026 eksportir CPO dan batu bara wajib simpen 100% devisa hasil ekspornya di bank BUMN selama 12 bulan. Ekspor komoditasnya juga mulai masuk masa transisi lewat BUMN baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Untuk saat ini eksportir masih boleh pakai mitra/sistem lama sih, tapi dokumentasinya sudah harus lewat DSI. Baru mulai 1 Januari 2027 nanti seluruh transaksi ekspor sepenuhnya diambil alih DSI, sebagai eksportir tunggal batu bara, sawit, dan ferro alloy.
Tujuannya mulia: supaya dolar dari ekspor nggak kabur ke luar dan kebocoran devisa lewat transfer pricing bisa ditekan. Tapi gw tetap khawatir melihat proses eksekusi dan kecepatannya. DSI dibentuk dalam 3 hari: akta notaris 18 Mei, SK Kemenkumham 19 Mei, diumumkan Presiden 20 Mei, tanpa satu pun rapat publik, tanpa DPR, tanpa asosiasi pengusaha. Lalu sekarang satu entitas ini pegang seluruh hak jual komoditas strategis Indonesia ke luar negeri, tanpa audit independen, tanpa mekanisme pengawasan yang jelas. Ironisnya, ini persis modus transfer pricing yang mau diberantas, tapi sekarang yang melakukannya adalah negara sendiri. Kalau badan ini tidak transparan, kita tidak nutup pintu korupsi, kita cuma mindahin lokasinya ke satu titik yang lebih susah diawasi.
Jadi balik ke pertanyaan awal tadi: emang kalau MBG dan Kopdes dihentikan rupiah bisa menguat? Jawaban singkatnya nggak, karena memang tidak sesimpel itu. Dan gw berharap pemerintah bisa notice tiga saran gw diatas. Karena selama defisit terus bengkak, cadangan devisa terus dikuras, dan kebijakan besar kayak DSI dibentuk dalam 3 hari tanpa kajian publik, pasar akan terus ragu. Yang akhirnya menghasilkan rupiah yang lemah, cerminan dari pemerintah yang juga kelihatan ragu-ragu...
Ada orang naik motor di daerah 3T (terpencil), membandingkan bangunan dapur MBG (SPPG) dengan bangunan sekolah yang menerima MBG. lebih bagus bangunan SPPG daripada sekolahnya 🥲
Perihal tentang Thailand dan Petrodollar
Bakal Reminder kembali sama krisis 1997 Asian Tiger Crisis,
dimana awalnya mulai dari Baht. Lalu menjalar ke Negara Asia Tenggara lain dan bahkan ke Korea dan Jepang
Gw paham correlation is not causation
Tapi publik boleh bertanya, kok sejak rilis aplikasi senilai 1,3T itu:
-Penerimaan Pajak 2025 shortfall, hanya tercapai 87% dari target
-Pelaporan SPT 2025 jauh dari target
Apakah hal di atas bisa jadi dasar "kerugian negara" untuk diusut?
Jumlah menteri kalo cuman belasan masih okelah sekelas presiden micromanage. Sering-sering ke lapangan, blusukan, ngurusin printilan².
Masalahnya si gendut ini punya 7 kemenkoan, 41 kementerian, 56 wamen, plus 5 pejabat setingkat menteri. Alias GENDUT SEKALI.
GENDUT! 🫵🏻🙂
"Saya adalah manager yang terjun langsung"
Kalo micromanage mah ga mungkin bisa dikasih report palsu anak buahnya. Contoh:
-BGN : 19rb sapi dipotong setiap hari demi MBG
-Bahlil: Listrik aceh pulih 93%
The cabinet = full of yes-men
The boss = rubber-stamps everything
Berarti porsi subsidinya ditambah?
Hebat banget. Seluruh dunia berusaha mengurangi konsumsi, Indonesia menambah insentif.
Memang rencana besarnya ini cetak duit ya? RUU BI-nya mana dong?
Akhirnya.. ada yg mengungkapkannya, padahal di ruang2 tertutup dan lab, ini pembicaraan dari 2023.
Baru saja membaca tentang CEO Anthropic, Dario Amodei, menulis esai yg cukup jujur dan berani.
Ia mengakui bahwa kita sebenarnya tdk tahu bgmn AI generatif bekerja.
Bkn seperti perangkat lunak biasa yg kita rancang dgn aturan jelas dan logika langkah demi langkah. AI sekarang dibangun dgn cara yg berbeda.. kita hanya memberi makan data dlm jumlah sgt besar, lalu struktur dan “kecerdasan” muncul dgn sendirinya.
Hasilnya mesin bisa mengambil keputusan yg bahkan penciptanya pun tdk bisa menjelaskan knp memilih kata itu, bkn kata yg lain.
Ini pertama kalinya dlm sejarah teknologi manusia muncul kecerdasan yg benar2 berada di luar desain kita.
Ia sendiri menyebutnya sbg sesuatu yg belum pernah terjadi sebelumnya. Ia bahkan mengusulkan perlunya semacam “MRI untuk AI”.. alat yg bisa kita gunakan untuk melihat ke dlm “otak” mesin ini sebelum kekuatannya menjadi terlalu besar untuk dikendalikan.
Bagi saya sih ini mengingatkan pada salah 1 pertanyaan mendasar dlm fisika dan kosmologi: bgmn sesuatu yg kompleks dan bermakna bisa muncul dari sesuatu yg sederhana dan acak?
Apakah kita sdg menyaksikan bentuk baru dari “emergence” yg mirip dgn bgmn kehidupan atau kesadaran muncul dari partikel2 fisika?
Yg jelas sih pengakuan ini bkn sekadar catatan teknis, tapi ajakan untuk berpikir lebih serius: apakah kita siap dgn teknologi yg semakin canggih, padahal kita sendiri belum sepenuhnya memahami cara kerjanya?
Kamu merasa tenang krn AI tetap “hanya alat”?
Atau justru khawatir krn kita sdg membuka kotak yg isinya belum kita pahami sepenuhnya? 🤔🤔
Filipina: Umumkan negara dalam kondisi darurat energi.
Korea Selatan: Mulai umumkan penjatahan bahan bakar (fuel rationing).
Jepang: Mulai mengeluarkan national petroleum reserve mereka untuk menstabilkan supply.
Indonesia: .......