@tanyakanrl Ternyata MBG itu ga gratis ya, dibayarnya pake:
- sulitnya akses pendidikan layak
- keracunan makanan
- sulitnya nyari pekerjaan
- pemulihan bencana yg lambat
- non aktifnya bpjs
Semoga semuanya lekas membaik, hanya kepada Tuhan kita berharap.
Di tahun 2007, Bapak saya pernah nyoba trading saham. Kala itu IHSG lagi euforia karena kebanjiran likuiditas dan commodity boom di Indonesia. Berbekal pengetahuan minim tentang makroekonomi dan pasar modal, Bapak saya deposit sekitar 60juta (minimal deposit di sekuritas kala itu).
Tiap hari Bapak saya nongkrong di basement BNI Slamet Riyadi Solo, di sana disediain beberapa puluh komputer untuk trading, bapak2 lain pun banyak yang memutuskan buat jadi full time trader, berangkat sebelum jam 9, pulang saat market tutup. Kalau ga sempat ke basement BNI, liat running trade di metro TV dan telpon broker buat konfirm jual atau beli saham.
Saham andalannya adalah small cap seperti POLY dan MIRA, dulu disebutnya saham gorengan.
Kemudian datanglah krisis finansial di tahun 2008, likuiditas kering dan komoditas jeblok. Rungkadlah bapak saya.
Hampir 20 tahun kemudian, di awal 2026, saya mencoba menjadi trader dan borong saham konglo, alhasil rungkadlah saya seperti Bapak saya.
Kalo sipil yg bikin hoax, menganiaya, jelas dipidana, dipenjara.
Bahkan baru ngancem pun..
Kalo pelakunya aparat dan korbannya rakyat kecil, diselesaikan secara damai.
Zalim.