@BudiBukanIntel Giliran demo udh kaya mau perang. Giliran org kecelakaan,kemalingan,begal, pemerkosa*n,pelec*han,tawuran. Yg dtg paling cuman 2 org itu juga kaga gercep. Padahal urgensi nya jelas yg lebih mana duluan. Massa datang ada tujuannya. Ya kaga usah melebihi massa juga kali ngumpulnya.
Jawabannya sederhana. Dokter dan tenaga kesehatan lain disana dibayar layak dan ada aturan jaminan kesehatan yang jelas.
Capek banget sama diskursus begini yang disudutin tenaga kesehatan mulu padahal yang salah pemerintah.
Ultimately nomor 4. Bidang kedokteran udah dikerdilkan dengan gaji/jasa medis semakin murah dan banyak potongan, dan lulusan profesi dokter, sepsalis dan subsepsalis kini dapetnya bukan ijasah tapi sertifikat sejak UU Kes 17/2023.
Pemerintah Indonesia membenci dokternya sendiRi.
Warga +62 itu emg udah terbukti tahan banting.
Karna selain harus membayar pajak resmi ini itu, mereka juga dikenakan "pajak" tidak resmi.
Misal :
- parkir liar
- setoran ormas
- proposal sumbangan THR
- pelicin kalo pengen urusan sat set
- dll
Luar biasa emang kesabaran WNI
Bagus dong. Selamat. Kalau juara 1 keterbukaan informasi, sudah boleh dong nakes tidak didayagunakan merangkap jadi juru informasi sistem BPJS ke pasien? Boleh minta agen BPJS taruh di tiap faskes utk bantu menjelaskan ke pasien soal klaim dll?
Tbh suka wondering kenapa UMR Indo serendah itu, krn UMR mestinya acuan standard hidup layak—tapi nyatanya untuk hidup layak (dan nyaman) di sini, butuh income beberapa kali lipat dari UMR
Hunian layak aja bisa ratusan kali lipat UMR…
Ini blm ngomongin yg digaji under UMR 😢
Itulah kenapa anggaran Polri naik terus sampai Rp 126 triliun lebih. Untuk membuat penguasa aman. Demo kecil dihadapi ratusan polisi bersenjata, pejabat kemana-mana dikawal..