Andie Peci menyulap tribun menjadi sekolah politik rakyat, ia meyakinkan bahwa keberanian tidak laghir dari individu yang paling keras berteriak, melainkan dari keyakinan bahwa tak seorang pun dibiarkan berdiri sendirian.
Kepergiannya hari ini bukan hanya kehilangan bagi Bonek ataupun Persebaya. Ia adalah satu dari sedikit orang yang mampu membuktikan bahwa rakyat mampu membangun politiknya sendiri melalui ruang-ruang yang sering tak dianggap.
Ia memahami benar ketika sejarah sebuah klub hendak dihapus yang dipertaruhkan bukan sekadar nama ataupun logo, melainkan ingatan kolektif. Ia seolah mengingatkan kepada kita bahwa setiap kekuasaan selalu berusaha mendikte tentang bagaimana cara masyarakat mengingat masa lalu.
Andie Peci tak pernah berusaha tampil bak seorang intelektual, ia justru kerap tampil sebagai seorang penggerak, agar orang berkumpul, agar keberanian tak berhenti sebagai emosi sesaat.
Ia menegaskan kepada kita bahwa politik selalu membutuhkan tubuh-tubuh yang benar-benar hadir: hadir di pabrik, hadir di jalanan, hadir di tribun, dan hadir ketika kawan membutuhkan pertolongan.
Hari ini kita kehilangan seorang guru yang mengajar tanpa pernah menyebut dirinya guru.
Selamat jalan Cak.
@mardiasih Jaman SMP, teman2 pas istirahat pada beli makan yang waktu itu kalau ga salah harga masih Rp. 2000-3000an sedangkan uang sakuku cuman Rp. 500-1000 per hari.
Ave Neohistorian!
Setiap pelajar ataupun mahasiswa baru dirasa perlu dibina oleh senior-seniornya terlebih dahulu, agar memiliki mental sekuat baja melalui serangkaian tindakan perundungan.
Pada masa kolonial Belanda, masa pembinaan tersebut dinamakan Ontgroening, yang berarti “Menghilangkan Warna Hijau”. Memasuki masa pendudukan Jepang, Ontgroening berubah nama menjadi “Puronko”, yang berarti “Rambut Gundul”, dan menjadi cikal bakal kata “Plonco”. “Plontos”, atau pangkas botak, kemungkinan merupakan serapan dari kata tersebut.
Mirisnya, produk masa penjajahan tadi terus dibawa hingga ke era Kemerdekaan, dari level sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Senior kerap merasa diberikan otoritas absolut oleh kampusnya untuk membina anak-anak baru, mulai dari menyuruh juniornya memakai atribut yang unik, mengumpat mereka dengan kata-kata kasar bahkan ada juga yang sampai menyarangkan ketupat bangkahulu. Walau ada juga pihak-pihak yang tidak menyukai praktik ini, PKI contohnya yang menilai perploncoan hanyalah warisan penjajah yang kontrarevolusiner.
Salah satu kasus perploncoan paling buruk di Indonesia terjadi pada tahun 2000, praja STPDN berinisial ER tewas setelah dianiaya oleh senior-seniornya.
Mirisnya, bahkan setelah lulus dan menjadi karyawan perusahaan sekalipun, beberapa freshgraduate harus di subjugasi para senior kantornya. Senioritas menciptakan budaya berbisa, menyebabkan promosi jabatan dan penilaian kinerja mengesampingkan aspek meritokratik. Junior didoktrin untuk tutup mulut dan serba nurut. Dampaknya, celah korupsi semakin lebar, apalagi senior-senior tadi menduduki jabatan-jabatan vital.
Budaya Plonco berhasil mencetak seonggok otomaton yang penurut, enggan berpendapat, tidak berani tampil beda, menghormati senior secara berlebihan, dan menganggap penghinaan/penindasan sebagai suatu hal yang wajar. Seiring munculnya kesadaran akan aspek negatif perploncoan, kampus-kampus besar mulai menghilangkannya walau beberapa oknum senior di beberapa kampus masih mempraktikkannya dengan lebih halus.
Penulis: Jonathan Tsai
Editor: Ivan Fauzan
Referensi:
Djojodibroto, R. D. (2004). Tradisi Kehidupan Akademik. Indonesia: Galang Press.
@lulusikucing@ndagels Tetap semangat mbak, miris kalau mendengarnya. Semoga ke depan ada kebijakan yang lebih baik lagi terutama dalam dunia kesehatan dan pendidikan.
RIBUAN NYAWA di KABUPATEN MALAKA, NTT TERANCAM
Mohon diviralkan agar sampai ke Gubernur, Ketua DPRD NTT dan Jokowi
Malaka butuh Helicopter
Kalau tidak pakai Heli, ribuan Nyawa akan melayang. Di Adonara jenazah sudah ditemukan karena lokasi dapat dijangkau. #prayforNTT
Opini saya di Majalah @temponewsroom edisi minggu ini (15-21 Feb) sudah tayang. Jika berkenan, silakan disimak. Saya akan coba saya ulas sedikit di sini “Mengapa #risetinovasi Harus Jadi Prioritas”
#inisiatifpengetahuan
Kata Almarhum Mas Prie GS tentang Gus Dur yang membuat segala sesuatu terasa mudah dan simpel. Doa terbaik untuk Mas Prie GS. Semoga ditempatkan di sebaik-baiknya tempat kembali. Amin...
@Ayang_Utriza Beli rumah ditempat domisili sekarang, bahagian ortu, istri, dan anak. Memberi beasiswa kuliah untuk anak kurang beruntung. Semoga terkabul. Aamiin