Wqwqwq gara-gara suhu kereta panas, dikasih opsi pak kondektur barangkali mau pindah ke kereta petani. Terima kasih banyak bantuannya pak 🙏
Kereta petani yang MinGo naiki bernomor seri K3 0 65 53, dan posisinya kereta paling depan, belakang lok 🤡 sayangnya, nggak ada fasilitas stop kontak di kereta petani, jadi buat Arfriends yang sudah terdaftar dan bisa beli tiket kereta petani/pedagang ini, siap-siap bawa power bank yagesya 🙏
#fotosepur #argothrottle
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Baca baca soal genetik gini selalu inget dulu pas les ada tabel kecil isinya beberapa makhluk hidup dan jumlah kromosomnya trus ada temen nyeletuk "buset manusia nambah 2 doang jadi kentang"
soal DNA ini ya, dulu di askfm ada yang posting hal lucu, katanya gini:
manusia menjadi kanibal ketika memakan pisang karena 41-60% DNA pisang mirip dengan manusia. memanggil manusia lain dengan sebutan anjing adalah tepat karena 80-84% DNA anjing mirip dengan manusia. memakan ayam juga kanibalisme, karena 60% DNA ayam mirip dengan manusia.
tapi bener gasehh?
benar, tiap makhluk di bumi punya DNA dan saling terhubung. itu penanda kalo kita semua berasal dari satu titik yang sama di sejarah kehidupan, walau bentuknya sekarang berbeda-beda.
tapi kemiripan DNA bukan berarti A adalah B. bukan berarti lebih dari setengah tubuhmu adalah pisang, sementara setengah lainnya anjing dan ayam.
ga gitu cara kerjanya.
yang perlu dipahami, angka kemiripan DNA itu menghitung seberapa banyak urutan gen yang sama, bukan seberapa mirip dua makhluk itu secara keseluruhan.
dan gen yang sama itu bisa punya fungsi yang sangat berbeda di tubuh yang berbeda.
gitu juga dengan kucing. walau 95.6% DNA kucing rumahan mirip dengan harimau siberia, kucing rumahan ga serta merta jadi harimau dalam bentuk kicik.
selisih 4.4% itulah yang bikin mereka berbeda dan bikin kucing rumahan tetap jadi kucing rumahan, sementara harimau siberia tetap jadi harimau siberia, dengan ukuran tubuh, kekuatan, perilaku berburu, dan insting yang sangat berbeda.
dan biar lebih kerasa skalanya, manusia dan simpanse itu berbagi 98.7% DNA. hampir identik di atas kertas. tapi ga ada yang bilang simpanse adalah manusia yang belum selesai, atau manusia adalah simpanse yang kebetulan bisa ngomong.
karena selisih 1.3% itu yang bikin kita berbeda sepenuhnya.
jadi kesimpulan bahwa besaran kemiripan DNA otomatis berarti dua makhluk itu serupa, itu ga tepat kalo kita mengabaikan apa yang ada di selisihnya.
justru di selisih yang kecil itulah letak perbedaan yang paling menentukan.