GOODBYE NETFLIX. GOODBYE HULU.
No more $24.99 per month.
GROK helped me build a free streaming hub using only legal platforms.
Here are 7 prompts to try yourself:
Sebagian kecil betul, namun overall keliru soal perkembangan awal Industri manufaktur di China (Korea saya tidak paham, tak pernah bisnis dgn Korea yg angel 😅).
China itu pada dasarnya, justru mirip roadmap Industri di Indonesia era Orba. Mengundang investasi masuk untuk membagun pabrik di Indonesia, dan mengikat dengan kewajiban memberdayakan pengusaha lokal untuk support part/komponen. Yang ditawarkan >> upah buruh murah, pasar yang besar (konsumen). Walau sekarang tak lagi tawarkan upah murah. Wong mereka sudah jadi bos penguasa teknologi-nya.
Perbedaannya, China serius dengan roadmap-nya, bersungguh-sungguh ke tujuan akhir untuk menguasai teknologinya, tidak hanya mensupply part/komponen, tapi kuasai hulu ke hilir.
Indonesia, karena mentalitas ndoro, tidak serius pada roadmap ini. Para pejabatnya tak memikirkan ujung roadmapnya, tapi memikirkan "piye caranya kantong ku terisi dari investasi". Nah, ini lah yg membuat brand-brand asing, betah di Indonesia, mampu kuasai Indonesia berdekade, tak khawatir Indonesia akan lahirkan produk sendiri. Otomotif misalnya.
Ditambah arah kebijakan di Indonesia ini tergantung "mood" yang lagi berkuasa. Dan tergantung eforia rakyat mau kemana. Ruginya jalan demokrasi liberal, ya inilah salah satunya. Jalan-nya banyak cabangnya. 🤣
----
Jadi, Industri di China tidak langsung jadi pembuat barang-barang dari kualitas terbaik hingga KW. Keliru, tak semudah itu ferguso. Bahkan membuat produk KW sekalipun jika kamu tidak kuasai teknologinya, tak akan pernah bisa.
Cara China menguasai teknologi dan jadi nomor satu di dunia saat ini untuk manufakturnya, adalah dengan mengundang brand-brand ternama membangun pabrik di China. Diguyur berbagai fasilitas, dan tentu jaminan stabilitas, plus ndak bakal ada unjuk rasa tiap saat seperti Indonesia.
Untuk mendapat berbagai fasilitas tersebut, brand tersebut wajib memberdayakan pengusaha China (juga ikut BUMN China dibeberapa sektor).
Tidak semua part dikerjakan oleh brand sendiri, mereka wajib outsource kan ke perusahaan lokal China. Awalnya sih part-part yang sederhana, tak vital jika suatu saat ditiru, tapi lama-lama hampir semua part diserahkan ke manufaktur China.
Di Industri Komputer misal, IBM masuk ke China tidak semua partnya dikerjakan sendiri atau diimpor dari AS. Dulu, Komputer PC itu dibangun dengan part yang banyak sekali dirangkai sehingga jadi Komputer siap pakai. Tidak seperti sekarang yang semua terintegrasi di Mainboard.
Dari hal sederhana, seperti sekrup, plasti slot ISA, atau slot PCI, Cassing, Power supply dipesan ke industri China. Kemudian I/O Card, Drive, Hard Drive, Sound Card juga dikerjakan pabrikan milik China.
Industri China yang awalnya hanya mengerjakan pesanan IBM, lama-lama mereka buat part sendiri denga brand sendiri, untuk melayani brand lain atau "PC JANGRIK" (Masih ada ya istilah ini sekarang?)
Melangkah lebih maju, industri China juga diberi kepercayaan untuk membuat mainboard-nya. Nah, sampai di sini ambrol lah semua rahasia brand-brand ternama tersebu. Seluruh part sudah bisa dikerjakan industri China, walau terpisah-pisah. Ini lah yang kemudian melahirkan brand-brand China sendiri.
------
Karena Part dibuat di negara sendiri, melayani pesanan banyak brand, maka ongkos produksi jadi murah. Ujungnya Brand China yang hilir dari roadmap ini pun menjadi sangat kompetitif harganya.
Akhirnya, IBM dari contoh ini, pun menyerah, pasrah diserahkan ke LENOVO, brand milik China.
-----
Sampai sini paham Pak Menteri dan Pejabat-pejabat dari Presien @prabowo ?
Jadi bukan China memulai dari meniru atau menjiplak, tapi memulai dari mengundang investasi, dan menguasai tekenologi, baru buat produk sendiri bahkan bisa membuat produk dengan berbagai level KW karena kesiapan industri Part atau komponennya.
----
Pemerintah China pun dari dulu sampai sekarang, tidak ada satu pun pejabatnya yang menyerukan "buatlah produk tiruan, jiplak, etc etc", seperti Menteri kita ini.
Mereka tidak banyak bicara retorika, tapi langsung berbuat lewat kebijakan untuk memfasilitasi rakyatnya. Salah satu kebijakannya China "santai" saja saat dunia meributkan aturan larangan menjiplak, peniruan, etc etc.
Ibaratnya, jika rakyatnya yang 'kreatif" kena semprit brand yang merasa dijiplak produknya, paling diingatkan "mbok kowe ra usah niru plek ketiplek, buat beda-beda titik gitu lho".
Berbeda kan dengan Indonesia? Ada yang kreatif jadikan Monitor CRT jadi TV, malah berurusan dengan polisi. 🤣
---
Begitu.
Pagi-pagi koq wis panjang sekali menulis. Kopi sampai dingin. 😅
@hazira_yusof@bugs_buddy@wallpassjournal@FAM_Malaysia@Alaves Your grandfather from west Java, he already has his own culture and then he moved to Malaysia, still he has his Indonesian culture in his blood and you were born there and you said that's all your culture? Wkwkwk, bro doesn't even understand what she wrote