@Cingliterasi gue pun berpikir apakah ini cara Tuhan agar gue bisa kembali menulis hhh dari kapan ketunda terus 😔
hubungan history sama ga scroll apa jir? orang yang gue subscribe aja banyak....
👤: Rmen, tulis apapun dalam bahasa Indonesia dong
🌴: (menulis banyak hal dalam bahasa indonesia, silahkan di lihat di gambar)
— yang paling penting adalah....jangan jadi orang jahat ya gais.
Ingat kata Carmen ya hachu♡
#Hearts2Hearts#하츠투하츠#CARMEN@Hearts2Hearts
@midobirb tapi ini tuh kayak ga ada alasan tertentu kenapa dia mau pensiun sebagai claire? soalnya claire tuh udah kayak identitasnya banget gasi iconic bgt 🫠
terus suaranya masih terdengar ganteng dan pas ngomong juga tadi ramah banget hueueueue
terus senyumnya masih sama bjirrr cakep bgt siyalan. tida heran dulu gue naksir 🤪
wow i just met my jhs crush lol 😂 selain karna cakep, dulu naksir karna dia main drum pas pensi sekolah dan dia ni jago gitu. terus gue tuh emang demen banget sama drummer dari dulu. tapi cuma naksir karna dia kece doang, bukan yang buat pdkt gitu wkakaka kocyag 😆
ga paham wilayah jakarta, tapi bener juga sih demo sekarang tuh mending buat ningkatin awareness biar ada pergerakan bersama gitu loh. da emang dari dulu ge demo tuh ga didenger sama pemerintah langsung. nunggu rame baru gerak ck.
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.