GILA!!!!! DEMO UDAH SEKEOS INI MEDIA LOKAL PADA BUNGKAMM!!?!!! HARUS BANGET NIH GUE BARU TAHU KEMARIN DI NEGARA GUE ADA DEMO GEDE KEOS TAPI TAHUNYA DARI MEDIA TETANGGA. di bungkam oleh media lokal ,di beritakan oleh global
Makasih buat 58% deh. Keramat banget tuh angka. Serem banget, sekompak itu lho media lokal dibungkam. Apa itu setan gunung Kawi??? 58% kita lewattt
Bangun all, mantan Direktur Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar, korupsi Rp10,2 miliar selama 8 tahun!!!
Dana buat pakan dan perawatan satwa diembat. Sekitar Rp7,4 miliar masuk kantong pribadi.
Akibatnya? Satwa jadi menderita, kurus, kurang sehat, bahkan ada yang mati.
Duit dimakan sendiri, satwanya yang jadi korban. Kurang kejem gimane coba ini orang😅
Kegiatan Komersial tapi maunya volunteer☺️
ga mampu hire secara profesional ya?suka banget kayaknya sama kerja nyata status kerja bercanda.
takut banget nanti volunteer di SP.
2 tahun lalu, kami udah konsultasi ke pengacara buat cerai. Kemarin, suami gue nangis pas gue peluk di ulang tahun pernikahan ke-8. Bukan karena selingkuh. Bukan karena KDRT. Tapi satu hal sepele yang kami biarkan numpuk bertahun-tahun.
Semua berawal dari rasa capek yang gue simpen sendiri. Kerja full time, sama kayak suami. Tapi begitu pulang, gue lanjut "shift kedua." Masak, beresin rumah, urus anak. Suami pulang, rebahan, main HP. Gue capek fisik dan mental. Tapi keliatannya cuma gue yang capek.
Yang bikin gue makin frustrasi bukan bebannya. Tapi suami gue gak ngerasa itu masalah. "Kan lo emang lebih jago masak." "Kan anak-anak lebih nyaman sama lo." Kalimat itu kedengaran kayak pujian. Tapi sebenarnya cara halus buat lepas tanggung jawab.
Gue gak langsung ngamuk atau minta cerai. Gue diem, dan diemnya itu yang paling berbahaya. Gue mulai jarang cerita hal kecil ke dia. Dia gak sadar, karena buat dia semuanya kelihatan baik-baik aja. Padahal gue udah capek duluan sebelum ngerjain apapun tiap hari.
Titik paling bawah itu waktu gue diem-diem konsultasi ke pengacara. Bukan karena udah yakin mau cerai. Tapi karena gue udah gak tau harus ngapain lagi selain pergi. Untungnya, sebelum gue lanjut, gue cerita dulu ke psikolog keluarga.
Psikolog kasih nama buat yang gue alami: mental load. Bukan cuma soal siapa yang nyapu atau masak. Tapi soal siapa yang harus selalu mikirin dan ngatur semuanya. Vaksin anak. Stok sabun habis. PR anak udah dicek belum. Semua numpuk di kepala satu orang, tanpa pernah dianggap "kerja."
Psikolog jelasin kenapa suami gue gak sadar. Kerja fisik kelihatan. Cuci baju, masak, itu semua visible. Tapi kerja mental, mikirin dan ngatur semuanya, itu invisible. Suami gak ngerasa "kerja" karena gak megang sapu. Padahal gue udah capek duluan sebelum mulai ngerjain apapun.
cc : anitarisoraya
Udah bela Nadiem segitunya, sekarang lihat unpaid intern dikasih SP itu bagian dari ambis-hustle culture. Mungkin emang bener techbro kayak lo pantes dikirim ke reeduaction camps bersama techbro lainnya
Ada yang aneh deh sama managerial di tweet ini, maaf ya aku bakal sampaikan otokritik ini dengan point out hampir semua hal yang bikin orang-orang juga muak.
Managerial masnya ini memang aneh banget dan jelek parah.
Dari awal cerita soal milih 3 intern (2 UI, 1 UPH, semua IPK >3.7), terus cerita achievement pribadinya waktu kuliah ke Prancis-Jerman meski bidikmisi. Satu yang belum pernah ke luar negeri disuruh bikin paspor biar “punya mimpi”, katanya itu diajarkan sama pengurus asrama bidikmisi ITB.
Well, bagus sih kedengarannya, tapi kemudian langsung kasih contoh kepemimpinan yang bikin orang geleng-geleng kepala.
Di situ masnya ada kasih tugas ke salah satu intern.
“Tugas lu weekend ini nonton film ini” (film 9 Summers 10 Autumns).
Dikasih Jumat malam. Intern balas: Sabtu-Minggu coba cari filmnya, ternyata cuma ada di Netflix yang dia nggak punya akun. Dia coba alternatif lain, nggak ketemu, akhirnya baru Senin sore pinjem akun temen dan rencana nonton malam itu.
Eh langsung dibalas, “SP 1 bro. Will give you chance 2x lagi.”
Padahal internnya udah minta maaf dan bilang “Baik kak Luca”. Tapi tetap diunggah ke publik sebagai bahan olokan.
Terus habis itu masnya nunjukin flowchart “high agency vs low agency” yang super duper kaku.
Di mana low agency = diam nunggu ditanya, ga eskalasi, akhirnya SP.
Kalau high agency = cek ketersediaan film duluan, chat temen, pinjem akun, nonton Sabtu malam, lapor lebih awal.
Terus bilang “Common sense. Gue kenal yang punya film dan gue tau valuenya, makanya gue taruh ke lu dulu, tapi lu missed.” dan “Berlaku buat semua, framework simpel.”
Hal yang paling bikin aku muak adalah pas banyak otokritik masuk soal “kasih tugas weekend”, “kasih SP tanpa prosedur jelas”, “maksa anak magang kerja di hari libur”, malah responnya sengak banget:
“Pasti kamu bukan top 3 uni jadi dikasi tugas weekend nangis.”
Like—What?!!
Argumentasinya sebatas degrading orang lain doang.
Terus di thread lain juga ada bilang “Lah gue business owner bukan HR”.
Kayaknya mindsetnya cuma “gue owner, gue yang atur, lo pada ga usah banyak bacot” doang ya?
Terus yang aneh dari masnya juga keliatan di sini: suka positioning diri sebagai mentor yang “ngajarin resilience” dan “ngasih mimpi”, tapi begitu ada sedikit delay atau ga sesuai ekspektasi “high agency”-nya, langsung kasih SP formal.
Framework high agency-nya secara teori oke, tapi diterapin ke anak magang/intern yang baru, dengan tugas yang bisa dibilang debatable (nonton film doang di weekend), plus dikasih pas Jumat malam, itu rasanya lebih ke power trip daripada leadership.
Belum lagi di post utamanya dia bilang “Gapake babibu cuk gue SP” sambil nyebutin “baru tau juga LK21 udah musnah dan filmnya gaada bajakan 😂”.
Seolah-olah mengharapkan internnya pake cara pintas ilegal.
Like—okay???
In conclusion, ini bukan contoh leadership yang bagus sih mas. Ini lebih ke boss yang suka kontrol, suka kasih warning formal buat hal kecil, suka dismiss kritik dengan “lo bukan dari top uni” atau “gue owner”, dan suka bikin teman-teman yang lagi magang merasa harus selalu “on” bahkan di weekend.
Power imbalance-nya itu loh gede banget, dan cara mengajarnya malah bikin orang takut salah daripada bener-bener berkembang.
It will only bring you compliance, not trust.
Oh God—may this kind of leader never find me.
Ternyata nonton story temen-temen whatsapp lebih menarik yaa, caption seadanya, foto/video grafik kematian. Tapi terasa dekat dan menyenangkan.
Jadi tau kalo hari ini temen ada yang ngechat tembok rumah. Nilik kebon, ngajak anaknya sepedan, masak sayur bayem. Plis temen-temenku update story whatsapp terus karena aku melu seneng ndeloke 🥹
Sadly bisa melebar kyk kasus 98. Dulu wanita2 tionghoa jd korban. Nah ini klo gk segera dihentikan, TAKUTNYA muncul persekusi "klo diajak nikah/pacaran nolak, berarti lesbi, harus diperkosa biar lurus lg."
Man... I'm scared that the pattern is too obvious arahnya bakal kemana.
Kalian harus nonton ini.
"Indonesia sedang tidak baik-baik saja" di 크랩 KLAB dari KBS, media Korea.
Professor Youngkyung Ko dari Yonsei bilang:
1) IHSG ambruk, terburuk di Asia
2) Rupiah melemah, tapi efek ekonomi dalam negerinya sangat parah, dibanding negara lain yang mata uangnya lemah juga
3) Danantara, tidak ada transparansi, peluang cuci uang lewat patriot bond,
4) MBG makan anggaran sangat besar, pemborosan. Dengan pengelolaan ngawur. Keracunan di mana-mana
5) Korupsi yang dilakukan BGN dalam tata kelola MBG, dari konflik kepentingan dan pengadaan.
Guetuh heran banget sama ngabers anti-childfree ini. Kek… pengaruhnya ke lo apa jir. Kenal juga kaga. Takut manusia punah? Mau ada satu pasangan childfree tuh 10 pasangan lainnya masih mau punya anak, bahkan ada yg beranak pinak. Ampe bikin konten norak segala tuh knp lu pada
ah anyway mall2 besar di surabaya mulai proyek pemagaran area kompleks mall mereka.
alasannya preventif menghindari dampak kerusuhan kalau ada demo besar.
they know something wrong is going on. if this doesn't alarm u guys, idk what else @/rezim. do something.