apapun alasannya tindakan ini sangat tidak dibenarkan. Ironisnya tak ada satupun manusia dalam video ini yang menghentikan perempuan ini. apa kabar dunia...???? SUUDAHH GILAA!!!!
belum lagi di Badung bli (hampi4 seluruh kawasan), trotoar nggak seberapa, rusak² pula, dipakek buat parkir motor. Pejalan kaki nggak ada harga dirinya apalagi untuk kaum difabel?! APAKABAR DUNIA???? SUDAH GILAAA!!
Pernah lihat foreigner yang difabel jalan di trotoar Ubud, lokasi di dekat Gedong Sisi, karena trotoar rusak, tongkat jadi tidak seimbang dan tamu jatuh sampai banting tongkat.
Pemerintah dan rakyat umumnya mana malu lihat ginian, uangnya diambil tapi fasilitasnya busuk.
Bali ramai.
Airport penuh.
Hotel & villa banyak terisi.
Tapi kenapa banyak pelaku lokal merasa ekonomi tidak sekuat dulu?
Salah satu jawabannya: economic leakage (kebocoran ekonomi).
Pariwisata Bali terus tumbuh, tetapi semakin banyak uang wisatawan yang tidak tinggal lama di Bali.
1. Kepemilikan bisnis
Banyak villa, restoran, beach club, dan properti wisata dimiliki investor luar Bali atau luar negeri.
Apa yang terjadi?
• owner tinggal di luar negeri
• profit ditransfer keluar
• spending lokal minimum
Tidak ada yang salah dengan investasi.
Tetapi ketika profit utama ditransfer keluar Bali, efek ekonomi lokal mengecil.
Bali ramai, tapi kekayaan tidak selalu mengendap di Bali.
2. Ketergantungan pada OTA
Banyak akomodasi sangat bergantung pada platform seperti:
https://t.co/5nodR8hHtl, https://t.co/1HxYrFxK4M, atau https://t.co/oz8Vp9qGtP.
Ketika tamu membayar Rp5 juta untuk menginap, sebagian langsung “keluar” dalam bentuk:
– komisi platform
– advertising cost
– payment processing fee
Kadang 15–25% langsung hilang sebelum uang menyentuh ekonomi lokal.
Ditambah lagi banyak properti sangat bergantung pada OTA.
Akibatnya:
okupansi tinggi ≠ profit tinggi
Banyak operator sebenarnya “membeli tamu” melalui platform digital.
3. Digital Economy Leakage
Dulu marketing hotel banyak lewat relasi dan agen perjalanan.
Sekarang banyak bisnis Bali membayar rutin ke:
https://t.co/IN46CFchuu
https://t.co/pSQcLcwfqa
software hospitality
PMS
channel manager
CRM
AI tools
dan subscription global.
Bali menjadi destinasi dunia.
Tapi sebagian besar “jalan tol digital”-nya dimiliki perusahaan global.
Inilah paradoks Bali hari ini:
Wisatawan datang semakin banyak. Tetapi sebagian uangnya semakin cepat keluar.
Mungkin pertanyaan terbesar Bali hari ini bukan:
| “Bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan?” |
Melainkan:
| “Bagaimana membuat lebih banyak uang pariwisata tinggal lebih lama di Bali?” |
Seonggok daging koplok yang berkeliaran dibumi ini. Kesimpulan :
1. Suck-It Djiwa!
2. To LOL!
3. Kata gua mah mendingan lu bayar cenblu! mayan tuh engagementnya.
@anthrsidefei@arblunaaaaa maksudnya, kan dia abis turun dari ojolnya tu kak, nah diperjalanan tu dia sering males diajak ngobrol sama drivernya yg mn pasti tau ntar ujung²nya dimintain tip tuh, maksa pula. nah dia takut kalo gak ngasih, takut disamper balik lain wkt krn tu ojol drop ke kosan dia
@TheLaritan@Ftlgym_id Agak amhigu dijaman² sekarang bun,
mereka juga ngejar engagement, brand awareness juga. Nah kita tahu sekarang, biasanya yg kontradijtif tuh malah yg rame, engagement naik brand awareness juga naik.
sekali rame, sekalipun bad expose yaa yg penting rame aja dulu.