"They underscored that military courts in Indonesia have historically resulted in limited public access and lacked mechanisms to ensure accountability for higher-ranking officials."
Buzzer sudah mulai digerakkan untuk bisa goreng berita ini dengan cara menyamakan pembangunan pusat MRO = membangun pangkalan militer Amerika Serikat di Indonesia. Sekali lagi, membuktikan kualitas oposisi kita pun di sektor ini 'sama sampahnya' dengan performa pemerintah.
In this geopolitics, Indonesia harus segera meningkatkan belanja alutsistanya disaat situasi regional sedang tidak stabil adalah kebijakan yg tepat.
Orang-orang pada nanya, "emang siapa yang mau nyerang Indonesia?"
Perlu diingat, Indonesia itu memiliki banyak jalur pelayaran penting di dunia dan menjadi vital buat beberapa negara di Asia Pasifik khususnya. Mungkin, gak ada yang mau nyerang Indonesia. Tapi bagaimana bila perang Selat Taiwan pecah? Dan perang ini berpeluang menyeret banyak negara-negara Sekutu di sana, mulai dari Jepang, Amerika Serikat, Australia dan lain-lain.
Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?
1) Ekonomi Cina sangat bergantung pada Selat Malaka, per 2025 itu 80% impor minyak mentah (crude oil) Cina melewati Selat Malaka. Selat Malaka juga mengangkut sebagian besar LNG (gas alam cair) dari Timur Tengah dan Afrika. Lalu, ada sekitar 60–66% (dua pertiga) perdagangan maritim Cina juga melewati Selat Malaka dan Laut China Selatan. Artinya? Cina punya kepentingan di Selat Malaka, bila perang Taiwan pecah, Cina akan berusaha mengamankan Selat Malaka dari upaya blokir laut yang dilakukan Sekutu.
2) Ekonomi Jepang dan Korea Selatan juga sangat bergantung pada Selat Malaka, terutama untuk impor minyak bumi dan LNG, yang merupakan tulang punggung keamanan energi mereka. Bila perang Taiwan pecah, kedua negara ini kemungkinan besar berupaya menjaga kepentingan mereka di Selat Malaka atau mencari jalur alternatif lain di Selat Sunda misalnya.
3) Amerika Serikat dan Australia kemungkinan juga akan berupaya melakukan blokade ekonomi dengan menutup jalur-jalur ekonomi yang menjadi urat nadi Cina dan mengamankan jalur-jalur penting lainnya di Indonesia.
4) Ini belum termasuk India yang mungkin gak ingin pengaruh militer Cina menyebar di Samudera Hindia dan mencoba bermain dalam konflik bila pecah perang Taiwan.
Intinya, mungkin gak ada yang nyerang Indonesia secara langsung. Tapi kalau skenario diatas terjadi, perang itu ada di perkarangan rumah kita sendiri karena perairan Indonesia itu strategis buat ekonomi banyak negara di Asia Timur khususnya. Kalau Indonesia dalam kondisi lemah, kita gak bisa mempertahankan perairannya sendiri dari kapal-kapal militer asing.
barusan ngobrol2 dengan teman2 KOMDIGI jadi mulai ngerti kisah di balik layar dari pembatasan umur & rating game ... kesimpulan saya, dari sisi platform mereka keberatan karena ada 70 jt anak Indonesia, ini bisa bikin rejeki platform jadi jeblok ..
Indonesian Military #TNI has published the names of the four soldiers:
•Pvt. Farizal Rhomadhon (KIA)
•Pvt. Rico Pramudia (WIA, seriously injured)
•Pvt. Bayu Prakoso (WIA)
•Pvt. Arif Kurniawan (WIA)
Pvt. Rico was flown by helicopter to St. George Hospital in Beirut, while Pvt. Farizal's body will be repatriated to Indonesia. He leaves behind a wife and a two-year-old daughter🥀
https://t.co/7fQxTAsaQq
Imho, bahasa² yg dipakai di Kristen tuh (di masa kini ya) memang lembut. Tone-nya lebih ke merangkul bukan menyuruh. Sementara di Islam, lebih sering ke memerintah dan guilt-trip.
Aku waktu pertama lihat kalimat ini juga nangis. Lembut banget dan berasa dipeluk.
1. Karena agamanya sendiri melarang nikah dengan yang tidak seiman. That's the nature of institutionalized religion: us vs them mentality.
2. Karena politik. Sebelum Orde Baru, negara gak ikut campur soal agama. Bahkan di KTP pun gak ada kolom agama (lihat foto).
Tapi Orde Baru butuh sistem kontrol, maka dibuatlah peraturan UU No 1. Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
(1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.
Di bawah Suharto, negara sangat fokus pada stabilitas politik dan legitimasi kelompok agama.
Setelah trauma konflik ideologi (pasca 1965), rezim butuh:
- kontrol sosial & administratif
- dukungan kelompok Islam
- dukungan kelompok agama lain
- menghindari konflik sensitif
Jadi negara memilih jalan aman:
serahkan ke agama → negara ikut aturan agama (balik ke no 1). Negara melarang nikah beda agama secara halus lewat birokrasi.
Pengingat harian untuk ga terlalu ramah sama politisi (bahkan sedang tidak dalam kekuasaan) dan gak semua yang kontra itu coblos 02. Sekian terima kasih.
Cu pernah bingung pilih AI mana?
Mbah kasih bocoran simpel:
🔵 ChatGPT → Buat mikir dan diskusi. All-rounder.
🟣 Claude → Buat coding dan nulis. Rapi banget hasilnya.
🔴 Gemini → Buat riset dan baca file panjang. Gratis pula.
🟡 Grok → Buat stalking Twitter. Ngerti drama dan tren.
Gak perlu pake semuanya cu.
Mbah biasanya: ChatGPT buat ide → Claude buat eksekusi → Gemini buat cek fakta.
Yang penting tau kapan pake yang mana. Bukan yang paling mahal, tapi yang paling cocok 🧙♂️
CCP Chinese violence against one another.
Bangkok Post reported a bizarre traffic accident.
Police found a Chinese woman bound with duct tape and gagged in the back seat of a wrecked vehicle.
After tracing the identity of the fleeing male driver, everyone gasped – the perpetrator was none other than their own fellow Chinese.
The court has approved an arrest warrant for the Chinese man, and police are currently making every effort to apprehend him.
Mengecewakan. Sejauh ini kenapa respon TNI semuanya hanya fokus di minta maaf dan gk ada penjelasan si Babinsa akan dihukum seperti apa?
Alasan 'kesalahpahaman' terlau sering dipake untuk downplay pelanggaran anggota. Hanya karena salah paham bisa sebegitu jahatnya fitnah dan aniaya rakyat kecil? There is something wrong with that Babinsa &/ how he operates (SoP, training, dll)
Dari Tailan, berakhir pada PEA, Turmenistan, dan Masedonia, A Tale of Exonym and Endonym
Gak nyangka ternyata twit kemarin soal Tailan ternyata bikin tsunami juga. Mumpung masih anget terusin ah.
Pertama, ternyata yang keberatan dan merasa aneh dengan nama Tailan bukan aku saja. Banyak sekali yang merasa nama resmi untuk negara Thailand ini tidak bisa di-Tailan-kan. Ada yang menyebut tetap Thailand, ada yang mengusulkan menjadi Tailandia, atau kembali ke Muangthai, seperti pada zaman dulu. Ini menunjukkan adanya penolakan yang cukup masif untuk pemakaian nama Tailan. Ada beberapa joke yang mengatakan apakah dengan demikian kita harus menggunakan taiti, atau makanan tai.
Kedua, setelah pengamatan lebih lanjut, ternyata bukan Tailan saja yang bermasalah. Muncul juga singkatan baru PEA (Perserikatan Emirat Arab) menggantikan UEA (Uni Emirat Arab) yang sudah lebih dikenal. Ada juga Turmenistan, tanpa "k" pada Turk, menggantikan Turkmenistan. Ada lagi Masedonia menggantikan Makedonia atau Macedonia.
Nama-nama resmi ini juga bermasalah. Nama "Thai" dan "Turk" itu mengacu pada bangsa tertentu, yang menurut hemat saya, tidak bisa kita utak-atik sembarang. Kalau kita ganti, berarti bangsa Thai akan menjadi bangsa Tai, dan bangsa Turk akan menjadi bangsa Tur, yang saya rasa tidak pada tempatnya.
Begitu pula dengan penggantian UEA menjadi PEA. Para penutur milenial ke bawah sudah ketawa-tawa aja mendengar nama negara yang dibaca "pea". Lagi pula, mengapa pula kita anti dengan kata "uni"? Bukan uni banyak ditemui di Minang? (dan juga uda). Apakah dalam buku sejarah nanti kita akan mengganti Uni Soviet menjadi Perserikatan Soviet. Dan Manchester United menjadi Perserikatan Manchester? Saya rasa ini juga tidak elok.
Yang terakhir Masedonia. Sesempit pergaulan saya, saya belum pernah mendengar orang mengucapkan Macedonia dengan s, selalu dengan k. Nama resminya pun adalah Република Северна Македонија, yang dibaca Makedonia, pakai k. Entah usulan siapa yang menyuruh menggunakan s. I rest my case...
Urusan endonim dan eksonim ini kadang memang gak ribet dan aneh. Kadang kita menyerap langsung dari ejaan Inggris, sebagai bahasa yang paling umum dipakai masa kini. Kadang juga dari bahasa Arab yang juga sudah panjang sejarahnya berhubungan dengan kita; misalnya Misr untuk Mesir, alih-alih menggunakan Egypt mengikuti Inggris. Kita juga menyerap banyak dari Portugis, misal Inggris yang diserap dari Ingres. Dan tentu saja kata Belanda dari Portugis, Holanda, yang kemudian terpeleset menjadi Belanda. Dengan kata lain, eksonim, alias nama asing sebuah negara yang dipakai oleh negara lain, sangat ditentukan dengan sejarah hubungan negara tersebut dengan negara penyebutnya.
Yang paling aneh misalnya Jerman. Eksonimnya lahir tergantung relasi bangsa Jerman dengan negara lain. Orang Jerman menyebut negaranya dengan Deutschland alias tanah rakyat. Orang Roma menyebut mereka Germania, yang berarti tanah tetangga, atau tanah pejuang, karena perang antara Romawi dengan mereka. Orang Prancis menyebut mereka Allemagne, karena mereka berhubungan dengan suku Alemanni dari Jerman. Orang Slavia menyebut mereka dengan Niemcy, yang artinya orang berbahasa asing. Orang Finlandia menyebut mereka Saksa, karena bersentuhan dengan suku Saxon dari Jerman, dst. Ruwet bukan. Pada intinya, sebutan nama sebuah negara sangat tergantung dengan sejarah hubungan antarnegara.
Nah, kembali ke laptop. Terus bagaimana kita seharusnya menyebut sebuah negara asing. Ya tergantung relasi kita dengan mereka. Misal, dulu kita banyak berelasi dengan Maladewa, mungkin lewat perdagangan Melayu. Tetapi generasi baru lebih banyak mengenalnya dengan Maldives, sebagai tempat wisata.
Lalu mana yang paling benar? Tidak ada. Biar masyarakat yang menentukan. Untuk negara-negara yang tidak banyak berelasi dengan Indonesia, silakan tanya ke kedutaan besar atau konsul kita di sana, atau diaspora Indonesia di sana. Mereka lebih berhak menentukan nama eksonim daripada para ahli bahasa, yang hanya berdasarkan aturan linguistik dan mengabaikan faktor sejarah dan sosiologis, yang jangan-jangan bahkan disuruh menunjuk letak negaranya di peta saja kesulitan.
Masih banyak PR nama negara lain yang belum selesai. Misal, Kiribati yang sebenarnya dilafalkan kiribas, bukan kiribati. Begitu pula dengan nama sulit yang bikin lidah melintir seperti Luxembourg, Liechtenstein, dan Seychelles. Poin saya tetap, serahkan ke pemakai bahasa. Mereka yang lebih tahu nama negara tersebut lebih tepat di-Indonesiakan seperti apa.
The answer is, is.
But it highlights something interesting in modern football too.
In England, for decades a football club announcement would be, "Aston Villa ARE delighted to announce ".
Now, due to American ownership and influence, the same sentence would now be, "Aston Villa IS delighted to announce ".
Is, in this context is actually grammatically correct as a football club is a unitary body ( in grammar although a club has many players, staff and supporters it's seen as unitary, 1, like a person, "Dave IS", not "Dave ARE") but form many Brits, ARE is still widely used.
Check it out on club feeds. They'll mostly use "is".
riset ini tuh bener-bener definisi "overthinking is a killing silent".
intinya, hasil penelitian nemuin kalau hampir 50% waktu kita itu dipake buat ngelamun atau mikirin hal lain di luar apa yang lagi dikerjain,
dan plot twist-nya, mau lagi ngayal yang indah-indah sekalipun, ternyata tingkat bahagia kita tetep lebih rendah dibanding kalau lagi bener-bener fokus sama apa yang di depan mata.
jleb banget, . .
a wandering mind is an unhappy mind, alias kalau pikiran hobi "jalan-jalan" kemana-mana, ya siap-siap aja makin ngerasa nggak happy,..
karena rupanya otak kita tuh didesain buat present/ fokus hari ini, tapi kita malah hobi nyiksa diri dg bikin skenario fiktif di kepala 😅