El engaño del ascensor:
Entra al ascensor como si estuviera hablando con su amante y le dice:
Voy a colgar, tu marido está conmigo en el ascensor y cuelga… 😂
@WidasSatyo Ortu pd dasarnya sllu mengusahakan yg terbaik utk anak mereka sepanjang pengetahuan & kemampuan mereka... Namun sebaik apapun itu, semua hanya manusia biasa yg pasti ada salah & benar. Kt yg udh tau mana yg salahlah spy jgn mengulang kesalahan yg sama
"The best antibiotics are a scalpel and a drainage needle. Don’t try to replace a surgeon or interventional radiologist with an antibiotic.” Andrew Morris, M.D @ASPphysician#IDquotes#idxposts
Bukan dokter atau ilmuwan, tapi montir mobil ini ciptakan alat persalinan ajaib dari kantong plastik yang kini didukung WHO untuk selamatkan jutaan nyawa ibu dan bayi.
Tahun 2006, Jorge Odon, seorang mekanik mobil biasa dari Argentina, menonton video trik mengeluarkan gabus botol anggur pakai kantong plastik. Malam itu dia tiba-tiba terbangun dengan ide gila. kalau kantong bisa narik gabus tanpa rusak, kenapa gak dipakai buat bantu bayi yang terjebak di jalan lahir?
Dia langsung bereksperimen di dapur rumahnya. Pakai toples kaca sebagai simulasi rahim, boneka anaknya sebagai bayi, dan kantong plastik biasa. Purwarupanya sederhana, selongsong plastik steril yang dimasukkan ke sekeliling kepala bayi, lalu dipompa sedikit udara supaya mencengkeram lembut, lalu ditarik keluar.
Awalnya banyak yang ketawa. Montir mau ngajarin dokter kandungan? Tapi konsepnya brilian. Alat ini jauh lebih aman dan murah daripada forceps atau vacuum extractor yang sering bikin cedera pada kepala bayi.
Kini alat bernama Odon Device ini sudah diuji klinis, mendapat dukungan penuh dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan terus dikembangkan untuk dipakai di negara berkembang yang kekurangan fasilitas operasi caesar. Penemuan sederhana ini berpotensi selamatkan nyawa ibu dan bayi saat persalinan sulit.
Gue pribadi sangat terinspirasi sama cerita Jorge Odon. Dia bukti bahwa inovasi besar gak selalu datang dari orang berijazah tinggi atau dana miliaran. Cukup rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian mencoba ide gila di dapur sendiri.
Kadang solusi untuk masalah dunia yang rumit justru lahir dari hal-hal sederhana sehari-hari.
Guys, ada kasus yang menurut gue harus lebih banyak disorot dan ini bukan kasus kecil.
Rp28 miliar dana umat dikumpulkan selama 40 tahun raib.
Pelakunya mantan kepala cabang bank BUMN sendiri.
Kasusnya:
Paroki Aek Nabara di Sumatera Utara menjadi korban penggelapan dana sebesar Rp28 miliar oleh mantan kepala cabang BNI bernama Andi Hakim Febriansyah.
Uang itu bukan uang biasa.
Itu dana yang dikumpulkan umat selama 40 tahun untuk pembangunan gereja, kebutuhan kesehatan, dan pendidikan jemaat.
Empat dekade tabungan kolektif.
Habis dalam satu pengkhianatan.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya penggelapannya:
Bendahara gereja menyampaikan sesuatu yang menurut gue adalah inti dari seluruh masalah ini:
Deposito berjangka yang resmi bisa dicairkan tanpa tanda tangan saya, tanpa kehadiran saya, tanpa berhadapan dengan teller.
Lalu di mana pengawasan BNI?
Ini bukan pertanyaan retorika.
Ini pertanyaan teknis yang serius.
Dalam sistem perbankan yang sehat pencairan deposito berjangka membutuhkan verifikasi ketat.
Ada prosedur.
Ada tanda tangan.
Ada konfirmasi kehadiran.
Kalau semua itu bisa dilewati oleh seorang kepala cabang itu bukan hanya soal oknum.
Itu soal lubang sistemik dalam pengawasan internal bank.
Dan respons bank yang dikritisi:
Paroki Aek Nabara menyatakan BNI kurang kooperatif dalam menangani kasus ini.
Pihak gereja bahkan harus datang ke bank dan meminta pertanggungjawaban secara langsung setelah kasus ini sudah jelas melibatkan pegawai bank yang datang atas nama BNI, bukan atas nama pribadi.
AHF adalah wajah BNI bukan AHF sebagai pribadi. Karena itulah kami percaya.
Dan ini adalah poin hukum yang sangat kuat. Ketika seseorang datang dalam kapasitas jabatannya sebagai kepala cabang bank BUMN kepercayaan yang diberikan bukan kepada individu itu. Kepercayaan diberikan kepada institusi yang dia wakili.
Kalau institusinya kemudian cuci tangan dengan mengatakan itu oknum itu adalah respons yang tidak adil dan tidak bertanggung jawab.
Ini bukan pertama kalinya:
Kasus penggelapan oleh oknum pegawai bank BUMN bukan fenomena baru di Indonesia.
Dan polanya hampir selalu sama: pelaku adalah orang dalam yang dipercaya, korban adalah nasabah yang percaya pada nama besar institusinya, dan respons institusi hampir selalu lambat dan defensif.
Yang berbeda dari kasus ini adalah skalanya Rp28 miliar dari komunitas yang mengumpulkan uang selama 40 tahun dan korbannya adalah umat yang mempercayakan tabungan hidup mereka kepada bank negara.
Yang perlu dituntut secara konkret:
Satu BNI harus menjelaskan secara transparan bagaimana deposito berjangka bisa dicairkan tanpa prosedur verifikasi yang seharusnya berjalan.
Dua Kalau ada lubang sistemik dalam pengawasan internal itu bukan hanya tanggung jawab pelaku. Itu tanggung jawab manajemen dan sistem audit internal bank.
Tiga Korban berhak mendapat kompensasi dari institusi bukan hanya menunggu proses pidana terhadap individu pelaku yang mungkin butuh bertahun-tahun.
Empat OJK sebagai regulator perbankan perlu memberikan penjelasan publik apakah ada kelalaian pengawasan dari sisi regulasi.
Kalau bank BUMN tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang beroperasi atas nama bank lalu untuk apa ada bank negara?
Mungkin kalo tertarik aku udah jadi simpanan ya kak dari dulu (amit amit)
Aku pernah jadi RM di Bank dan yang aku handle rata rata nasabah prioritas. Ya tidak sedikit nasabah itu yg ngajakin makan siang, sampe liburan. Bahkan ada yang nawarin apartemen dan Honda Jazz waktu itu wkwk
Bagian tersulit dari penolakan aku itu ketika mereka narik dananya. Otomatis aku kudu nyari lagi sebesar dana yg ditarik si Nasabah kalo dia sampe kecewa sama jawaban aku. Waktu itu aku cuma bilang begini
“Pak, kalo aku pengen hidup enak dan praktis gak mungkin aku susah2 begini naik busway tiap hari. Makasih atas tawarannya ya pak, tapi bapak mau gak aku kenalin sama temenku cakep pramugari lagi”
Dan dia langsung seneng denger ini wkwk, dia gak narik dananya aku aman dari kerjaan aku tapi ya satu sisi kenapa aku jadi jembatan orang buat selingkuh.
Tapi waktu itu aku mikir harus aman dulu dari kerjaan dan posisi aku🥲🥲