Hi SCTV mediamu itu gunakan FREKUENSI PUBLIK, artinya ada hak publik. Lha besok massa rakyat sipil dan mahasiswa turun aksi ke jalan, malah urusi kawinan orang ya.
Saya kerja untuk AdnKronos Italy Press, Overseas Korean TV Network, Deutsche Welle German dan lainnya, gak ada media-media Eropa, Amerika, Kanada, Jepang, Korea Selatan dllnya ngurusi kawinan orang!!! Berita aja cukup, gak usah live beginian...
*Sesuai amanat UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, frekuensi publik tidak boleh dimiliki secara pribadi dan hanya dipinjamkan kepada lembaga penyiaran melalui izin resmi.
cc:threadfaridaindriastuti
Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
@baseconvo ya terus kenapa kontol? kaum lu ini selalu merasa open minded tapi tiap ada yang beda pendapat langsung dicap tolol lah, homofobia lah, gak normal lah. aneh lu. orang kayak lu gini nih yang bikin orang yang tadinya netral dan mau dengerin malah jadi mundur dan males peduli.