@prkdlx Yuupp, tapi yang bikin lebih susah karena efek kecanduan video² pendek ala ala TikTok yang bikin fokus kita memendek dan cenderung gampang bosen
Beberes file tahunan di pc dan drive, nemu banyak harta karun jaman kuliah. Sekarang baru sadar kalau ada banyak resources yang disia-siakan. Padahal kalau dimanfaatin betul² mungkin IPK gue gak segitu wkwk
Kayanya menarik kalau kita kulitin satu-satu 😏
Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
@dhanyindraswara Tentu ada rasa khawatir itu, tapi definisi suksesnya bukan menjadi sesuatu, melainkan membuat/berbuat sesuatu. Lebih khawatir saat dewasa tidak bikin apa2 daripada tidak jadi apa2. :)
Maka, jangan tanya pada anak kalau besar kamu mau jadi apa, tapi tanyakan apa karyamu nanti?
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
Guys, Prita Gozi dosen FEB UI sekaligus CEO ZFinance baru sharing sesuatu yang menurut gua adalah konten finansial paling jujur dan paling relevan buat kondisi kita semua sekarang, terutama di tengah situasi ekonomi yang makin tidak terduga kayak sekarang ini.
Dia breakdown perjalanan finansial kita jadi tiga fase yang sangat simpel tapi sangat dalam kalau dipikir-pikir. Usia 20-an itu fase surviving kerja kerja kerja, yang penting hidup dulu. Usia 30-an itu fase stabilizing kerja sambil mulai saving serius. Usia 40-an baru bisa fase playing kerjanya masih ada tapi ada ruang untuk benar-benar menikmati hidup.
Dan kata Prita yang paling menampar adalah jangan habiskan 20-an untuk kejar kenyamanan, karena 30-an itu beban hidupnya akan naik drastis dan kalau kamu belum bangun fondasi dari sekarang kamu akan panik di sana.
Soal tiga kesalahan terbesar yang harus dihindari di usia 20-an dan 30-an ini yang paling relevan dan paling sering terjadi di sekitar kita. Pertama beli kendaraan dengan cicilan di atas 5 tahun. Kendaraan itu aset yang nilainya turun terus. Begitu cicilan naik untuk beli barang yang makin mahal nilainya, kemampuan saving kamu langsung ambruk.
Dan yang paling bahaya adalah kamu sudah terbiasa hidup dengan cicilan gede untuk barang yang nilainya nol dalam 5 tahun. Kedua langsung isi rumah baru gila-gilaan begitu beli rumah pertama. Ini klasik banget udah frugal bertahun-tahun akhirnya dapat rumah, trus balas dendam beli furnitur ini itu yang ternyata setengahnya tidak kepake.
Pahami dulu kebiasaan hidup kamu di rumah baru sebelum keluar duit besar. Ketiga menganggap pensiun masih jauh banget. Ini yang paling diremehkan. Bukan soal umur ini soal habit. Kalau kamu tidak paksakan diri nabung untuk pensiun dari sekarang, begitu sadar sudah terlambat kamu tiba-tiba harus frugal ekstrem yang terasa sangat berat karena belum terbiasa.
Yang paling menarik dan paling jarang dibahas adalah soal empat tipe hubungan manusia dengan uang. Money avoider yang percaya rezeki datang sendiri dan anak ada rezekinya masing-masing. Money vigilance yang terlalu hati-hati sampai kelihatan pelit karena punya trauma finansial masa lalu.
Money status yang hidupnya untuk terlihat sukses di mata orang lain meski di balik layar lagi stress cicilan. Dan money focus yang motivasi kerjanya adalah cicilan katanya kalau tidak ada hutang tidak ada semangat hidup. Semua tipe ini punya plus minusnya tapi yang paling berbahaya adalah money status karena tidak sustainable dan hidupnya roller coaster.
Dan urutan prioritas keuangan versi Prita ini berbeda dari yang kebanyakan orang kira. Nomor satu bukan investasi, bukan asuransi, bukan tabungan anak tapi dana darurat.
Riset dari Vanguard Amerika membuktikan bahwa orang yang punya cash buffer yang cukup bisa mengambil keputusan lebih logis dan menghemat 2 jam per minggu yang biasanya habis bengong mikirin duit. Nomor dua tempat tinggal yang sesuai kemampuan. Nomor tiga baru dana membesarkan anak kalau sudah menikah. Dan nomor empat dana pensiun.
Yang paling gua respect dari Prita adalah dia sendiri mengalami semua ini bukan cuma teori. Di usia menjelang 30 dia kehilangan pekerjaan, sudah punya dua anak, masih ada cicilan rumah tapi karena dari 20-an sudah disiplin finansial dan tidak punya kebiasaan boros, dia bisa survive dan malah dari situlah dia merintis ZFinance.
Dan dia baru benar-benar mencapai financial freedom di usia 43 setelah hampir 20 tahun berjuang bukan instan, tidak ada jalan pintas.
Intinya guys di tengah situasi global yang sekarang chaos, harga energi naik, IHSG tertekan, dan ketidakpastian ekonomi yang makin besar ini fondasi finansial yang kuat bukan dimulai dari cari saham yang naik atau ikut grup signal berbayar. Tapi dimulai dari hal yang paling membosankan dan paling sering diabaikan dana darurat yang cukup, tidak cicil barang yang nilainya turun, dan mulai sisihkan untuk pensiun dari sekarang meski jumlahnya kecil. Karena pasar bisa chaos kapan saja tapi kebiasaan finansial yang sehat itu yang akan menyelamatkan kamu ketika badai datang.
pernah baca kalo hubungan ibu dan anak perempuan tuh emg complicated.
mereka saling ngerti sebagai perempuan, saling cinta sebagai anak ortu tapi entah bagaimana, juga saling menyakiti tanpa disadari.
kemarin denger sepupu yg lg ngobrol sama nyokap bilang “kita nih naluriahnya kalo cinta sama seseorg, pasti selalu ada rasa ingin memiliki. entah cinta ke pasangan maupun ke anak.
tapi yg banyak org gatau dan belum mampu, kalo rasa cinta itu ga cuma soal ingin memiliki, tapi tau kapan saatnya ‘melepaskan’
orang tua tuh mesti belajar ‘melepaskan’ anak dengan dunia mereka. kasih mereka kepercayaan. kasih mereka lepas.
betul, kita sebagai orang tua pasti ada rasa khawatir anak kita bakal kenapa napa. tapi coba biarin mereka belajar buat ngadepin masalahnya sendiri. apalagi kalo anaknya udah nikah”
disitu gue tertegun. iya ya. banyak org cinta yg tau rasanya ngejer utk ngedapetin hal tsb. tapi gatau kapan saatnya utk ‘ngelepas’ ketika waktunya dateng.
@direktoridosen Setuju, makanya kerja lembaga penyalur itu gak mudah. Mereka cari data, verifikasi satu2, mastiin masing2 berhak, bikin alur pembagian jg biar tertib & akuntabel. Niatnya yg bagi di jalan saya percaya baik, tp niat baik memang blm cukup. Apalagi kalo sampe yg bagi sendiri trauma.
@GiaPratamaMD Dokter izin bertanya, selama ini sepertinya kampanye banyak minum air putih itu sering digaungkan tapi sebenarnya ada gak sih dok efek samping dari kebanyakan/berlebihan minum air putih buat kesehatan ginjal itu sendiri selain jadi sering pipis?
Setiap pengen nyoba hal baru, kalimat yg selalu aku inget adalah:
"Pada percobaan pertama, ga usah takut gagal, karena lu pasti gagal."
Kenapa percobaan pertama disebut pasti gagal?
Karena kita baru memulai, belum ada ilmu, belum ada pengalaman, dan itu memang fase yg harus dilalui.
Kita harus menyadari bahwa kegagalan dalam mencoba itu bukan aib, tapi salah satu tangga pertama yg harus dilewati agar kita berhasil.
Kalau kita selalu menghindari tangga pertama, bagaimana bisa mencapai tangga kedua hingga tangga puncak?
Either you win or you learn, ga ada yg namanya kegagalan sebenarnya.
skill bertahan hidup? JANGAN TAKUT DITOLAK
Terbiasa menghadapi penolakan plus gak take it personal, bakalan mendekatkan kamu dengan ‘tujuan’ sebenarnya. dari 100 no, bakalan ada 1-2 yes.
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.