Ini kenapa listrik sering mati, gak ada konferensi pers dari pihak PLN atau pemerintah. Banyak banget yang di rugikan terutama mungkin harus siap siap barang elektronik nya rusak
Nyesek lihatnya, nggak ada jembatan, siswa siswa tetep berenang arungi sungai
Ini yang di maksud Fatimah BEM UI, sebelum mengadakan MBG, perhatikan hal hal dasar pendidikan kayak gini
UI, UGM sudah di black list oleh beberapa warga yang anaknya sudah pasti tidak akan lolos seleksi. Daftar black list kampus akan bertambah mengingat ITB hari ini juga turun ke jalan. Dalam dunia pergerakan, jika ITB sudah turun ke jalan, itu artinya kondisi negara memang tidak baik baik saja. Mereka terkenal cukup eklusive dalam berdemo. Hanya issue issue krusial saja yang membuat mereka memutuskan berhenti belajar sejenak dan turun ke jalan.
Ketua KM ITB Nahdah Nabillah HR menilai kondisi ekonomi nasional saat ini menunjukkan sejumlah persoalan mendasar yang berakar pada tata kelola pemerintahan. Dikutip dari IDN Time, Ada 4 tuntutan yang dikemas dalam demo yang bertajuk Menggugat Negara Kilat Rakyat Sekarat.
1. memperkuat tanggung jawab fiskal melalui tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan membuka ruang partisipasi publik secara substantif.
2.menghadirkan kebijakan strategis yang mendukung industrialisasi berbasis riset dan manufaktur agar Indonesia memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
3. melakukan evaluasi internal terhadap berbagai program pemerintah sekaligus memperbaiki sistem komunikasi publik agar kebijakan yang diambil dapat dipahami masyarakat.
4.memastikan setiap program strategis disusun berdasarkan kajian dan riset yang matang.
Sebab, menurut KM ITB, sejumlah program yang berjalan saat ini terkesan dilaksanakan secara terburu-buru dan belum sepenuhnya mengedepankan prinsip good governance.
Belmont Cameli revealed that his tattoo "Nullum Gratuitum Prandium" Latin for "there is no free lunch" means that everything in life is earned, everything has a cost. It was actually his idea, he felt it perfectly captured who Garrett Graham is โจ #OffCampus
Gua gak tau siapa yang buat hoax ini, tapi ya goblok banget ๐
Mana bisa mahasiswa intervensi urusan penerima KIP ๐
Mana mukanya tiyo dibuat jelas pakai AI ๐คฃ
Guys, di tengah situasi di mana hampir semua partai politik sudah masuk ke koalisi pemerintah, di mana oposisi formal praktis tidak ada, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan untuk jadi pengawas yang jujur muncul satu pertanyaan yang serius:
siapa yang masih berani bicara jujur soal kondisi negara ini?
Dan jawabannya yang paling mengejutkan justru datang dari seorang mahasiswa filsafat semester akhir yang bahkan tidak punya ijazah SMA formal.
Namanya Tiyo Ardianto.
Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada.
Latar belakangnya sendiri sudah luar biasa.
Tiyo bukan lulusan SMA negeri favorit.
Dia lulusan pendidikan nonformal paket C dari sekolah alternatif di Kudus.
Tapi dengan ijazah itu dia berhasil masuk Fakultas Filsafat UGM dan bertengger di peringkat 100 besar terbaik saat seleksi masuk.
Sebelum jadi aktivis, dia sudah jadi penyair yang karyanya masuk buku antologi se-Asia Tenggara, menjadi sutradara teater sejak usia 16 tahun, menang lomba baca puisi nasional mengalahkan lebih dari 4.000 peserta,
dan pernah dipuji langsung oleh istri WS Rendra karena karakter suaranya yang mengingatkan pada si Burung Merak.
Kemampuan berbicara di depan massa, kemampuan merangkai kata, kemampuan membaca situasi semua itu bukan kebetulan.
Itu dilatih selama bertahun-tahun sebelum dia naik ke panggung politik kampus.
Ketika terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM pada Januari 2025, hal pertama yang dia lakukan adalah memutuskan BEM UGM keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia.
Alasannya sederhana tapi menohok:
forum mahasiswa nasional itu sudah disusupi kepentingan politik.
Ada menteri, ada kapolda, ada kepala BIN daerah yang hadir di dalam forum yang seharusnya independen.
Bahkan ada karangan bunga dari Kepala BIN Daerah Sumatera Barat terpajang di depan ruang sidang.
Bagi Tiyo itu bukan sekadar hiasan.
Itu simbol bahwa kekuasaan sedang mencoba menjinakkan daya kritis mahasiswa sebelum mereka sempat bergerak.
Dan alih-alih ikut diam dan menikmati "perlindungan" itu Tiyo memilih keluar.
Kalimatnya yang viral waktu itu:
"Kami memilih jalan sunyi tapi bercahaya setia bersama rakyat Indonesia."
Dari situ kritiknya tidak berhenti.
Justru makin keras dan makin spesifik.
Soal MBG:
dia mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan 20% yang seharusnya wajib justru dipotong untuk membiayai program makan gratis.
Menurutnya, uang Rp225 triliun itu kalau dipakai dengan benar bisa menggratiskan seluruh biaya kuliah di PTN se-Indonesia.
Dia juga menuding ada data keracunan MBG yang sengaja ditutupi supaya programnya terlihat sukses di mata presiden.
Soal BBM:
dia menyebut kenaikan Pertamax sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah mengelola anggaran sementara efisiensi di kabinet yang gemuk dan biaya perjalanan dinas pejabat ke luar negeri tidak pernah disentuh sama sekali.
Soal Kepala BGN:
dia mempertanyakan kenapa posisi sepenting itu diisi bukan berdasarkan kompetensi di bidang gizi, tapi berdasarkan kesetiaan politik.
Dan dia menyebut kalimat yang paling keras tapi paling jujur: "Semua rakyat boleh menderita pejabatnya tidak boleh."
Reaksi pemerintah?
Predictable.
Gerakan black campaign langsung dilancarkan secara terorganisir.
Akun-akun anonim menyebarkan fitnah bahwa Tiyo menggelapkan dana beasiswa KIP.
Pesan WhatsApp berisi berita palsu dikirim langsung ke nomor handphone ibunya di kampung.
Dua puluh sampai tiga puluh pengurus BEM UGM lain juga menerima ancaman serupa di ponsel masing-masing.
Ada yang mengikutinya secara fisik.
Ada teror digital berupa ancaman penculikan dari nomor luar negeri.
Tapi fitnah soal beasiswa itu runtuh sendiri begitu diperiksa.
BEM UGM secara aturan kampus tidak memegang uang, tidak punya akses ke dana beasiswa, dan tidak punya kewenangan apapun soal KIP.
Yang terjadi justru sebaliknya BEM UGM menggalang dana sosial secara terbuka untuk membantu mahasiswa penerima KIP yang sempat terlantar karena pencairannya terlambat dari pemerintah.
Itulah yang diputarbalikkan menjadi tuduhan korupsi.
Dan kemudian datang kontroversi yang menggerus sebagian simpati publik terhadap Tiyo.
Dalam sebuah diksi terbuka, dia membuat perumpamaan seekor kucing gemuk yang kepalanya dipenuhi jamur scabies sampai tidak bisa melihat lalu menyebut nama kucing itu "Prabodoh Subiantol."
Sebuah plesetan nama presiden yang langsung memantik kemarahan luar biasa dari berbagai kalangan, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya mendukung gerakannya.
Ini bagian yang perlu dilihat dengan jujur dari dua sisi.
Di satu sisi dalam tradisi sastra dan teater, perumpamaan hewan untuk menyindir penguasa adalah hal yang sangat lazim.
Dari Aesop sampai George Orwell, satir menggunakan fabel adalah senjata kritik yang sudah diakui sepanjang sejarah.
Dan frustrasi yang menumpuk dari seorang aktivis yang keluarganya diteror, yang kawan-kawannya diancam, yang gerakannya difitnah itu bisa membuat kalimat meledak tanpa filter.
Di sisi lain panggung politik Indonesia bukan panggung teater.
Ketika batas antara kritik kebijakan dan serangan personal dilanggar terlalu jauh di ruang publik simpati publik yang susah payah dibangun bisa runtuh dalam hitungan menit.
Dan itulah yang terjadi.
Tapi ada yang jauh lebih penting dari kontroversi kalimat itu yang harus diperhatikan.
Ketika seorang mahasiswa semester akhir yang tidak punya partai, tidak punya anggaran, tidak punya perlindungan institusional yang kuat berani mengkritik program senilai Rp335 triliun, berani menyurati UNICEF, berani menarik keluar organisasinya dari forum yang sudah disusupi kepentingan
dan kemudian dibalas bukan dengan debat substansi tapi dengan teror ke ibunya dan ancaman penculikan dari nomor luar negeri
maka yang sebenarnya diperlihatkan oleh pemerintah bukan kewibawaan.
Yang diperlihatkan adalah ketakutan.
Karena kalau kritiknya tidak ada bobotnya tidak perlu segitu besarnya upaya untuk membungkamnya.
Dan inilah konteks yang paling penting:
Tiyo muncul bukan dalam situasi normal.
Dia muncul di tengah situasi di mana semua partai sudah bergabung ke koalisi, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan mengawasi eksekutif secara jujur,
di mana media mainstream sudah semakin berhati-hati, dan di mana orang-orang yang berani berbicara keras satu per satu menghadapi konsekuensi hukum atau tekanan sosial yang berat.
Di ruang kosong itulah seorang mahasiswa filsafat dengan ijazah paket C mengisi posisi yang seharusnya diisi oleh oposisi formal yang sudah tidak ada.
Tiyo Ardianto bukan sempurna.
Kontroversi kalimat kucing scabies itu adalah pelajaran mahal tentang betapa berbahayanya kalau kritik yang tajam kehilangan kontrol dan melewati batas yang tidak perlu dilewati.
Kritik kebijakan yang berbasis data dan argumen jauh lebih sulit dibungkam dibanding ejekan personal yang mudah dijadikan senjata balik.
Tapi di luar kesalahan itu yang dia lakukan selama ini adalah fungsi yang seharusnya dijalankan oleh oposisi yang sehat: mengawasi, mempertanyakan, dan menuntut pertanggungjawaban atas uang rakyat.
Dan fakta bahwa pemerintah merespons dengan teror ke ibunya alih-alih dengan debat substansi itu sendiri sudah menjawab pertanyaan siapa yang sebenarnya ketakutan dalam cerita ini.
Iman Zanatul Haeri (Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru - P2G) :
"Siapa pun yang merampok anggaran pendidikan, di dunia dipenjara, di akhirat dia masuk neraka"
~Mari kita Amin-kan bersama~ ๐คฒ๐ฅฒ
โผ๏ธBreaking Newsโผ๏ธ
Empat Mahasiswa Dilarikan ke RSCM Usai Diduga Dipukul dan Diinjak Aparat.
DPC GMNI Jakarta Timur dan DPC GMNI Jakarta Pusat menggelar aksi demonstrasi di kawasan Cikini, Jakarta, pada Senin (15/6/2026).
#intinyadeh pasca demo di Bundaran HI, polisi blg massa aksi blm kirim surat pemberitahuan.
BEM UI bantah, nunjukin chat dgn Wakasat Polres Jakpus & isi surat pemberitahuan tgl 9 Jun (H-3 aksi)
BEM UI: "Gak kaget, Polri hanya lindungi kepentingan elit, berbohong setiap saat"
TANDA PEREMPUAN LAGI NGGAK BAIK-BAIK AJA, TAPI SERING DIANGGAP NORMAL
kamu termasuk???
1. scrolling berjam-jam bukan karena menikmati.
tapi karena nggak mau memikirkan hidupnya.
2. rebahan terus bukan karena istirahat.
tapi karena nggak punya energi untuk memulai.
3. kamar makin berantakan.
dan nggak tahu harus mulai beresin dari mana.
4. sering bilang aku capek
tapi nggak tahu sebenarnya capek karena apa.
5. kehilangan semangat untuk hal-hal yang dulu disukai.
6. isi kepala rame terus, tapi nggak pernah dikeluarkan.
7. lebih sering menghindari perasaan
daripada menghadapinya. merilisnya
8. hidup tetap berjalan.
tapi rasanya cuma buat bertahan.
bukan menikmati.
nahhhโฆ yang bikin aku sedih,
banyak perempuan sadar dirinya nggak baik-baik aja.
tapi nggak tahu harus mulai beresin hidupnya dari mana.
mau journaling bingung nulis apa.
mau refleksi diri bingung mulai dari mana.
mau berubah tapi pikirannya terlalu penuh.
cc; liaidayantii threads
SEAblings and everyone really, please retweet posts from Indonesia about their current situation, as to what I'm hearing, their own media doesn't dare speak of it!
Diskusi Indonesia Emas tapi antikritik? Ironis melihat mantan aktivis '98 yang dulu bertaruh nyawa, sekarang memakai tameng jabatan untuk membungkam argumen mahasiswa. Saat kritik dicap "victim mentality," di situlah kita tahu kekuasaan telah sukses menjinakkan idealisme.
Oknum TNI yg berbuat arogan sesungguhnya mrk sdg menanam angin yg suatu saat nanti mrk akan menuai badai.
Ingatlah.... terlepas benar atau salah, arogansi dan kekerasan kalian hanya akan menjatuhkan wibawa dan marwah TNI.