@tanyarlfes Setuju bangettt
Aku tuh sering bingung buat beli sesuatu sendirian di ritel tertentu. Padahal mah bisa tinggal nanya ya ke karyawan nya, tapi lebih sering malu buat nanya. Dgn ada konten mba nya, bener2 ga perlu bingung lagi. Penjelasan nya jg simple banget jadi mudah dipahami.
cantik sekali makna qoutes ini :
hiduplah dengan baik dan tenang, hiduplah sebahagia bahagia nya — carilah apa yang membuatmu happy dan hargailah detik kebahagiaanmu, jadilah manusia yang memanusiakan manusia mulai sekarang.
love yourself before someone els!
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Jumlah korban meninggal mencapai 1.016 orang, Senin (15/12/2025), pukul 10.00 WIB.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, per Minggu (14/12), korban meninggal dunia di Sumatera bertambah 10 orang.
“Sementara itu, jumlah korban hilang menurun dari 217 orang menjadi 212 orang, seiring proses identifikasi dan sinkronisasi data kependudukan lintas daerah,” kata Abdul saat konferensi pers Update Penanganan Bencana Hidrometeorologi Aceh di Pusat Informasi dan Media Center, di Kantor Gubernur Aceh di Banda Aceh, Minggu(14/12).
Abdul bilang operasi search and rescue (SAR) korban bencana hidrometeorologi di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat, dilakukan secara terukur dan terkoordinasi.
“Operasi SAR kami sesuaikan dengan data korban hilang yang dilaporkan di masing-masing kabupaten/kota,” kata dia.
Menurut Abdul, dalam kurun waktu sepekan terakhir, jumlah korban hilang berkurang 58 orang, seiring temukan sejumlah korban yang sebelumnya dilaporkan hilang. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh hasil verifikasi ulang berbasis kecamatan yang dilakukan pemerintah daerah.
“Proses identifikasi di lapangan sangat dinamis. Ada kasus khusus, misalnya jasad yang ditemukan di area pemakaman dan ternyata merupakan warga yang telah meninggal sebelum bencana. Setelah diverifikasi, data korban akan disesuaikan,” ucapnya.
| Narasi Daily
811 NYAWA DAN LUMPUR YANG TAK KUNJUNG KERING
Teman-teman, hentikan sejenak kesibukanmu. Saya akan ajak Anda melihat neraka yang sesungguhnya, bukan di layar kaca, tapi di hati saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ini adalah tragedi yang diciptakan. Per hari ini, data terbaru mencatat 811 orang tewas dan 623 orang masih hilang. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah 811 orang tua, anak, dan saudara yang jasadnya tertimbun lumpur, dan 623 keluarga yang menunggu kabar di tenda pengungsian.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ada 143 korban tewas. Di Aceh, 1,5 juta orang terpaksa mengungsi. Bayangkan, satu setengah juta orang kehilangan segala-galanya, dan harus tidur di tempat seadanya.
Air dan Kelaparan
Penderitaan paling kejam ada di Aceh Tamiang. Setelah tujuh hari bencana, warga terpaksa minum air sisa banjir yang keruh. Kenapa? Karena bantuan air bersih dan makanan tidak sampai.
Sementara warga berjuang menahan haus, Pemerintah Pusat (melalui Seskab) justru sibuk menjamin dana dan logistik "tersedia penuh". Jaminan itu adalah kebohongan yang melukai. Mereka menjamin ketersediaan logistik di Jakarta, tapi membiarkan warga di Palembayan, Agam, harus menggotong korban sesak napas melewati jembatan reot karena tidak ada layanan medis yang layak.
Logika mereka terbalik: Mereka mampu mengirim Starlink dan helikopter, tapi gagal menyediakan air minum yang bersih.
Kenapa semua ini terjadi? Kenapa bantuan hanya ala kadarnya?
Karena Pemerintah menolak menetapkan Status Bencana Nasional. Penolakan ini adalah dinding yang melindungi kepentingan elit:
Mereka takut Status Nasional akan memicu Audit Ekologis Total yang akan membongkar izin-izin korporasi (Sawit, HTI) yang merusak hutan di hulu. Mereka takut izin yang dipegang erat oleh lingkaran kekuasaan akan terancam.
Mereka memilih menjaga anggaran APBN dan aset konsesi agar tetap aman, daripada menggunakan dana triliunan untuk menyelamatkan nyawa dan membangun kembali 10,4 ribu rumah yang hancur.
Nyawa 811 korban ini adalah tumbal politik yang dibayar demi menjaga kekebalan segelintir orang.
811 jiwa tewas itu bukan angka, itu adalah pengkhianatan yang berdarah; mereka tewas karena negeri ini memilih melindungi aset yang ada di kertas, daripada menjaga nyawa yang ada di dada.
#SUMATERABUTUHSTATUS
Jangan biarkan duka mereka hanyut tanpa pertanggungjawaban!
ORANGUTAN TAPANULI adalah satwa arboreal: menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pohon.
Tujuan:
- menghindari pemangsa
- gampang cari makan
- nyebarin biji ke banyak tempat—jadi pohon baru
Jadi, kalau pohonnya hilang, mereka kemana?
@kemenhut_ri@KementerianESDM mau nampung?
di muka bumi ini, dengan hidup yang sangat singkat, banyak hal yang harus kamu pelajari.
salah satunya sunatullah.
sunatullah ini "aturan main" yang mengikat dan menjadi ketetapan Allah dalam mengatur seisi dunia.
jika A maka jadinya B:
jika kamu menebang hutan, resapan berkurang, longsor dan banjir sudah tentu terjadi, walau kamu bermohon itu tidak terjadi. itu terjadi.
dan masih banyak lagi.
kakak-kakak organisasi dan konservasi tidak membuat itu batal terjadi dengan bersuara, mereka dalam tugasnya mengingatkan kalau sunatullah itu ada, dan itu komitmen dunia pada penciptanya, tidak lebih, tidak kurang.