Selamat siang/malam Min. Saya adalah pengamen pantomim yang biasa menghibur di Lampu Merah Kasihan/Tamantirto, Bantul (baju garis-garis kupluk kuning).
Min, saya nitip pesan tulus dari hati saya untuk warga Bantul dan adik-adik mahasiswa UMY. Saya mohon dengan sangat agar nama asli dan data pribadi saya TIDAK DIPUBLIKASIKAN demi keamanan anak perempuan saya yang sedang mondok di pesantren. Cukup posting pesannya saja dan pakai foto kostum pantomim saya agar warga tahu. Ini pesannya, Min:
SURAT TERBUKA DARI PENGHIBUR JALANAN (PANTOMIM LAMPU MERAH KASIHAN)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Untuk warga Bantul, teman-teman mahasiswa UMY, dan seluruh pengguna jalan yang setiap hari melintas di persimpangan Kasihan...
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sekadar ingin memohon dan mengetuk hati panjenengan semua untuk bisa lebih tertib dalam berlalu lintas. Tolong, demi keselamatan bersama, jangan menerobos lampu merah, terutama bagi orang tua yang sedang memboncengkan anak-anaknya. Keselamatan buah hati Anda adalah yang utama.
Jujur, setiap kali melihat ada yang menerobos, saya selalu ingin mencoba menghentikan karena rasa kemanusiaan. Namun, terkadang ada rasa takut dinilai "sok suci", apalagi saya sadar posisi saya di jalanan juga sedikit mengganggu perjalanan panjenengan semua sebagai pengamen. Tetap saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kehadiran saya kurang berkenan selama ini.
Saya menyampaikan ini karena saya sangat kasihan jika terjadi kecelakaan. Di lampu merah ini, saya sudah sering sekali menolong korban kecelakaan, bahkan pernah ada yang sampai mengalami patah tulang. Sayangilah diri Anda, sayangi keluarga Anda yang menunggu di rumah.
Terma kasih banyak atas segala apresiasi, senyuman, dan kebaikan panjenengan sedoyo yang selama ini telah menjadi jalan rezeki bagi saya untuk bertahan hidup di masa sulit ini. Mari kita saling mendoakan, semoga semua hajat kita dikabulkan oleh Gusti Allah, senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan kesuksesan untuk kita semua. Sampun, matur nuwun.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam hormat dari penghibur jalanan.
KALIAN TAU GAAAA
Selain bus inii, tiap Sabtu ada juga sepedaan gratisss!!🚴🏼♀️💸
Ada 3 rute, Kotagede, Pleret, dan Imogiri. Jadi tuh kita bisa gowesss sambil menjelajah sejarah gituu😍
Jadi, dapet sehatnya, dapet ilmunya!
Oiya, untuk pendaftaran langsung ke web jogjaheritage, ya!
Ada yang pernah ikut sepedaan bareng ini?🙂↕️
Seorang buruh angkut perempuan terekam tetap bekerja sambil menggendong anaknya di tengah aktivitas pasar. Dalam video yang beredar, ia terlihat memikul sayuran di pundaknya sembari membawa sang buah hati saat menjalankan pekerjaannya.
Momen tersebut menjadi perhatian publik karena menggambarkan perjuangan seorang ibu dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah keterbatasan. Di balik padatnya aktivitas pasar, potret itu memperlihatkan kerasnya perjuangan pekerja harian yang tetap harus membagi peran antara mencari nafkah dan mengasuh anak.
Source: vidiarimbi57
Kreator: kamila
Out off my content, tapi Luz ini adalah salah satu actress yang aku ikutin before agz & i know she freaking looveee to read… aku juga suka minta recommend dia di live soal novel (ughh she has taste, for sure). Sounds dramatic tapi gara” dia aku jadi lebih sering baca buku😭🫶🏻
Saya dan suami niat ke Papua jadi dosen karena kampusnya menawarkan beberapa privilege yang tidak ada di Jawa, ternyata kampusnya menipu. Sekarang saya dan suami jobless.
Jadi, saya jual buku-buku ini demi bertahan hidup sehari-hari. Pengiriman dari Surabaya. Koleksi pribadi.
gara2 overconsumption, aku ngerasa jd susaaah punya original thoughts.
semua opini & perspektifku kayaknya dibentuk oleh algoritma medsos, atau dari pendapat orang2 di sekelilingku.
sama kayak artikel Substack yang barusan kubaca ini.
... nah, kan? 🫠🫠🫠
Di Jogja,
sepasang kekasih mendirikan
donat dgn nama BA (kiri) yg
diambil dr nama puppy pihak
cewe. Resep dr si cewe, modal
dr si cowo. Brand didaftarkan
a/n si cowo. SI COWO SELINGKUH,
mereka putus. Si cewe ke Bali
meninggalkan semuanya (ga
heran rasa donatnya jd berbeda).
Di Bali si cewe membuka brand
donat baru dgn nama BB (kanan)
& memulai semuanya kembali dari 0.
Krn banyaknya pelanggan donat BA
yg merasa rasa donatnya berubah &
meminta BB kembali ke Jogja,
setelah sukses buka di Bali dibukalah
BB di Jogja. Saat ini BB ada di Bali,
Jogja & Solo. Uniknya, setiap bulan
BB berganti menu (yg mana tidak bisa
dilakukan oleh BA) & ini yg membuat
customer datang kembali untuk
mencicip rasa yg baru.
Aku udah 4 tahunan kerja sama orang luar aja masih harus ngeraba soal ini sih.
Intinya kita harus tau mana yang kita cuma perlu inform (ngasih tau) vs asking for permissions (minta izin).
Hal-hal yg termasuk hak kita sebagai manusia itu harusnya inform, contoh:
• Perlu ke toilet pas meeting
• Ga masuk kerja pas sakit
• Ambil cuti yg emang udah jadi hak kita
• Butuh waktu fokus tanpa diganggu
Ini bukan hal yg harus "boleh ga ya?"
Ini tuh lebih ke "aku ngasih tau aja ya"
Sedangkan asking for permission itu biasanya:
• Ngubah jadwal meeting yg melibatkan banyak orang
• Ngambil keputusan yg impact ke tim/project
• Request resource tambahan
• Hal-hal yg di luar scope/responsibility kita
Dulu aku juga kebiasaan "minta izin" untuk semua hal, bahkan yg sebenernya hak basic.
Lama-lama baru sadar, ini bukan soal sopan atau engga… tapi soal boundaries.
Kalau semuanya diminta izin, kita tanpa sadar ngeposisiin diri kayak ga punya kontrol atas waktu & kondisi sendiri.
Dan ini sering kejadian banget di kita yg tumbuh di environment yg serba "harus izin dulu"
.
Padahal di banyak workplace (terutama luar), mereka expect kita bisa manage diri sendiri.
Jadi ya pelan-pelan diubah. Ga semua hal harus jadi pertanyaan. Kadang cukup jadi statement aja.
Diceritain seorang C-Level soal uniknya orang Indonesia.
Beliau suka becanda. Misal ketika team izin ke toilet dia becandain dengan jawab “no you cannot”.
Kolega India 🇮🇳 jawab “hahaha funny”, lanjut ke toilet.
Kolega Spanyol 🇪🇸 jawab “no thanks”, lanjut ke toilet.
Kolega Indo 🇮🇩 engga jawab apa-apa. Diem dan beneran gajadi ke toilet. Lalu canggung satu ruangan sampe bilang “Im joking, ofcourse you can”
Yang bikin dia culture shock adalah betapa tingginya tingkat obedience orang Indonesia. Seakan consent di sini tuh manufactured through power relations.
Padahal orang Indonesia itu cemerlang dan kinerjanya luar biasa, tapi begitu atasan bilang X meskipun itu gak sesuai prinsip atau pemahaman, mereka akan tetap taat.
Kenapa ya dan gimana cara kita unlearn karakter ini?
1. Suharti
Suami istri cerai, hak merk dipegang suami (logo 2 ayam), istri bikin logo baru (pas foto Bu Suharti)
2. Maicih
Kakak adik pecah kongsi karena beda visi, kakak pake logo emak2 dari depan, adik pake logo emak2 dari samping
3. Cap kaki tiga
Pecah kongsi lisensi antara pemilik merek di SG (Wen Ken Drug) dan mitra produksinya di Indonesia (Sinde Budi Sentosa), produksi sinde berubah nama jadi cap badak
4. Tanek Tjoan
Pecah kongsi antara ahli waris, satu tetap di Bogor pake gerobak cokelat, satu lagi pindah ke Ciputat pake gerobak putih
5. Holycow
Pecah kongsi 2 pendiri, Chef Afit pake logo sapi merah, Wynda pake logo steak Hotel
6. Tempo Gelato
Sengketa antara pendiri awal, Rudy Christian Festraets (WNA Prancis), dan direkturnya, Ema Susmiyarti. Ema udah daftarin merek Tempo Gelato tahun 2015, dan pengadilan memenangkan Ema karena belio pendaftar pertama
Ada lagi kasus seperti ini?