jujur gw malah ga heran kalau pengelola limbah B3 masuk daftar orang yang bisa beli mobil miliaran 😭
karena ini salah satu bisnis yang jarang dilirik tapi hampir semua industri butuh.
Sini gw jelasin pake bahasa bayi
Karena tinggi badan yang menonjol di usia anak-anak bisa jadi tanda pubertas dini (puber terlalu cepat).
Saat puber, tubuh mengalami growth spurt (lonjakan tinggi) karena lonjakan hormon. Kalau puber datang terlalu awal, anak memang jadi lebih tinggi dari teman seusianya, tapi itu sifatnya eementara.
Masalahnya:
Tinggi akhirnya justru lebih pendek.
Hormon puber juga memicu penutupan lempeng pertumbuhan (growth plate) di tulang. Kalau ditutup terlalu cepat, tulang berhenti memanjang lebih dini. Jadi anak yang sekarang paling tinggi di kelas, saat dewasa malah bisa lebih pendek dari rata-rata.
Bisa jadi gejala kondisi medis. Pubertas dini kadang dipicu gangguan hormon, masalah tiroid, atau (jarang) adanya tumor di otak/kelenjar.
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?
statement “jangan nikah atau punya anak kalau miskin” itu classist dan dehumanizing. kekhawatiran dan standar pribadi lo gak seharusnya dipaksakan ke orang lain, apalagi dalam hal yang halal. definisi “mampu” juga beda-beda, gak bisa diseragamkan dan gak ada titik akhirnya, rezeki juga gak selalu stabil.
kebayang ada keluarga sederhana bonceng tiga naik motor, main ke alun-alun, makan batagor di rumput sambil ketawa-tawa. lalu anaknya mulai besar dan baca kalimat “orang tuamu seharusnya tidak punya anak karena miskin” atau “bapak lo seharusnya gak nikahin ibu lo” di internet. selama ini dia punya prasangka baik dan kenangan hangat, tapi beberapa kalimat bisa meruntuhkan itu semua, bahkan mengubah cara dia memandang orang tuanya sendiri. hati orang tua mana yang gak hancur, seakan yang dihitung cuman uang, bukan cinta, usaha, dan pengorbanan mereka selama ini. yang gue percaya, any sane parent would want the best for their child, life also doesnt always go according to human plans, there are things beyond our control that cant be reduced to rigid standards.
semua ini bukan berarti kita menolak ikhtiar perencanaan yah, tapi menyederhanakan nilai manusia hanya dari finansial itu gak adil buat buat gue. so please, maybe we can be more careful with our words, cobalah lebih berempati. di balik setiap keluarga, pasti ada usaha, cinta, ceritanya masing-masing yang gak keliatan buat lo, jangan lah direduksi jadi duit, duit, duit
Aku mau cerita, jadi begini:
Tahun 2008, pertama kalinya aku merantau ke Ibukota. Jakarta
Sebagai anak yg berbakti, aku harus pulang kampung setahun minimal dua kali. Pilihan transportasi saat itu cuma dua. Naik bis ekonomi 90 ribu selama 12-15 jam non tol, atau naik kereta. Opsi lebih cepat adalah naik Kereta dari Pasar Senen, Bengawan, seharga 38 ribu. Dari Tanah Abang ada Progo, seingatku 28 ribu, kondisinya mirip saja
Dua-duanya ekonomi, dua-duanya bangku tegak lurus keras dan tanpa AC, kalau angin cepoi-cepoi ada (ini dad jokes kala itu), dan dua-duanya penuh dengan manusia dalam jumlah yang secara teknis seharusnya tidak possible
Waktu itu aku takmerasa ada yang aneh. Semua orang naik ini. Semua orang maklum dan mafhum. Ini Indonesiaku, Bos
Setelah kecepatan internet mulai naik, aku baru sadar bahwa kondisi itu sama persis di negara lain
Bangladesh. Penumpang naik atap, bergelantungan di sisi gerbong, berjejal sampai tidak ada lagi ruang untuk berdiri dengan martabat. Mereka bahkan memesan kereta ke PT INKA dengan spesifikasi khusus: badan super kuat, dua kali lebih tebal dari biasanya, karena naik di atap memang masih diperbolehkan di sana
Dan di tengah semua kekacauan itu, ada yang lebih penting: makan
Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama."
Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.
"net yield kos-kosan dibawah yied SBN, akhirnya pilihan investasi ke SBN. selain ga repot, yieldnya juga menarik"
ini yang disebut dengan crowding out effect
situasi dimana dana ritel atau swasta tersedot ke obligasi negara.
Crowding out terjadi ketika Pemerintah menerbitkan utang SBN dalam jumlah besar untuk menambal defisit, yang akhirnya mendorong yield SBN terbang tinggi, bahkan sekarang udah di yield 10 tahun udh di level 6,9-7,0%
Suku bunga tinggi yang dibiarkan terlalu lama akan menghambat investasi di sektor ril.
Sektor swasta akan semakin hilang insentifnya untuk berinvestasi di sektor ril.
Lapangan pekerjaan berkurang.
Konsumsi melemah.
Penerimaan pajak turun.
Akhirnya defisit lagi dan utang lagi,
Yield akan semakin tinggi.
Lingkaran setan yang semakin membesar.
Padahal, sektor riil, seperti kosan misalnya, punya multiplier effect yang sangat besar bagi ekonomi.
Ekonomi berputar dan menciptakan pajak dari sewa kos, bahan bangunan, dan konsumsi masyarakat sekitar.
Kalau disederhanakan, sektor riil ini jauh lebih besar efeknya terhadap ekonomi dibanding uang SBN yang digunakan Pemerintah pada program yang tidak tepat atau ujung-ujungnya malah ada yang bocor.
Penutup
Kebijakan ekspansif dengan menerbitkan utang SBN memang bisa mendorong konsumsi jangka pendek, tetapi kalau hanya mengandalkan peran Pemerintah aja tanpa didorong investasi swasta yang kuat, crowding out akan semakin membuat investasi sektor riil melemah.
Sulit menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Kalah nya dmana Hybrid Jepang dr China?🤔
Klo bicara tehnology.
Hybrid nya Toyota pernah jadi penguasa WRC (2022-2023), jadi penguasa WEC (2016-2025).
Hybrid nya Honda jadi penguasa F1 (2021-2024).
Hybrid China?
Penjelasan Ferry Irwandi tentang masalah gaji guru honorer telah digunakan oleh banyak pihak untuk menormalisasi nasib guru honorer agar mereka menyalahkan dirinya sendiri, yayasan, dan pemerintah daerah. Padahal, masalah guru adalah masalah kepemimpinan nasional.
-Thread-
Gw tuh baru tau ada "trend" provide pacar 😅.
Gw punya anak perempuan, gw bayarin dari sekolah, life style, branded bags, liburan, fancy restos dll. Insya Allah ga pernah diajarkan minta-minta ke pacar, hanya boleh minta ke ortu.
Kalo amit-amit ga punya duit? ya belajar cukupkan apa yang ada, nabung, kerja, magang. Bukan cari pacar untuk menutup kekurangan finansial.
Ngga minta ke pacar ini bukan gegayaan, ini tentang struktur nilai.
Anak perempuan (dan laki-laki) perlu tumbuh dengan rasa cukup, harga diri, dan kemandirian. Supaya ntar pas milih pasangan, pilihannya datang dari posisi setara, bukan dari kebutuhan, apalagi ketergantungan.
Karena hubungan yang sehat itu dibangun dari dua orang yang berdiri utuh. Bukan dari satu menopang, dan satu bergantung.
Dan menurut gw, ini bekal penting untuk hidup jangka panjang.
"Gimana kalo udah mau nikah?"
Kalo konteksnya mau menikah, ya beda cerita. Yang saya bahas adalah situasi baru pacaran, atau malah sebelum pacaran udah punya ide ntar pacar harus membiayai ini itu.
"Gimana kalo dikasi, si perempuan ga minta?"
Pacar kalo ngasi berlebihan (meski ga diminta) -- saya akan suruh balikin dan akan saya tegur pacarnya. Tidak boleh berlebihan selama pacaran. Ngga boleh ada salah satu pihak yang dibuat merasa "berhutang" "sungkan". Semua harus setara power-nya.
Kalau dari awal sudah terbiasa diberi, nanti akan sulit membedakan mana cinta, mana transaksi.
Nonton video ini jadi inget pernah baca petuah yang ngena banget: “Di jalan raya, sangat penting jadi pihak yang benar, tapi lebih penting jadi pihak yang selamat.”
UMR segini, single income gak cukup.
Suami istri harus dua-duanya kerja.
Anak harus dititipin ke pekerja rumah tangga atau daycare sebelum sekolah.
Selama KB atau TK gak boleh belajar baca tulis hitung.
Ortu di rumah udah capek kerja.
Anak gak bisa baca tulis hitung masuk SD Kelas 1.
Materi kelas 1 SD:
"Gerak lokomotor adalah gerak yang membuat badan berpindah tempat."
"Gerak non-lokomotor adalah gerak yang tidak membuat badan berpindah tempat."
Apa itu "Ini Ibu Budi"?
Udah bukan waktunya lagi SD kelas 1 belajar gitu.
Mereka udah harus bisa baca tulis hitung.
Beberapa hari lalu saya melihat postingan IG @studisejarah ada foto Bung Karno sedang menari dengan seorang perempuan di Istana Cipanas tahun 1963 Saya perhatikan fotonya baik-baik, ada wajah yang raut mukanya saya kenal. Siapakah penari itu?
MY CHEMICAL ROMANCE | SUN, 3 MAY 2026
General on-sale: 9 July 2025 at 1:00 PM (GMT+7 / Jakarta Time), exclusively at https://t.co/6dc9O9gyVO.
All official updates and event information will be shared via Hammersonic’s official social media channels and https://t.co/6dc9O9gyVO.
Saya percaya, cukup banyak adik-adik 20-30an taun yg ga tau kenapa acara ketemuan komunitas, pengguna aplikasi, atau grup-grupan disebut "KopDar". Bahkan mungkin ga tau kalau KopDar itu singkatan dari "Kopi Darat".
Kenapa kopi? Kok nggak nge-teh aja? Kenapa di darat? 😁😁😁
Sampe sekarang belum ketemu jawabannya sepertinya kenapa Vietnam bisa begitu
Gaji Rata2 Indo mirip sama Vietnam, kualitas birokrasi beda tipis, ukuran market Indonesia jauh lebih besar dari Vietnam
Apa yg Vietnam punya tapi Indo gak punya?