di era beliau menjabat, bencana datang bertubi-tubi. mulai dari gempa Jogja, gempa Padang, tsunami Aceh, sampai erupsi Merapi.
beliau hadir langsung di pengungsian, serius menangani bencana, mantau kondisi para pengungsi, dan koordinasi sama instansi terkait.
enak ya kalau punya pemimpin yang tahu skala prioritas.
🇯🇵 A group of Southeast Asian men, who are likely Muslims from Indonesia or Malaysia, got into a fight outside of a KFC in Shinjuku in Tokyo.
Where is the police? And why is there garbage everywhere? Is this really the same Tokyo I grew up in?
Alam sudah memberi tanda. Tapi hati kita masih mengeras.
Banjir datang silih berganti. Gempa bumi mengguncang. Gunung meletus memuntahkan lava. Kebakaran hutan menghanguskan. Bencana seakan tidak pernah berhenti.
Lalu kita berkata: "Itu bencana alam semata. Siklus alam. Cuaca ekstrem."
Benarkah demikian semata?
1. Pandangan Al-Qur'an: Bencana ada 2 sebab
Al-Qur'an tidak menafikan hukum alam. Tapi Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa kerusakan di bumi tidak pernah lepas dari ulah manusia.
Allah berfirman:
> "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."
> QS. Ar-Rum: 41
Artinya:
Kerusakan itu "tampak" karena ada sebab. Dan sebabnya: _bima kasabat aidin nas_ = karena perbuatan tangan manusia.
Kerusakan itu bisa berupa banjir karena hutan gundul, polusi yang mengubah iklim, keserakahan yang menambang tanpa aturan. Tujuannya bukan untuk menghancurkan, tapi "agar mereka kembali"
- agar kita sadar dan bertaubat.
Allah juga berfirman:
> "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu."
> QS. Asy-Syura: 30
Jadi bencana bisa jadi teguran, ujian, sekaligus pengingat.
2. Hadis tentang tanda-tanda dan sebab bencana
Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan 1400 tahun lalu bahwa kerusakan moral akan berdampak pada kerusakan alam.
Hadis Riwayat Ibnu Majah:
> "Tidaklah bermunculan perbuatan keji di suatu kaum secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah mereka wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah ada pada kaum sebelum mereka."
Hadis Riwayat Bukhari & Muslim:
> "Akan ada gempa bumi, tanah longsor, dan hujan batu"
ketika: _“...saat musik dan penyanyi wanita merajalela, khamr diminum, dan umat ini saling mengutuk satu sama lain.”_
Intinya: ketika kezaliman, korupsi, kerusakan lingkungan, dan jauh dari agama merajalela, maka "sunnatullah" di alam pun berjalan.
3. Jadi, bencana alam semata atau karena ulah manusia?
Jawabannya:
Keduanya.
Tapi ada benang merahnya.
1. Sebab Kauni / Alam: Allah memang menciptakan hukum alam. Ada lempeng bumi yang bergeser → gempa. Ada hujan deras → banjir. Itu ketetapan Allah.
2. Sebab Kasbi / Perbuatan Manusia: Tapi seberapa parah dampaknya? Itu sering karena ulah kita.
Hutan digunduli → banjir dan longsor jadi lebih besar.
Rumah dibangun di bantaran sungai → banjir jadi "bencana".
Emisi dan kerakusan → iklim berubah ekstrem.
Hati yang keras → tidak mau ambil pelajaran sehingga bencana terus berulang.
Ibnu Qayyim berkata:
"Di antara hukuman Allah kepada hamba-Nya adalah Dia mengurungnya di dalam dirinya sendiri, memalingkan hatinya dari kebenaran, dan membuat kerusakan tampak di muka bumi."
Kesimpulan yang runut
Alam sudah berteriak.
Banjir, gempa, gunung meletus, kebakaran... itu semua tanda.
Bukan berarti setiap gempa adalah azab. Bisa jadi ujian untuk mengangkat derajat syuhada. Bisa jadi kaffarah dosa.
Tapi jika bencana datang beruntun, merata, dan semakin parah, maka Al-Qur'an dan Sunnah mengajak kita muhasabah:
Jangan buru-buru menyalahkan "alam". Lihat dulu ke cermin diri.
Mungkin Allah sedang berkata: "Kembalilah. Jaga bumi-Ku.
Tegakkan keadilan. Jangan rusak."
"Maka mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka? Tetapi hati mereka telah menjadi keras..."
QS. Al-An'am: 43
Semoga kita termasuk yang hatinya lembut dan cepat kembali, bukan yang mengeras.
Di bawah cahaya temaram sebatang lilin yang menyala di atas lantai, tersaji sebuah mangkuk berisi nasi putih yang hanya disiram dengan air putih. Tidak ada lauk, tidak ada garam—hanya air mata dan keputusasaan seorang ibu yang harus berpacu dengan malam.
Baru 16 hari berlalu sejak kepergian suami tercinta untuk selama-lamanya.
Namun, ujian hidup seakan datang bertubi-tubi tanpa memberi ruang untuk bernapas. Pemilik kontrakan mendesak agar rumah segera dikosongkan, sementara token listrik telah padam meninggalkan gulita. Di tengah kantong yang benar-benar kosong, sang anak meminta makan.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping dan air mata yang tak terbendung, sang ibu hanya bisa menyuapkan nasi air putih seraya berbisik lirih penuh penyesalan, "Maafin Ibu, ya, Nak... Ibu nggak punya uang seribu pun buat beliin kamu lauk."
Menatap pusara suami yang masih basah, ia merasa gagal menjadi pelindung sekaligus ibu yang baik. Di dalam gelap gulita dan dinginnya malam, tangis seorang ibu berpadu dengan rasa rindu yang teramat dalam pada sosok tempat ia biasa berkeluh kesah.😭
Detik-detik Krakatau Meletus dahsyat tahun 1883, memicu Gelombang Tsunami 40M,
Pemerintah Hindia Belanda mencatat 36.417 orang meninggal dunia.
🎥: Krakatoa The Last Days (2006) sebuah FTV dari BBC documentary.