Lawatan Hari Ketiga di Dili, Ibu Megawati Soekarnoputri Berziarah ke Taman Makam Pahlawan Seroja
Ziarah ke TMP Seroja Dili, Ibu Megawati Doakan Prajurit Indonesia yang Gugur di Timor Leste
Ibu Megawati Ziarah ke Makam Pahlawan Seroja dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto ke TMP Metinaro di Timor Leste
Dili - Mengawali hari ketiga kunjungannya di Timor Leste, Presiden kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mendatangi Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja, Dili, Jumat (10/7/2026).
Pantauan di lokasi, Ibu Megawati yang tampak mengenakan pakaian tenun ikat berwarna biru diadu kerudung berwarna putih tiba di Kompleks TMP Seroja sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Ibu Megawati tampak didampingi oleh keponakannya, yakni Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno. Ibu Megawati pun langsung mengisi buku tamu.
Setelahnya, dilakukan upacara penghormatan singkat. Dengan takzim dan hikmat, Ibu Megawati memimpin hening cipta dan seluruh peserta ziarah mengikutinya.
Dalam momen itu, Ibu Megawati secara khusus meletakan karangan bunga di Kompleks TMP Seroja. Kepala Staf Kepresidenan Timor Leste Henriqueta Maria da Silva yang ikut berziarah, juga melakukan hal yang sama.
Setelah upacara, Ibu Megawati bergerak ke arah dua makam, dan menaburkan bunga ke kedua makam. Selanjutnya ia tampak memanjatkan doa.
Usai berziarah, Ibu Megawati dan rombongan melakukan foto bersama.
Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja adalah pemakaman militer yang dikhususkan bagi prajurit ABRI (kini TNI) dan pejuang integrasi Timor-Timur yang gugur selama konflik antara tahun 1975 hingga 1999.
Kompleks makam utama di Dili menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 600 pahlawan integrasi, sekaligus tercatat sebagai pemakaman terbesar milik Indonesia di luar negeri.
Secara terpisah, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto juga memimpin jajaran partainya untuk berziarah dan mendatangi Taman Makam Pahlawan (TMP) Metinaro.
Sebagai informasi, kunjungan Ibu Megawati ke Dili kali ini tidak terlepas dari historis 24 tahun lalu. Dimana, putri Bung Karno ini hadir pada, 20 Mei 2002 di Padang Tasitolu, saat menghadiri langsung upacara restorasi kemerdekaan Timor-Leste.
Tak hanya itu, pada kunjungannya kali ini ke Dili, Ibu Megawati dianugerahi penghargaan tertinggi dari Pemerintah Timor-Leste, yakni Grande Colar da Ordem de Timor-Leste di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili.
Ibu Megawati berkontribusi signifikan dalam memperkuat hubungan persahabatan, dialog, dan normalisasi hubungan bilateral pascapemulihan kemerdekaan Timor-Leste.
Adapun, perhargaan ini berikan oleh Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, dan disaksikan oleh Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão.
Ibu Megawati menegaskan bahwa penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah amanat dan janji masa depan yang harus terus dikerjakan oleh Indonesia dan Timor-Leste.
"Penghargaan Grand Collar ini bukan sekadar medali. Ini adalah sebuah mata rantai yang saling mengunci. Setiap mata rantai menopang mata rantai berikutnya. Bagi saya, di situlah maknanya: persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang—dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus," tegas Ibu Megawati.
Foto Monang Sinaga
Ibu Megawati Soekarnoputri menerima Penghargaan Tertinggi dari Negara Timor-Leste Grande Collar da Ordem de Timor-Leste. Penghargaan dianugerahkan oleh Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta, Kamis 9 Juli 2026.
"Ibu Megawati berbicara begini: 'Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kita harus menghormati itu hak-hak mereka.' Kata-kata Ibu itu yang mengajarkan kami tentang esensi demokrasi dan masih saya simpan di sini," kata Cesar sambil menunjuk dadanya.
Mendengar kesaksian para mantan anak buahnya yang melintasi batas negara dan lini masa sejarah, Ibu Megawati mengaku sangat terharu dengan ikatan batin yang tidak pernah putus tersebut. Ibu Megawati langsung mengumumkan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan di Timor-Leste agar koordinasi komunikasi dengan kader lokal yang menetap di Dili dapat terwadahi secara demokratis dan terstruktur.
Selain itu, menanggapi permohonan Cesar terkait kebutuhan investasi pariwisata dan perikanan di Pulau Atauro yang berbatasan langsung dengan Maluku Barat Daya, Ibu Megawati berjanji akan segera mengirimkan salah satu Ketua DPP-nya, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri selaku pakar kelautan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, untuk melakukan riset dan meninjau langsung potensi kemakmuran ekonomi di pulau tersebut.
Ibu Megawati juga sempat membagikan memori awal mula persahabatannya yang unik dengan Perdana Menteri Xanana Gusmão yang bermula dari secarik surat yang dikirimkan secara rahasia dari balik jeruji penjara di masa lalu. Ibu Megawati menyampaikan cerita kedekatan dirinya dengan Xanana maupun Presiden Ramos Horta.
"Saya dengan beliau berdua menjadi sahabat lama, dan alhamdulillah mereka berdua masih dapat saya temui dengan sehat hari ini. Dan kami juga berkeinginan untuk kita semua maju bersama," ujar Ibu Megawati.
Acara makan malam yang diorganisasi dengan apik oleh KBRI Dili ini ditutup dengan pekik "Merdeka!" yang diteriakkan lantang oleh Ibu Megawati dan dijawab kompak oleh ratusan WNI.
Foto Monang Sinaga
Bersua di KBRI Dili: Ibu Megawati Peluk Batin Eks Kader PDI Timor Timur yang Tetap Setia di Tengah Dinamika Sejarah
Silaturahmi Haru Komunitas WNI di Timor-Leste: Ibu Megawati Gaungkan Kebanggaan Nasional dan Dengar Refleksi Jajak Pendapat 1999
Gelar Ramah Tamah di Dili, KBRI Satukan Ibu Megawati dengan Ratusan WNI dan Simpatisan yang Rawat Persaudaraan
DILI – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste menggelar acara makan malam dan ramah tamah hangat yang mempertemukan Presiden Kelima RI, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, dengan ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Kota Dili dan sekitarnya.
Acara silaturahmi ini juga dihadiri oleh keluarga besar Ibu Megawati termasuk Puti Guntur Soekarno serta Romy Soekarno. Hadir juga jajaran elite PDI Perjuangan seperti Sekjen Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas Pareira, dan Andi Widjajanto.
Di Rumah KBRI Dili, Kamis (9/7/2026) waktu setempat, hadir juga barisan warga lokal Timor-Leste yang merupakan mantan pengurus PDI Timor Timur sebelum referendum pemisahan tahun 1999.
Ibu Megawati mengaku merasa sangat tersentuh karena berada di gedung KBRI Dili berasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Ia meminta agar gedung KBRI selalu terbuka lebar dan menjadi rumah yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia di sana.
Selain itu, Ibu Megawati juga mengingatkan seluruh warga yang hadir untuk selalu menjaga kehormatan bangsa dan bangga dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Di tengah suasana hangat tersebut, atmosfer berubah menjadi takzim ketika beberapa perwakilan eks pengurus PDI masa lalu diberikan kesempatan naik ke atas panggung untuk membagikan refleksi dan catatan sejarah mereka.
Testimoni pertama dibawakan oleh Martin Anastasio, mantan pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000. Dengan suara bersemangat, Martin mengenang kembali beratnya dinamika politik serta berbagai upaya tekanan dan intimidasi yang harus dihadapi para pengurus partai di daerah menjelang gejolak referendum 1999.
Di tengah berbagai situasi sulit yang menguji kesetiaan tersebut, Martin menegaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain memilih untuk tetap teguh mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta instruksi pusat dari Ketua Umum.
"Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada," ungkap Martin yang langsung memicu tepuk tangan riuh.
Kesaksian lain datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI-P Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). Begitu mendengar info dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa "Mama Mega" mendarat di Dili, Cesar rela bertaruh menyeberangi lautan selama tiga jam menggunakan kapal dari Pulau Atauro demi bisa hadir di KBRI.
Cesar menceritakan kisah perjuangannya yang penuh risiko saat menghadapi berbagai interogasi dan penahanan dari aparat keamanan setempat di masa lalu akibat situasi politik Dili yang memanas. Karena bersikers memegang mandat "jalan tengah" yang mengedepankan perdamaian sesuai arahan Ibu Megawati, Cesar harus melewati masa-masa sulit di dalam tahanan.
"Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya," ujar Cesar sambil menahan haru.
Dalam kesempatan itu, Cesar turut membuka catatan yang terjadi pada bulan Juli sebelum referendum 1999. Di bawah pantai kawasan Farol, Ibu Megawati sempat menggelar pertemuan singkat selama 15 menit dengan para calon legislatif lokal untuk memberikan arahan internal. Di sanalah, Ibu Megawati menyampaikan pesan kedamaian yang mendalam yang hingga kini disimpan rapat di dalam dada Cesar.
Goresan Perasaan Ibu Megawati di Buku Tamu Istana Dili: Tiga Peran Historis demi Sahabat Selamanya
Momen Hangat Usai Penganugerahan: Ramos-Horta dan Xanana Angkat Buku Tamu untuk Baca Tulisan Ibu Megawati
Pesan Abadi Ibu Megawati Soekarnoputri di Timor-Leste Tegaskan Rantai Kekeluargaan Lintas Generasi
DILI – Suasana hangat menyelimuti ruangan Istana Kepresidenan Nicolau Lobato sesaat setelah Presiden Kelima Republik Indonesia, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, resmi menyandang penghargaan Grande Colar da Ordem de Timor-Leste.
Di hadapan para saksi sejarah, Ibu Megawati berjalan menuju meja protokoler untuk menggoreskan pesan mendalam di buku tamu resmi Istana. Ibu Megawati menuliskan langsung tiga peran historis utama yang melekat pada pundaknya dalam kunjungan kenegaraan kali ini.
"MERDEKA.!
Kedatangan saya kali ini sebagai:
1) Presiden V Republik INDONESIA
2) Ketua Umum Partai Demokrasi INDONESIA Perjuangan
3) Wakil dari keluarga DR. IR. Soekarno (Bung Karno) sebagai Presiden I Republik Indonesia
Selalu ingin TERUS melanggengkan persahabatan (kekeluargaan maupun politik) antara Republik Indonesia & Republik Timor Leste untuk selamanya.
Salam hangat,
Megawati Soekarnoputri
Presiden RI ke V.
Selama jemari Ibu Megawati bergerak menggoreskan pena di atas kertas putih tersebut, Presiden José Ramos-Horta dan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão berdiri berdampingan di dekatnya. Kedua pemimpin besar bangsa Timor-Leste itu menantikan dengan penuh kesabaran, tanpa sepatah kata pun memotong fokus sang tamu agung.
Begitu Ibu Megawati meletakkan penanya dan melangkah mundur sembari melempar senyum, momen spontan yang sarat keakraban terjadi. Presiden Ramos-Horta dan PM Xanana Gusmão secara bersama-sama langsung membungkuk, mengangkat buku tamu besar tersebut dengan kedua tangan mereka, dan membacanya secara bersama-sama dengan raut wajah yang penuh rasa haru sekaligus bangga.
Aksi kompak dua tokoh bangsa Timor-Leste yang membaca bersama goresan tangan Ibu Megawati tersebut langsung memicu tepuk tangan riuh dan senyuman hangat dari seluruh pasang mata delegasi kedua negara yang memadati ruangan.
Presiden Kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, hari ini resmi dianugerahi penghargaan tertinggi dari Pemerintah Timor-Leste, yakni Grande Colar da Ordem de Timor-Leste.
Upacara penganugerahan agung tersebut digelar secara khidmat di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili, Kamis (9/7/2026).
Dalam kunjungan ini, Ibu Megawati tampak didampingi oleh keluarga serta jajaran delegasi pusat PDI Perjuangan, di antaranya Puti Guntur Soekarno, Hendra Hartomo atau Romy Soekarno, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas H. Pareira, serta Andi Widjajanto. Sebelum prosesi inti, kedua pihak terlebih dahulu menggelar pertemuan bilateral formal.
Dalam pidatonya, Ibu Megawati juga sempat memanggil Kupa Lopez, anak muda asal Timor-Leste yang dulu sempat meminta izin kepadanya untuk masuk ke dunia politik dan kini sukses menjadi Diplomat (Mantan Dubes Timor-Leste untuk Kamboja).
Ibu Megawati juga membandingkan pengorbanan masa muda Xanana Gusmao yang dipanggil 'Maun Xanana' dengan ayahnya sendiri, Bung Karno, yang harus menghabiskan total 22 tahun hidupnya keluar-masuk penjara dan pembuangan demi kemerdekaan.
Gaya khas Ibu Megawati yang jenaka muncul di paruh akhir pidato saat menceritakan memori pertamanya mengunjungi Dili. Sembari tersenyum, beliau mengaku tidak akan pernah melupakan betapa dahsyatnya rasa cabai rawit khas Timor-Leste.
Ibu Megawati mengisahkan pengalamannya mencicipi sedikit kecap saat sarapan nasi goreng di hotel kecil di Dili, yang ternyata rasanya "lebih meledak dari bom".
"Tadi saya sudah berbisik-bisik kepada Pak Ramos-Horta dan Maun Xanana, sekarang saya sudah menyuruh staf saya pergi ke pasar Dili untuk membeli oleh-oleh, khusus membawa pulang cabai Timor-Leste itu," canda Ibu Megawati yang langsung disambut tawa riuh para hadirin.
Upacara agung ini ditutup dengan sesi foto bersama dalam lima sesi, melibatkan keluarga besar, pimpinan parlemen, jajaran militer dan kepolisian Timor-Leste, hingga para sekretaris jenderal partai politik setempat (CNRT, Fretilin, PD, PLP, KHUNTO).
Foto Monang Sinaga
Ibu Megawati Terima Penghargaan Tertinggi Timor-Leste: Diwarnai Kelakar "Universitas Cipinang" Xanana hingga Memori Cabai Dili
Kehangatan di Istana Dili: Ibu Megawati Dianugerahi Grand Collar Order of Timor-Leste, Ramos-Horta Puji Sikap Negarawan
Momen Historis Agung di Timor-Leste: Ibu Megawati Soekarnoputri Terima Ordem de Timor-Leste dan Titipkan Rantai Persahabatan Bangsa
DILI – Presiden Kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, hari ini resmi dianugerahi penghargaan tertinggi dari Pemerintah Timor-Leste, yakni Grande Colar da Ordem de Timor-Leste.
Upacara penganugerahan agung tersebut digelar secara khidmat di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili, Kamis (9/7/2026).
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari di halaman Istana Kepresidenan. Setibanya di lokasi, Ibu Megawati langsung disambut oleh pertunjukan seni dan tarian adat setempat yang meriah. Langkah beliau kemudian disambut hangat oleh dua tokoh penting Timor-Leste, Presiden José Ramos-Horta dan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão.
Dalam kunjungan ini, Ibu Megawati tampak didampingi oleh keluarga serta jajaran delegasi pusat PDI Perjuangan, di antaranya Puti Guntur Soekarno, Hendra Hartomo atau Romy Soekarno, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas H. Pareira, serta Andi Widjajanto. Sebelum prosesi inti, kedua pihak terlebih dahulu menggelar pertemuan bilateral formal.
Acara kemudian berpindah ke ruangan utama untuk pembacaan Surat Keputusan Presiden Nomor 72/2026 tentang Penganugerahan Gelar Kehormatan. Kepala Staf Kepresidenan Timor-Leste, Henriqueta Maria da Silva, membacakan bahwa penghargaan berdasarkan UU No. 2/2009 ini diberikan atas kontribusi signifikan Ibu Megawati dalam memperkuat hubungan persahabatan, dialog, dan normalisasi hubungan bilateral pascapemulihan kemerdekaan Timor-Leste.
Dalam pidato penghormatannya, Presiden José Ramos-Horta secara khusus memuji peran krusial Ibu Megawati selama masa-masa sulit transisi demokrasi Indonesia (Reformasi). Ramos-Horta menggarisbawahi keputusan berani Ibu Megawati pada Pemilu 1999 yang memilih menerima hasil konstitusional secara damai demi menjaga stabilitas lembaga negara.
"Ibu Megawati dengan tenang menerima keputusan konstitusional tersebut dan mengemban jabatan sebagai Wakil Presiden. Beliau menempatkan kepentingan demokrasi di atas aspirasi pribadi yang sah. Pilihan itu mewakili salah satu pembuktian tertinggi dari sikap negarawan sejati," puji Ramos-Horta.
Ramos-Horta juga mengapresiasi kebesaran hati Ibu Megawati saat menjabat sebagai Presiden RI pada 2001 yang sepenuhnya menerima realitas sejarah baru, mendukung transisi PBB (UNTAET), serta membangun jembatan diplomasi yang kuat.
Di tengah pidatonya, Ramos-Horta sempat mencairkan suasana dengan kelakar jenaka mengenai PM Xanana Gusmão yang disebutnya lulus dengan predikat summa cum laude dari "Universitas Cipinang". Menurutnya, Ibu Megawati dan Xanana adalah dua tokoh yang memperkuat hubungan kedua negara.
Setelah medali Grande Colar disematkan langsung oleh Presiden Ramos-Horta, Ibu Megawati menyampaikan pidato sambutannya yang diawali dengan sapaan hangat, "Bondia, Timor-Leste!".
Ibu Megawati menegaskan bahwa penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah amanat dan janji masa depan yang harus terus dikerjakan oleh Indonesia dan Timor-Leste.
"Penghargaan Grand Collar ini bukan sekadar medali. Ini adalah sebuah mata rantai yang saling mengunci. Setiap mata rantai menopang mata rantai berikutnya. Bagi saya, di situlah maknanya: persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang—dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus," tegas Ibu Megawati.
Ia pun menitipkan pesan mendalam agar generasi muda kedua negara merawat hubungan yang setara ini...
Keakraban Ibu Megawati dengan Pemimpin Timor Leste Xanana Gusmão
Duet Hangat di Dili: Saat Xanana Gusmão Ajak Ibu Megawati Nyanyikan 'Cinta Hampa' hingga Sebut 'Artis Indonesia'
Momen Akrab Lunch Kenegaraan: Ibu Megawati Bernyanyi Bersama Xanana, Hadirin Kompak Bersorak 'Karena Cinta!'
Sisi Lain Penganugerahan di Timor-Leste: Aksi Duet Spontan Ibu Megawati dan Xanana Gusmão yang Cairkan Suasana
DILI – Atmosfer yang penuh tawa, kehangatan, dan nostalgia terjadi dalam sesi jamuan makan siang (lunch) usai upacara penganugerahan penghargaan tertinggi Grande Colar da Ordem de Timor-Leste kepada Presiden Kelima RI, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, Kamis (9/7/2026).
Suasana santai tersebut bermula ketika kelompok musik yang mengiringi jalannya jamuan makan siang mulai melantunkan alunan lagu legendaris Indonesia karya D'Llyod bertajuk "Cinta Hampa". Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, tampaknya sangat tahu bahwa lagu melankolis tersebut merupakan salah satu tembang favorit Ibu Megawati.
Tanpa ragu, pemimpin yang akrab disapa Maun Xanana itu langsung berdiri dari kursinya. Sambil tersenyum lebar, ia menghampiri meja Ibu Megawati dan mengajak Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut untuk maju bersama ke atas panggung.
Ibu Megawati menyambut ajakan tersebut dengan antusias. Begitu keduanya berjalan naik ke panggung, petugas menyerahkan mikrofon kepada Ibu Megawati. Di atas panggung kecil itu, Ibu Megawati bertindak sebagai vokalis utama, sementara Xanana dengan jenaka memposisikan dirinya sebagai teman duet yang interaktif.
Sepanjang Ibu Megawati melantunkan bait demi bait lagu, Xanana terus berdiri di sampingnya sembari melakukan gerakan-gerakan teatrikal ekspresif yang selaras dengan makna lirik yang sedang dinyanyikan.
Kemeriahan memuncak saat lagu memasuki bagian *reff* yang sangat populer. Ibu Megawati yang tampak sangat menikmati momen tersebut, sengaja mengarahkan mikrofonnya ke arah para tamu undangan dan delegasi yang hadir. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk ikut bernyanyi bersama saat sampai pada lirik "hati kecewa karena cinta...".
"Karena apa?" tanya Ibu Megawati spontan memotong lagu, memancing interaksi hadirin.
"Karena cinta!" jawab seluruh hadirin yang terdiri dari pejabat tinggi Timor-Leste dan delegasi Indonesia secara kompak, disusul suara tawa riuh dan tepuk tangan yang membahana di dalam ruangan. Ibu Megawati pun tampak tertawa lepas mendengarkan jawaban kompak tersebut.
Usai merampungkan lagu dengan sempurna, Maun Xanana dengan penuh sopan santun kembali menggandeng tangan Ibu Megawati untuk menuntunnya berjalan kembali ke kursi VIP. Sambil berjalan berdampingan dan melempar senyum manis kepada Ibu Megawati, Xanana berseloroh dengan suara yang cukup terdengar, "Artis dari Indonesia ini," goda Xanana.
Kelakar spontan Perdana Menteri Timor-Leste tersebut sontak kembali memicu tawa renyah sekaligus tepuk tangan meriah dari seluruh pasang mata yang menyaksikan momen tersebut.
Aksi duet spontan ini mencerminkan rasa persaudaraan dan kedekatan emosional yang sangat mendalam di antara para pemimpinnya.
Foto & Video Monang Sinaga
POLISI Vs KEJAKSAAN-TNI dalam Penanganan Korupsi? Presiden Harus Turun Tangan. Ini Bahaya.
Ketika institusi penegak hukum saling berhadapan, dan salah satunya memanggil kekuatan bersenjata negara untuk melindungi orangnya sendiri, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kasus korupsi — tapi tata kelola negara hukum itu sendiri.
Ibu Megawati Soekarnoputri Tiba di Timor-Leste, Disambut Hangat Tokoh Penting dan Lambaian Bendera Anak Sekolah
Kunjungan ke Timor-Leste: Ibu Megawati Disambut Karpet Merah, Tarian Tradisional, hingga Antusiasme Pelajar
Mendarat di Dili, Ibu Megawati Soekarnoputri Terima Penyambutan Agung dari Pemerintah Timor-Leste
DILI – Presiden Kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. DR. Megawati Soekarnoputri, melakukan kunjungan resmi ke Timor-Leste.
Menggunakan pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili, rombongan Ibu Megawati tiba pada Rabu (8/7/2026), pukul 16.10 waktu setempat.
Begitu pesawat berhenti, Direktur Jenderal Urusan Protokol dari Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Timor-Leste, Josefina Tilman, langsung naik ke pesawat untuk menyambut dan mendampingi Megawati turun menuju apron bandara.
Di kaki tangga pesawat, jajaran pejabat tinggi negara telah bersiap menyambut kedatangan beliau. Di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Pariwisata, dan Lingkungan Hidup Timor-Leste, Francisco Kalbuadi Lay.
Turut hadir pula Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Timor-Leste, Ibu Mardiana Warnares.
Prosesi penyambutan dilanjutkan dengan berjalan di atas karpet merah, di mana Ibu Megawati diapit oleh pasukan tradisional Moradores yang disiapkan oleh Kantor Penghubung Militer (Casa Militar) Kepresidenan Timor-Leste.
Ibu Megawati tiba didampingi keluarganya seperti Puti Guntur Soekarnoputri dan Romy Soekarno, serta jajaran partai seperti Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga.
Ibu Megawati lalu berjalan menuju sejumlah tokoh yang sudah lebih dulu bersiap untuk menerima kunjungannya. Termasuk Presiden Republik Timor-Leste, J. Ramos Horta, Perdana Menteri Rala Xanana Gusmão, Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Bendito dos Santos Freitas, dan Kepala Staf Kepresidenan Henriqueta M. da Silva.
Dari pihak Indonesia, sejumlah petinggi PDI Perjuangan seperti Ketua DPP PDIP yang juga Wakil Ketua Komisi XIII DPR-RI Andreas H. Pareira, Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai Andi Widjajanto, juga ikut dalam delegasi penyambutan.
Setelah bersalaman hangat dengan Ramos Horta, Xanana, dan pejabat Timor Leste lainnya, Ibu Megawati lalu disambut dengan tarian adat setempat. Ibu Megawati tampak menyapa para penari dengan senyuman manisnya.
Setelah itu, Ibu Megawati berjalan lagi dan dua orang gadis berpakaian adat setempat mempersembahkan buket bunga dan kain adat berwarna merah. Salah seorang anak perempuan kecil yang menyambutnya lalu mengalungkan kain itu.
Ibu Megawati lalu mengajak kedua anak perempuan itu berjalan bersama. Ia gandeng tangan kedua putri Timor itu di kanan san kirinya, dan berjalan bersama ke arah gedung kedatangan di bandara. Ramos Horta, Xanana, dan seluruh yang hadir menyambut, mengikuti di belakang.
Suasana hangat dan meriah tidak hanya terasa di dalam area bandara. Saat iring-iringan kendaraan Ibu Megawati Soekarnoputri mulai bergerak keluar dari kompleks Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, ribuan anak sekolah telah bersiap di sepanjang jalan dari bandara menuju tempat penginapan.
Dengan penuh antusias, para pelajar tersebut mengibas-ngibaskan bendera kedua negara sebagai bentuk penghormatan dan sambutan hangat dari generasi muda Timor-Leste untuk menyambut kehadiran pemimpin perempuan pertama Indonesia tersebut.
Untuk diketahui, kunjungan kenegaraan Megawati ini akan berlangsung hingga 10 Juli 2026. Agenda utamanya adalah menerima penghargaan tertinggi Grand Collar of Timor Leste atas jasanya dalam memajukan hubungan bilateral dan rekonsiliasi kedua negara dari Presiden Jose Ramos-Horta...
Selama kunjungannya, Ibu Megawati dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Jose Ramos-Horta serta Perdana Menteri Xanana Gusmao. Rangkaian lawatan ini juga diisi dengan kunjungan ke situs bersejarah.
"Ibu Megawati menerima penghargaan ini atas jasanya membuka peta jalan menuju rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor Leste, tatkala pada 20 Mei 2002, sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau mengunjungi Timor Leste untuk menghadiri peringatan hari kemerdekaan Timor Leste," kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam keterangannya kepada media massa pada Kamis (4/6/2026).
Foto: Monang Sinaga
Mengharukan. Sambutan Timor-Leste terhadap Presiden RI ke-5 Ibu Megawati Soekarnoputri. Rabu 8 Juli 2026. Disambut lengkap Presiden dan Perdana Menteri Timor-Leste. Xanana Gusmão cium tangan Ibu Megawati. Disambut Ketua-ketua adat. Dan anak-anak Timor-Leste.
Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Yang Mulia Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Pesan tersebut disiarkan oleh Chanel One Televisi Iran dengan subtitle bahasa Persia.
PNI berdiri dari keyakinan bahwa kemerdekaan tidak hanya direbut di medan perjuangan, tetapi juga diperjuangkan melalui pikiran, argumentasi, dan keberanian menentang ketidakadilan. Bukan kebetulan bila banyak tokohnya berasal dari kalangan hukum. Sebab sejak awal, advokat bukan sekadar profesi melainkan penjaga marwah bangsa dan benteng terakhir keadilan.
Para Advokat yang ikut dalam shaf Awal PNI adalah Para Advokat Pejuang dan Pejuang Advokat. Kobaran Api semangat Marhaenisme bukan sekadar semangat perlawanan, melainkan nyala keberpihakan kepada rakyat kecil. Di tangan Para Advokat pejuang saat itu, api menjelma menjadi keberanian membela yang lemah, melawan ketidakadilan, dan memastikan hukum tetap berpihak kepada kebenaran, bukan kepada kekuasaan
🔥
DIRGAHAYU PNI KE-99
HIDUP MARHAEN ‼️
Rekan2 Seperjuangan,
Merdeka!!!
Hari ini bertepatan dg 99 tahun kelahiran PNI. Bung Karno sengaja memilih tanggal pembentukan PNI 4 Juli karena mengambil spirit kemerdekaan bangsa Amerika Serikat yg tercatat sbg perlawanan pertama terhadap kolonialisme Inggris.
Dengan melihat perubahan geopolitik di Eropa tsb, khususnya runtuhnya feodalisme di Eropa, maka BK mendirikan PNI sbg alat mengorganisir rakyat, alat perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia. PNI berdiri sebelum bangsa Indonesia ada. Kebangsaan Indonesia diformalkan melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Kehadiran PNI merupakan gerakan revolusioner perjuangan BK sejak mengembleng diri di HOS Cokroaminoto. BK dalam usia yang sangat muda bergabung dengan Sarekat Islam, Jong Java, dan kemudian membangun kesadaran kebangsaan Indonesia dg berjuang “merdeka sekarang dan sekarang” dan prinsip non-cooperation dg menggalang kekuatan rakyat.
BK melakukan rekrutmen anggota PNI secara langsung dan berkeliling Indonesia sambil membangkitkan kesadaran rakyat untuk bersatu melawan sistem kapitalisme yang menghisap dan menyerukam kemerdekaan Indonesia. Setiap hari Rabo, BK membuka kursus politik di kantor PNI yang selalu ramai dihadiri rakyat. Saat itu rakyat yang bisa baca tulis dibawah 2%, shg tidak mudah membangkitkan kesadaran kebangsaan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Krn itulah BK merumuskan teori dan azas perjuangan PNI, penuh dg narasi pembebasan rakyat tertindas, yakni Marhaenisme. Inilah doktrin politik yang menggambarkan watak sebenarnya politik yang menyatu dengan penderitaan dan harapan rakyat, menangis dan tertawa bersama rakyat.
Marhaenisme dan keyakinan terhadap Tuhan yang hidup dalam spiritualitas rakyat Indonesia kemudian menjadi Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, tidak ada egoisme agama, dan yang menyatu dengan tradisi kebudayaan Indonesia bersama dengan socio nasionalisme dan sosio demokrasi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi muara perjuangan dan cita-cita masy adil dan makmur.
Jadi PNI ada sebelum Sumpah Pemuda, dan mjd pejuang yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia Raya.
Seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDI Perjuangan harus berbangga, bahwa kita adalah satu-satunya Partai Politik yang melekat dengan perjuangan dan pemikiran Bapak Bangsa Indonesia, Bung Karno.
Namun dalam perjalanannya, setelah kemerdekaan Indonesia ternyata Bung Karno berhasil mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa lain spt Sudan, Maroko, Tunisia, Aldjazair, dan membantu Mesir dalam Nasionalisasi Terusan Suez berhadapan dg Inggris, serta aktif membela kemerdekaan Pakistan, serta menjadi inspirasi gerakan bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerila Latin.
Dengan pengaruhnya bagi dunia, kepemimpinan Bung Karno dianggap membahayakan “kemapanan Eropa Barat” dan juga dapat menganggu ambisi geopolitik Amerika Serikat. Terlebih setelah BK mendapat gelar sebagai “Pendekar dan Pahlawan Kemerdekaan Bangsa-bangsa Islam” melalui Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965.
Kalau KAA tahun 1955 dan Gerakan Non Blok tahun 1961 saja mampu menggoncangkan dunia, apalagi CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) tahun 1965 dan Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) tahun 1965 di Hotel Indonesia, Jakarta.
Maka muncullah proyek melengserkan Bung Karno sbg proyek terbesar Kolonialisme Barat dan AS. Mereka mencari elemen dalam negeri yang bisa dijadikan “Antek Asing”. Disitulah Soeharto berperan penting hingga melahirkan watak kekuasaan yang militeristik dan dengan dukungan Barat dalam “kudeta merangkak” terhadap Bung Karno.
Namun biaya politik pelengseran BK sangat mahal dan kita pikul dampaknya sampai hari ini: kekayaan alam Indonesia dieksploitasi kapitalisme global. Kalau Bung Karno berjuang melakukan dekolonialisasi, maka Pak Harto melakukan re-kolonialisasi...