Guys, dengerin cerita ini dulu...
Ada seseorang yang pernah cerita ke aku, dan sampai sekarang ceritanya masih nyangkut di pikiran.
Lima tahun lalu hidupnya hancur dalam satu malam. Istrinya ketahuan selingkuh.
Dia emosi, refleks, dan tanpa dipikir panjang tangannya mendarat di pipi sang istri tepat di depan mertuanya.
Satu kali itu saja, sepanjang pernikahan dia tidak pernah menyentuh istrinya dengan kasar.
Tapi satu kesalahan itu jadi peluru yang terus ditembakkan ke arahnya.
Yang bikin sakit bukan cuma istrinya.
Mertuanya, yang selama ini dia anggap keluarga sendiri, bukannya menasehati anaknya malah memperkeruh keadaan.
Mendorong supaya pisah. Padahal yang selingkuh bukan dia.
Dia tetap berjuang.
Pergi merantau, cari uang, kirim nafkah, semua demi anak dan secercah harapan istrinya bisa berubah.
Sampai suatu hari telepon berdering. Pengadilan. Istrinya menggugat cerai dengan alasan tidak pernah dinafkahi.
Dia diam lama waktu cerita bagian ini ke aku.
Dia yang tiap bulan kirim uang, dia yang tidur jauh dari anak dan keluarga demi mencari rezeki, malah dituduh tidak menafkahi.
Dia mau pulang untuk hadir di sidang tapi COVID mengunci segalanya.
Dia coba membujuk istrinya lewat telepon supaya batalkan gugatan.
Tidak ada respons yang baik. Semua terasa seperti tembok.
Pengadilan memutuskan cerai tanpa kehadirannya.
Belum selesai lukanya, kabar datang lagi.
Mantan istrinya sudah menikah lagi dengan pilihan orang tuanya.
Cepat sekali, seolah pernikahan mereka dulu tidak pernah ada artinya.
Dia ikhlaskan.
Atau setidaknya dia coba.
Yang paling berat sampai sekarang adalah anaknya. Dia kirim satu juta setiap bulan, bukan karena tidak mau lebih, tapi memang hanya itu yang bisa dia beri saat ini.
Dan pihak sana tidak pernah mau kasih kabar soal anaknya. Kalau pun ada pesan masuk, isinya cuma keluhan uangnya kurang.
Tidak ada foto.
Tidak ada cerita tumbuh kembang.
Tidak ada sekadar "anakmu baik-baik saja."
Dia bilang ke aku, mimpinya sederhana.
Mau jadi orang sukses bukan untuk pamer, tapi supaya anaknya suatu hari bisa pakai toga dan dia bisa berdiri di sana sambil nangis bangga.
Kisah macam ini yang bikin aku sadar, kadang orang yang paling terluka justru yang paling diam.
@keluhkesahkonoh Di lampu merah, anak gw
πΆ : motornya berisik (sambil tutup kuping)
πΉ : bilang apa pak? (Dia kirain dia gw yg ngomong)
π§ : maaf, bukan gw, anak gw yg bilang motor lu berisik, kenapa? Ga terima? (Siap ribut)
PASTIKAN BELI BARANG INI DI WAKTU YANG PALING TEPAT.
1. *BELI HANDPHONE - NOVEMBER*
Harbolnas 11.11 adalah Momen diskon elektronik terbesar sepanjang tahun.
2. *BELI KAMERA - FEBRUARI*
banyak toko elektronik kasih penawaran spesial di momen Valentine.
3. *BELI MOTOR - AGUSTUS*
dealer rutin gelar promo besar menyambut hari kemerdekaan.
4. *BELI MOBIL - DESEMBER*
dealer kejar target akhir tahun, posisi nego ada di tanganmu.
5. *BELI RUMAH - OKTOBER*
Indonesia Property Expo rutin digelar, DP dan harga terbaik bisa kamu dapat di sini.
@SosmedAnu Kalo dari sudut pandang aku sebagai bapak, sekolahin anak sampai tuntas itu kewajiban yang gaboleh pamrih, makanya kita harus bergaining nabung buat masa tua juga...