Lo tau gak, privilege orang tua itu bukan cuma soal kasih duit banyak atau sekolah mahal doang. Itu lebih gila.
Mereka bikin aturan main sendiri biar anaknya langsung jalan di jalur yang orang biasa bahkan gak bisa liat dari jauh. Mulai dari garis yang beda total.
Gue kasih sedikit gambaran,
my pacar: emm sayang aku mau ini boleh ga?
gweh: ambil lahh sayangg
my pacar: sayang aku mau ini cuma mahal bgt*sambil pasang muka memelas bikin meleleh
gweh: ambil sayangggg gapapaaa udah selesai beli dan payment, gua pergi keluar dari guardian mau beli kopken,
sambil nanya
“ udah semua sayang makeup yg kamu butuh?”
dia jawab “udah sayang makasii banyakk yaa”
gua tanyaa terusss sepanjang jalan
“seriuss udahh? gapapa ih entar bsk kurang lagi”
dia jawab
“sebenernya ada sih cuma gausah ah gaenak sama kamu, itu aja udh banyak banget”
ga gua jawab lagi langsung gua seret dia balik lagi ke guardian, suruh ambil yg kurang,
abis itu payment kelarr, dia sumringah banget senyum ga kelar kelar, abis gua pulang kerumah dia vn nangis nangis makasih terus😭
cc:threadwangjiehiungg
Guys, setelah Prabowo bilang "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar" sekarang giliran Ketua Komisi XI DPR Misbakhun yang ikut membela narasi itu.
Dan pernyataannya menurut gue sama berbahayanya bahkan lebih berbahaya, karena ini datang dari orang yang seharusnya mengawasi kebijakan ekonomi negara.
Apa yang Misbakhun katakan:
"Yang terpengaruh adalah transaksi-transaksi yang menggunakan impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri."
Jadi menurut Ketua Komisi XI DPR pelemahan rupiah ke Rp17.600 hanya masalah orang kaya.
Rakyat desa aman.
Rakyat kecil tidak terdampak.
Tenang saja.
Gue mau tanya langsung kepada Misbakhun dan ini bukan retorika:
Bapak pernah makan tempe?
Kedelai untuk tempe itu 90% impor.
Harganya dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.600 harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Penjual tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakannya di lapak mereka.
Bapak pernah makan mie instan?
Gandum bahan baku mie instan yang jadi makanan pokok rakyat kecil 100% impor. Dalam dolar.
Petani di desa pakai pupuk apa?
Bahan baku pupuk sebagian besar diimpor.
Dalam dolar.
Rakyat desa sakit, berobat pakai obat apa?
Bahan baku obat generik sebagian besar diimpor dari China dan India. Dalam dolar.
Jadi siapa sebenarnya yang "tidak pakai dolar" itu? Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari sarapan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar yang Bapak bilang tidak relevan buat mereka.
Dan ini yang paling menggelikan dari seluruh pernyataan Misbakhun:
Di satu sisi dia bilang rakyat desa tidak terdampak pelemahan rupiah.
Di sisi lain dia bilang: "
Salah satu yang impor yang kita khawatirkan adalah impor dari komoditas-komoditas yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi."
Jadi dia sendiri mengakui ada komoditas impor yang mengkhawatirkan.
Tapi komoditas impor itu tidak terdampak pelemahan rupiah?
Ini logika dari mana?
Misbakhun ini bukan orang sembarangan:
Dia Ketua Komisi XI DPR komisi yang membidangi keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan.
Dia yang seharusnya paling paham bagaimana transmisi kurs mempengaruhi kehidupan rakyat kecil.
Dan dia keluar dengan pernyataan bahwa rupiah anjlok hanya masalah orang kaya.
Ini bukan ketidaktahuan.
Ini adalah pilihan untuk membela narasi yang salah demi melindungi citra presiden.
Dan Prabowo sendiri bilang apa di Nganjuk:
"Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa ya kan?"
Presiden mengejek mereka yang mengkhawatirkan kondisi ekonomi.
Menyebutnya tidak dimengerti.
Seolah-olah orang yang peduli dengan rupiah Rp17.600 adalah orang yang lebay dan tidak rasional.
Sementara Prof. Ferry Latuhihin ekonom 40 tahun pengalaman yang prediksinya soal rating downgrade, rupiah ke Rp17.000, dan IHSG ambruk semuanya terbukti memproyeksikan rupiah bisa ke Rp22.000-25.000 di semester kedua.
Siapa yang lebih bisa dipercaya? E
konom yang track record prediksinya benar tiga kali berturut-turut
atau presiden yang bilang "mau dolar berapa ribu kek" sambil memberikan Bintang Jasa kepada Kapolri yang laporan panen jagung?
Dan ini yang paling miris:
Misbakhun adalah Ketua Komisi XI yang tugasnya mengawasi BI dan kebijakan fiskal.
Tapi alih-alih mengawasi secara kritis dia justru memvalidasi narasi presiden bahwa rupiah anjlok bukan masalah rakyat kecil.
Ini bukan fungsi pengawasan.
Ini adalah fungsi humas.
DPR yang seharusnya jadi checks and balances —malah jadi cheerleader.
Ketika presiden bilang rupiah bukan masalah rakyat desa dan ketua komisi keuangan DPR membenarkannya ada dua kemungkinan.
Pertama: mereka benar-benar tidak tahu bagaimana kurs mempengaruhi harga kedelai, gandum, pupuk, dan obat-obatan yang dikonsumsi rakyat kecil setiap hari.
Kedua: mereka tahu tapi memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya karena lebih penting untuk menjaga narasi presiden tetap terlihat baik.
Dua-duanya sama berbahayanya. Karena di ujung jalan yang membayar harga dari narasi yang salah ini bukan mereka yang duduk di DPR.
Yang membayarnya adalah ibu di desa yang harga tempe naik. Petani yang harga pupuk naik. Rakyat kecil yang obatnya makin mahal.
Dan mereka tidak punya podium untuk balik berbicara.
L’équipe d’Anthropic vient de montrer comment utiliser correctement Claude Code.
30 minutes. gratuit. présenté par la personne qui a créé Claude Code.
Regarde le workshop. Ajoute en signet 🔖
Ça vaut plus que tous les cours à 500$ que t’as failli acheter.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
“TRADING ITU CANDU, OTAK KALIAN BISA RUSAK”
Menang berkali2 bisa buat otak rusak
Apalagi kalah berkali2 bukan otak aja yg rusak, hidup bisa rusak juga, mental rusak
Rasa ingin balikan uang yg hilang akan terus menghantui dan jadi penyesalan, dan akhirnya revenge trade terus terjadi dan berharap di balik kata “kali ini semoga berbeda”
Selama inti permasalahan yaitu risk management dan emosi management belum bener pola akan terus berulang
Akhirnya akan terasa seperti ketagihan itu disebut “efek dopamin yg muncul saat trading”
Kalau kalian sampai ada di posisi ini
Jalan keluarnya cuma 1 : “REHAT” delete exchange, hindari market setidaknya 14 hari
Saat itu kalian harus olahraga untuk mengganti dopamin yg sudah biasa kebentuk
Setelah 14 hari harusnya otak dan emosi mulai netral lagi
BREAKING: Claude is a monster for market research.
I reverse-engineered how top teams at McKinsey, Goldman Sachs, and JP Morgan actually use it.
The gap is massive.
Here are 10 high-impact Claude prompts they’d rather you didn’t have (save this).