Rekaman Live Kepo Buku #HariBukuNasional
yang biasanya cuma edisi audio. Enjoy.
Dengar di Spotify https://t.co/JHUKIOBiex
Youtube https://t.co/7Gf8d482VT
Believe the hype, #TheFurious is PEAK Asian action cinema! Koreo martial arts maha dahsyat dari Kenji Tanigaki dan cast level dewanya berhasil membuat kita ga napas dan ga kedip sepanjang film! Naskahnya sekedar pokoknya ada, but who cares kalau action-nya gebyar meriah gini? 😄
Gatau kesamber setan apa tiba2 gw mengambil komik oshi no ko di dalem tumpukan kardus komik gw, iseng aja emang keknya
TAPI setelah membaca ulang vol 1, gw diingatkan kembali kenapa dulu gw pernah ada di momen suka banget dengan oshi no ko
Vol 1 emang sebagus itu wak 😭✨
BARU SAJA DIUMUMKAN.
Terlampir Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 dari seluruh kategori: Kumpulan Puisi, Kumpulan Cerpen, dan Novel.
Karya-karya siapa saja yang akan masuk Daftar Pendek akan ditetapkan pada waktu mendatang.
Selamat untuk para penulis dan penerbit!
Ada orang Jerman yang tahu Pela-Gandong lebih dalam dari kebanyakan orang Maluku.
Namanya Dieter Bartels.
Dieter Bartels selesai dari sekolah periklanan di Jerman. Tapi beliau tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di kantor percetakan.
Jadi Beliau pergi. Keliling dunia. Salah satu tujuannya: Indonesia. Tahun 1964, pertama kali menginjakkan kaki di sini dengan visa turis 2 minggu.
Namun ternyata tinggal selama 3 bulan.
Visa diperpanjang tiap dua minggu, ceritanya waktu itu masih bisa diurus lewat polisi setempat. Dan rupanya Indonesia terlalu nyaman untuk ditinggalkan begitu saja.
Singkat cerita, beliau sampai di Amerika Serikat. Tidak punya ijazah SMA. Masuk Community College. Dapat nilai tertinggi. Diizinkan lanjut kuliah.
Akhirnya sampai di Cornell University, New York dan sedang mengerjakan disertasi untuk gelar Ph.D.
Waktu itu beliau sedang ada di Belanda. Dan di sana beliau menyaksikan sesuatu yang mengubah arah penelitiannya selamanya:
Sekelompok pemuda Maluku melakukan pembunuhan terhadap seorang polisi di depan Kedutaan Besar Jerman di Den Haag(1970an).
Beliau bertanya, Siapa orang-orang ini?
Karena penasaran, beliau kembali ke perpustakaan Cornell. Membaca semua yang bisa ditemukan tentang Maluku, mulai dari zaman Portugis.
Dan tahun 1974, beliau terbang lagi ke Indonesia. Mengajukan izin penelitian. Masuk ke Maluku Tengah.
Kebetulan yang tidak pernah beliau rencanakan, tapi tidak pernah beliau sesali.
Penelitiannya berfokus pada satu hal yang dianggap banyak orang sudah cukup diketahui:
Pela-Gandong.
Ikatan persaudaraan lintas agama yang selama berabad-abad menjadi perekat komunitas Muslim dan Kristen di Maluku Tengah.
Salah satu bukunya "Dibawah Naungan Gunung Nunusaku" sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi salah satu referensi paling penting tentang budaya Maluku. Ada dua jilid, Jilid 1 Kebudayaan dan Jilid 2 Sejarah.
Lalu 1999 datang.
Kerusuhan. Konflik. Maluku terbakar.
Dieter Bartels tetap datang.
Bukan untuk meneliti. Tapi karena dia perlu tahu sendiri apa yang sedang terjadi dan kenapa sesuatu yang seharusnya menjadi perekat, justru gagal menahan perpecahan.
"Kerusuhan seharusnya tidak terjadi jika semua elemen masyarakat mengerti betul apa itu Pela-Gandong," katanya.
Sekarang usianya sudah tidak lagi muda.
Tapi hampir setiap tahun, dia masih kembali ke Maluku. Masih meneliti. Masih bertanya.
Di pengantar bukunya, ada satu kalimat dari penulisnya yang sulit saya lupakan:
"Prof. Bartels adalah orang Maluku — lebih dari orang Maluku itu sendiri."
Dan di ujung obrolan kami, dia menitipkan satu harapan yang sederhana tapi berat:
Semoga ada orang-orang Maluku yang mau melanjutkan penelitiannya.
Bukan karena dia menyerah. Tapi karena beliau tahu cerita tentang tanah ini seharusnya diteruskan oleh mereka yang lahir dan besar di sini.
Sebuah sekolah di pelosok Maluku Tengah akhirnya terhubung internet lewat Starlink. Beritanya merayakannya sebagai "putus isolasi 80 tahun". Saya ikut senang membacanya. Tapi justru di angka 80 tahun itu, ada bagian dari saya yang ikut sedih.
Bupati Maluku Tengah sendiri yang menyebutnya: 95 persen wilayahnya berupa laut dan pulau-pulau kecil, dan selama puluhan tahun kondisi geografis itu memutus akses pendidikan.
Sekarang ada koneksi, ada apresiasi dari DPR, ada rencana membangun studio belajar jarak jauh di Masohi supaya guru terbaik dari kota bisa mengajar anak-anak pulau lewat layar, didampingi guru lokal. Ini kabar baik. Koneksinya nyata, dan saya tidak mau meremehkannya.
Tapi 80 tahun itu hampir sepanjang usia republik ini. Artinya ada anak, lalu anaknya, lalu cucunya, yang lahir dan menua di pulau yang sama tanpa pernah tersambung.
Merayakan koneksi yang datang seterlambat itu terasa ganjil buat saya. Yang seharusnya kita tanya bukan "hebat ya akhirnya nyambung", tapi "kenapa baru sekarang".
Ada satu hal lagi yang saya jaga dari cerita seperti ini. Internet itu pintu, bukan ruang kelas. Antena satelit tidak menggantikan guru. Mudah sekali kata "terhubung" pelan-pelan dibaca jadi "selesai", padahal anak di pulau itu masih kekurangan guru, listrik yang stabil, dan buku.
Soal studio guru kota mengajar lewat layar, idenya bagus sebagai jembatan. Yang saya khawatirkan cuma satu: jangan sampai jembatan sementara ini diam-diam jadi alasan permanen, supaya pulau tidak pernah dianggap perlu guru utuhnya sendiri. Solusi darurat punya kebiasaan buruk berubah jadi standar baru.
Maluku punya 1.422 pulau (BPS 2025). Satu titik yang akhirnya terhubung itu kabar baik. Tapi itu garis start, bukan garis finish, dan saya berharap kita memperlakukannya begitu.
Buat teman-teman dari kampung di pulau, teknologi paling mengubah apa di tempat kalian, dan apa yang sampai hari ini tetap tidak tersentuh?
https://t.co/ExXkrazfUf