Kasus Kuota Haji
Sekadar mengingatkan. Masalah dugaan korupsi kuota haji ini bukan masalah kelompok atau ormas.
Ustad Khalid Basalamah dari Salafi sudah mengaku mengembalikan dana ke KPK, setelah beberapa kali diperiksa KPK.
Dirjen PHU Kementerian Agama sudah diperiksa KPK dan menurut pemberitaan media massa diduga menerima aliran dana. Prof Hilman Latief ini dari Muhammadiyah, tepatnya sebagai Bendahara Umum.
Sebelumnya KPK juga telah berulang kali memeriksa mantan Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil. Kita tahu bahwa yang bersangkutan dari NU dan adik kandung Ketua Umum PBNU.
Sekali lagi, soal kasus kuota haji ini adalah masalah umat dan bangsa. Bukan soal ormas atau aliran. Saya berdiri mendukung keadilan (I Stand with Justice). Siapapun dan dari kelompok/ormas manapun kalau bersalah ya harus diproses secara hukum. Gak masalah. Umat dan bangsa mendukung penegakan korupsi secara adil dan sesuai koridor negara hukum.
Untuk KPK, saya juga berpesan untuk segera menuntaskan kasus ini. Segera tetapkan siapa tersangkanya. Jangan ini menjadi bola liar. Kasus sudah naik ke tahap penyidikan tapi kok tersangkanya belum ada. Justice delayed is justice denied. Segera tuntaskan kerja KPK, jangan sibuk bikin pernyataan, yang malah meresahkan.
Mari kita simak firman Allah dalam QS An-Nisā’ [4]:135 untuk kita renungi bersama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
One of the most painful episodes that shaped the modern Middle East was the breaking up of the Muslim World by the Allied Powers during the the Paris Peace Conference of 1919.
Perhaps the most iconic scene was when Prince Feisal, son of the Sharif of Makkah and the 39th descendant of the Prophet ﷺ, attended, after having signed an agreement with Chaim Weizmann, the founder of Zionism. The prince was publicly disrespected, and hardly given any audiences with the leaders of the 'superpowers'. In fact, absolutely none of his demands were met, and all of his efforts were in vain, in spite of the fact that he and his father actually had sided with the Allied forces against the Ottomans, lured by the promises given to them.
In this fascinating summary, Dr. YQ narrates the reality of that tragedy and how frustratingly powerless the leaders have been for so long. In light of what is happening in Gaza today, this history, no matter how painful, becomes especially relevant.
https://t.co/Of3hYFTX8W
@SeruniPuspaAlam Jika Rasulullah tidak membahas gedung pencakar langit, bukan karena "ketidaktahuan", tetapi karena syariat dibangun di atas prinsip universal yang bisa diaplikasikan dalam segala zaman.
O Allah, I seek refuge in You from anxiety and sorrow, weakness and laziness, miserliness and cowardice, the burden of debts and from being overpowered by men
@akbarfaizal68@erickthohir Korupsi dilakukan antara 2018-2023. Tahun 2018 Riza Chalid hadir di Kuliah Jokowi di acara Nasdem.
Kebetulan saja atau sebuah sinyal🤔https://t.co/liXYOxkBpD
Pak @erickthohir, kasus oplosan minyak Pertamina oleh BUMN Patra Niaga ini tak boleh direspon secukupnya saja. Selain soal jumlahnya yg naudzubillah, niat dan cara mrk merugikan negara dan rakyat sangat kejam. Saya rasa Anda juga harus bertanggungjawab sbg menteri yang menunjuk mrk menjadi pengendali Patra Niaga. Kalian pasti punya cara hadapi situasi ini. Tapi, Kami, para rakyat ini juga berhasil belajar dgn cepat cara memahami kalian bahwa ‘Kalian Tak Cakap’. @prabowo@KemenBUMN
Tambang emas ini berencana membangun fasilitas penimbunan (Tailings Management Facillity) baru yg akan memakan lahan hijau seluas 195,2 ha.
Walaupun hutan di lokasi TMF adalah bagian kecil dari blok barat ekosistem batang toru (86,807 ha), namun potensi untuk fragmentasi habitat sangat tinggi.
ORANGUTAN TAPANULI SEMAKIN TERDESAK MENUJU KEPUNAHAN
akibat rencana sebuah tambang emas untuk memperluas area pertambangan ke dalam hutan habitat mereka. Jumlah mereka tidak sampai 800 individu.