Jebakan Middle-Low Class :
• Beli iPhone pakai paylater.
• KPR rumah 25–30 tahun.
• Kredit motor demi gengsi.
• Kredit mobil di luar kemampuan.
• Pinjol buat liburan.
• Nikah mewah sampai ngutang.
• Ngopi mahal tiap hari, tabungan minim.
• Gaji naik, gaya hidup ikut naik.
• Beli barang karena FOMO, bukan karena butuh.
• Liburan pakai kartu kredit.
• Semua serba dicicil.
• Rela lembur cuma buat bayar cicilan.
• Tabungan darurat nol, cicilan banyak.
• Investasi paling besar: cicilan
• Terlihat mapan di luar, finansial megap-megap di dalam.
aku kakk, masih ikut pelatihan buat nambah skill. ini platform buat ikut pelatihan beberapa ada yang punya pelatihan gratis
1. myskill
2. digitalent kemkomdigi
3. google digital garage
4. coursera
5. remote skill academy
6. linkedin learning
7. skill grow id
8. skilvul
9. jabar digital academy
10. revou
11. kemnaker / upt balai latihan kerja sesuai domisili
12. kariermu
13. kelas work
14. udemy
15. dibimbing
selain itu kalian juga bisa mampir ke ig nya @/info.pelatihangratis , @/seminar.gratis , dan @/webinar.gratis
Nyari cuan di era sekarang gampang.
Modal aplikasi di HP, kita bisa daftar jadi mitra: jualan, ngojek, freelance.
Gak ada bos, jam kerja bebas, merdeka!
Yang susah? Mastiin penghasilannya masuk ke dompet sendiri, bukan ke aplikator.
Di awal masuknya gratis. Makanya kelupaan:
Kita bukan yang punya rumah!
Kita cuma dikasih kunci kontrakan.
Terlanjur nyaman, sampai lupa cuma numpang.
Hari ini aku bahas:
Apa itu PLATFORM CAPITALISM dan kenapa itu penting buat kamu pahami.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Guys... udh jam 16.30... yuk yang belum sholat ashar segera sholat ashar.
Jangan sampai kita santai², kongkow² menunggu senja. Hingga ketika matahari mau tenggelam, dia baru sadar belum sholat.
Akhirnya ia tetep sholat. Tapi sholatnya seperti ayam yang sedang mematuk makanan. Cepeettt banget.
Nah... itu ciri-ciri sholatnya orang munafik menurut Rasul.
Pernah merasa "Duh, kok saya bego banget ya?" saat di kelas, atau saat meneliti atau saat menghadapi kasus yang sulit?
Paper dengan judul "The Importance of Stupidity in Scientific Research" mencoba membedah fenomena tersebut.
Banyak orang mengira sains itu soal "pasti tahu". Padahal, sains itu sejatinya justru dibangun dari rasa "ketidaktahuan".
Tulisan Martin Schwartz, “The importance of stupidity in scientific research”, adalah bacaan wajib bagi mahasiswa dan peneliti.
Kenapa?
JANGAN SAMPAI KAMU DIBENCI RASULULLAH ﷺ CUMA KARENA SIFAT INI
1. banyak bicara & suka memotong pembicaraan (tsartsarun)
suka mendominasi, ingin selalu didengar.
2. sombong dalam berbicara (mutasyaddiqun)
berbicara dibuat-buat, ingin terlihat paling pintar.
3. angkuh & merendahkan orang lain (mutafaihiqun)
gaya bicara dan sikap penuh kesombongan.
rasulullah ﷺ bersabda:
"sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.
dan yang paling aku benci di antara kalian... adalah orang yang banyak bicara, suka memaksakan diri dalam berbicara, dan sombong."
(hr. tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-albani)
perbaiki lisanmu...
karena dari situlah hatimu terlihat.
Menghadapi orang yang dikit-dikit mengeluh dan pesimis memang bisa menguras energi bangeet yaaa kak 🙃
Tapi kalau kita cari tau, pesimisme itu sering kali bukan soal "lemah", melainkan sebuah Defensive Pessimism. Ini adalah cara otak memproteksi diri: mereka sengaja menurunkan ekspektasi serendah mungkin supaya kalau gagal nanti, rasanya nggak terlalu hancur.
Sebenarnya, anak-anak yang "jago bohong" dari strict parents itu sedang mempraktikkan cara bertahan hidup paling dasar.
Dalam psikologi, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kejujuran tidak lagi menawarkan rasa aman, melainkan ancaman hukuman.
Saat ruang untuk berbuat salah ditutup rapat, otak anak otomatis beralih ke mode survival. Ayo kita bahas:
Seseorang yang udah ngerasa cukup, gak bakal iri liat pencapaian orang lain.
Seseorang yang udah damai sama dirinya sendiri, gak bakal sibuk ngejatuhin orang lain.
Seseorang yang fokus ngebangun hidupnya, gak punya waktu buat ngatur hidup orang lain.
Seseorang yang tau value dirinya, gak butuh validasi dari mana-mana.
Seseorang yang udah kenyang gak bakal rebutan makan.
Seseorang yang hidupnya penuh, gak gampang kepancing drama orang lain.
Seseorang yang pikirannya sehat, gak nikmatin jatuhnya orang lain.
Seseorang yang tau arah hidupnya, gak bakal sibuk bandingin diri sama orang lain.
Karena kalau masih ngerasa harus ngerebut, masih sibuk iri, masih doyan jatuhin orang lain itu tandanya di dalam dirinya masih ada yang belum selesai, masih ngerasa kurang, dan belum benar-benar nemu rasa cukup. Yang bener-bener cukup, gak pernah ngerasa perlu buat ngerebut apa pun.
Halo anak muda usia 20an tahun: belajar diam deh.
Diam dulu, banyakin mendengar.
Asah skill ini.
Kalian blom perlu terlihat paling menonjol di ruangan. Terutama untuk domain-domain yang masih asing untuk kalian. Blom ada pengalaman cukup untuk beropini.
Fokusnya menyerap.
Orang yang banyak bicara dapat perhatian.
Orang yang banyak mendengar dapat pemahaman.
Be the latter.
Of course, kalo kalian memang paham, pegang data, atau melihat sesuatu yang orang lain lewatkan, gpp speak up.
Ingat, value kalian bukan di seberapa sering bicara atau seberapa dominan di ruangan, tapi seberapa tepat yang kalian suarakan.
_
Kalo dalam konteks diajak meeting oleh senior ke kantor client, diam membantu kalian dari masalah "salah ngomong". Yang harusnya project mulus dan ga rumit, sekalinya kalian nyeletuk, eh jadi nambah scope yang ga perlu dan bikin cost jadi lebih bengkak.
Kalian pikir cuma berkomentar/berkelakar aja, itu gpp. Tapi ternyata efek sampingnya luar biasa.
Jadi, belajar diam deh.
Makes sense ya.
Ternyata membatasi akses internet di handphone kita selama 2 minggu tuh manfaatnya banyak.
Izin menjelaskan penelitian ini ya.
Jadi ada studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus (2025) yang meneliti perilaku digital kita dan hasilnya unik banget.
Penelitian yang melibatkan 460 partisipan ini menguji efek dari pembatasan akses internet pada smartphone selama dua minggu.
Hasilnya menunjukkan bahwa mematikan data seluler berasosiasi dengan peningkatan sustained attention (kemampuan atensi berkelanjutan), persepsi kesehatan mental, serta subjective well-being.
Jadi dengan mengurangi digital noise di handphone kita, maka kita bisa lebih melakukan hal-hal yang dapat bermanfaat untuk otak dan kesehatan mental, antara lain:
-Interaksi sosial tatap muka (meningkatkan regulasi emosi)
-Aktivitas fisik (memicu pelepasan neurotrofin)
-Paparan lingkungan terbuka (menurunkan kadar kortisol)
Semoga bermanfaat