Apa saja ironi pendidikan di indonesia?
Jadi ada
- Seorang pria berusia 57 tahun mengikuti tes PPPK demi mencari kepastian status. Bukan CPNS
- Beliau mengikuti seleksi PPPK, jalur yang menjadi harapan banyak tenaga honorer.
Harapan yang Panjang
- Setelah bertahun-tahun mengabdi, mereka masih harus mengikuti ujian.
Tantangan Usia
- Di usia senja, mengikuti tes berbasis komputer bukan hal yang mudah.
Refleksi
Tri Rama Dandi (26), driver ojek online di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak laki-lakinya yang berusia 1 tahun 6 bulan bernama Muhammad Al-Faizih.
Setiap kali pesanan dengan jarak dekat masuk, Tri Rama harus meninggalkan anaknya seorang diri di dalam kamar kos-kosan sempit tanpa dititipkan ke ibunya ataupun pengasuh.
"Hal terburuk yang pernah terpikirkan adalah b*nvh diri. Tapi anak saya yang membuat saya bertahan. Dia alasan saya masih ada sampai sekarang," tuturnya.
Meski hubungan dengan keluarga besarnya tetap baik, Tri memilih berjuang sendiri. la tidak ingin menjadi beban bagi orang tua maupun kerabatnya. la juga memilih tidak lagi membuka luk4 lama tentang perpisahannya dengan sang istri. Sebab, masa lalu itu begitu sakit, apalagi sebuah penghianatan.
"Sekarang saya cuma fokus kerja untuk anakku. Dari kecil dia ditinggal, dan sampai sekarang anak saya tidak pernah merasakan air susu ataupun kehangatan seorang ibu," ucapnya.
PLIISSS guys normalisasikan beli di pedagang kecil kek abahnya ini ya guyss🥺,beliau udah capek keliling,sampe nyerah akhirnya dibagikan ajh pisangnya daripada ga laku!!?!??
* jadi abah ini jualin pisangnya orang guys,trs sering bgt ga laku,sering pulang ga bawa uang,sering dibagiin ke orang" karna katanya biar ringan beban pikulannya beliau 😭😭
cc: iylv___
Temen gue, Tasya, resign minggu lalu dari bank tempat dia jadi teller. Gaji Rp5,8 juta. Cabang deket rumah, jalan kaki 15 menit. Posisi yang dulu dia perjuangin banget pas psikotes berkali-kali gagal di bank lain. Semua orang bilang dia keburu-buru. Terus dia nunjukin satu rekaman suara ke gue. Gue langsung diem pas dengerin.
Isinya rekaman briefing pagi sama kepala cabangnya. "Tasya, kamu tuh saya angkat dari CS ke teller karena kasian, bukan karena kamu emang mampu." Padahal kata Tasya, dia yang paling jarang selisih kas se-cabang, track record-nya paling bersih dari semua teller. Dan itu bukan kali pertama kepala cabangnya ngomong gitu di depan orang lain.
Gue tanya, "Udah berapa lama kayak gitu?" "Hampir 2 tahun." "Lo diem aja?" "Awalnya gue pikir emang gue yang kurang capable. Temen-temen bilang dia emang gitu ke semua orang, biar pada gak lengah." Kalimat "biar pada gak lengah" itu yang bikin gue kesel denger. Karena itu kalimat yang sering dipake buat ngebenerin cara ngomong yang ngerendahin orang di depan umum.
Tasya cerita pola yang dia alamin hampir 2 tahun: Antrian numpuk karena sistem lemot, disalahin ke Tasya di depan nasabah. Tasya lembur closing kas sampe akurat sampe rupiah, besoknya yang dipuji ke kantor pusat "kepemimpinan" kepala cabangnya. Tiap Tasya diminta ngajarin teller baru, tiba-tiba ada omongan dia "sok senior". Satu-satu keliatan biasa. Digabung, itu pola yang sama tiap ada penilaian kinerja bulanan.
Yang paling ngeri bukan omongannya. Tapi efeknya ke Tasya pelan-pelan. Dari yang pede ngitung transaksi gede, jadi dobel-tiga kali ngecek takut salah walau udah bener. Dari yang tenang ketemu nasabah rewel, jadi gampang gemeteran duluan sebelum shift mulai. Tiga bulan terakhir dia mulai kena maag, padahal makannya teratur. Suaminya yang notice, "Kamu tidur kok gak nyenyak terus tiap malem Minggu?"
Tasya sempet coba semua cara. Ngomong langsung: dijawab "kok gitu doang baper, kamu harus lebih kuat mental kalau mau naik jabatan." Lapor ke HR area: dibilang "kita perlu data konkret, bukan cuma perasaan." Minta pindah cabang: ditolak, katanya "cabang ini lagi butuh kamu." Sistemnya gak lupa. Sistemnya emang lebih gampang nahan Tasya daripada negur kepala cabangnya.
Titik baliknya sepele banget. Tasya lagi beresin folder penilaian kinerja tahunan. Dia baru sadar, 2 tahun jadi teller, nilai kinerjanya selalu "baik", gak pernah "sangat baik" — padahal track record kas paling bersih se-cabang. Dia itung, ada minimal 8 kali momen dia yang nyelametin cabang dari komplain nasabah, tapi gak pernah nongol di catatan penilaian.
Sebelum resign, Tasya lakuin 3 hal: Pertama, dia simpen semua bukti. Rekaman, catatan kas harian, tanggal kejadian. Biar dia percaya sama kerjaannya sendiri. Kedua, dia mulai belajar sertifikasi keuangan lewat … modal pengalaman teller yang udah dia punya — biar CV-nya naik level, bukan cuma "pernah jadi teller." Ketiga, dia resign setelah lolos seleksi di tempat baru dan tabungan cukup 5 bulan.
Sekarang, 2 bulan setelah resign, Tasya kerja di posisi yang lebih tinggi di lembaga keuangan lain. Gaji Rp7,3 juta, dan yang paling penting, penilaian kinerjanya jelas, terukur, bukan tergantung mood atasan. Katanya, "Yang paling gue syukurin bukan gajinya doang. Sekarang gue kerja tanpa was-was tiap ada briefing pagi. Itu yang paling berharga." Dia gak nyuruh semua orang resign kayak dia. Dia cuma bilang, jangan tunggu sampe lo ngerasa gak layak buat hal yang sebenernya lo kuasain banget.
Sebelum lo scroll, cek diri lo sendiri: Ada gak atasan yang bikin lo ragu sama kemampuan lo sendiri, padahal hasil kerja lo jelas bagus? Lo sering ngerasa "mungkin emang gue yang kurang" padahal buktinya nunjukin sebaliknya? Kalau iya, itu bukan lo yang kurang percaya diri. Itu sinyal. Jangan buru-buru bilang "ah gue aja yang insecure."
Share ini ke temen lo yang tiap abis dinilai atasannya jadi ragu sama kemampuan sendiri. Kadang yang dia butuhin bukan nasihat. Tapi tau bahwa dia gak sendirian dan gak salah.
cc : anisarahmitaaa
Dear X!
Show your magic!
Bantu sebar info ini ya teman-teman!
Bapak ini nyari anaknya rumahnya nganjuk
Namanya bapk ini ZURKANAIN asal palembang psoisi di PATI
anaknya namanya renza sultan zurkanain
Yg satu ilzi el noza zurkanain
ALAMAT anaknya desa bale turi wetan ngasem nganjuk..
Jujur aja, lazy ambitious itu cuma istilah halus dari NATO: No Action, Talk Only.
Otak sibuk bikin masterplan, tapi eksekusi nol.
Biasanya penyebab utamanya bukan murni "males", tapi karena
Semakin dewasa, kalo lagi di dzolimin bukan lagi ngerasa sakit hati, dendam, apalagi sampai doa al jabarin orang itu. Selain balasannya pedih, ternyata hidup kita juga gak tenang karena minta Allah mengutuk orang itu.
Jadi, aku ganti aja doa nya: “Ya Allah jika ada yang dzolim membuatku sakit hati dan menangis, maka hiburlah aku dengan hal2 duniawi karena sejatinya aku memang masih di dunia. Jadi berikan imbalan atas air mataku dengan hal yang hamba suka. Uang, perhiasan, baju, kendaraan, tempat tinggal, serta kesehatan. Agar aku jadi tenang, bahagia, dan bisa fokus ibadah untuk mengumpulkan amal pahala di akhirat nanti”