The scholars of Egypt wrote to Imām al-Nawawī رحمه الله , when he was still young and residing in Syria, asking:
“By what means did you attain this rank and acquire all this knowledge while you are still so young?”
He took a blank sheet of paper, made it into a scroll, and wrote at its head:
[وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ]
“And fear Allah, and Allāh teaches you.”(Qurʾān 2:282)
May Allāh benefit us through his knowledge. Āmīn.
Semuanya berantakan. Aku coba menyusun ulang, kemudian hancur bahkan sebelum berdiri separuh jalan. Aku lihat kembali ke belakang, barangkali ada puing2 yg masih berceceran, namun tak ada kutemukan kecuali kerumitan, "dari bagian mana lagi bisa aku tata ulang?".
الحيــــاة رحلــــةٌ بــــلا خريطــــة، وأحيانًــــا نتــــوه فــــي دروبٍ لــــم نخترهــــا، لكنّنــــا علينــــا أن نواصــــل المسيــــر.
Hidup adalah perjalanan tanpa peta, terkadang kita tersesat di jalan yang tak kita pilih, tetapi harus tetap melangkah
Apa yang dikata hati seringkali tak akan meleset, hanya saja akal kurang mampu mencerna dengan baik dan bijak sehingga interpretasi yang lahir sebagai tindakan berupa hal sebaliknya.
Intinya, yg bikin kita lupa diri, besar kepala, dan merasa paling benar itu hanyalah satu: saat kita tidak pernah ditegur. Nggak ada yg berani bilang kita salah. Seumur hidup, telinga kita hanya kenyang disuapi pujian, 'kamu benar,' 'kamu hebat, 'kamu luar biasa.”
Harga yg sangat mahal dari sebuah inkompetensi adalah ketidakhormatan. Inkompetensi tak lahir semerta-merta, melainkan timbul dari akumulasi tumpukan 'unvalueable things' yg sejak lama terinfiltrasi di dalam diri sehingga menjadi nilai tersendiri. Plot twist-nya adl penyesalan.