Love after 25 itu beda.
Kamu sudah nggak lagi cari โsparkโ atau rasa yang meledak-ledak di awal.
Yang kamu cari sekarang lebih ke stability, kindness, dan shared goals.
Kamu sudah melewati fase yang penuh permainan, drama, dan butterfly yang cepat datang lalu hilang.
Sekarang yang kamu butuhkan lebih sederhana tapi lebih dalam:
peace, emotional safety, dan seseorang yang arah masa depannya sejalan dengan kamu.
Sakit hati level tertinggi bukan soal selingkuh.
Tapi ketemu orang yg beneran nyambung sama lo. Ngobrolnya enak, visinya sama, chemistrynya dapet tanpa usaha.
Tapi waktunya ga mendukung.
Bukan orangnya yang salah. Bukan lo yang salah. Cuma waktunya aja yg jahat.
"Right person, wrong time" itu mungkin jenis kehilangan yang paling susah dijelasin ke orang lain.
Sakit hati level tertinggi bukan soal selingkuh.
Tapi ketemu orang yg beneran nyambung sama lo. Ngobrolnya enak, visinya sama, chemistrynya dapet tanpa usaha.
Tapi waktunya ga mendukung.
Bukan orangnya yang salah. Bukan lo yang salah. Cuma waktunya aja yg jahat.
"Right person, wrong time" itu mungkin jenis kehilangan yang paling susah dijelasin ke orang lain.
gini lah salah satu efek budaya yg obsessed sm productivity, people start measuring human worth through ambition and output. padahal kalo kasusnya kondisi mental yang buruk, itu bisa bener bener debilitating. depression slow people down, drain their energy, make ordinary things
girl letโs be honest: kalau dia emang baik, dia nggak akan nyakitin kita dalam bentuk apapun. stop meromantisasi rasa sakit dan jangan berlindung dibalik kata mungkin dia akan berubah. nah, we really deserve a love that feels gentle and kind.
Wedding dream kamu apa?
โNikah untuk tidak bercerai, nikah untuk tidak dianggap beban, nikah untuk tidak main kasar, tidak ada issue curang, dunia akhirat dicari bersama, jadi tempat dan perlindungan terbaik bersama hingga akhir hayatโ ๐ฅน๐ฅน
Gue termasuk tim kasih kabar. ๐
Bukan karena posesif, bukan juga karena pengen laporan kegiatan per 15 menit kayak absensi sekolah.
Tapi karena menurut gue, ngasih kabar itu bentuk paling sederhana dari rasa peduli.
"Aku telepon ya nanti."โจ"Aku kabarin kalau udah sampai."โจ"Aku lagi sibuk bentar, nanti chat lagi."
Kalimat-kalimat receh kayak gitu mungkin cuma butuh 5 detik buat diketik, tapi efeknya bisa bikin orang yang nunggu jadi tenang berjam-jam.
Lucunya, banyak orang yang sanggup nonton story 27 orang, scroll timeline 3 jam, bahkan sempet debat sama orang asing di internet, tapi ngirim pesan "aku masih kerja ya" terasa seperti misi NASA.
Menurut gue, kasih kabar itu bukan soal kontrol. Itu soal menghargai waktu dan perasaan orang yang peduli sama kita.
Karena nunggu tanpa kejelasan itu capek. Apalagi kalau yang ditunggu terakhir bilang, "sebentar ya," terus hilangnya lebih lama dari masa jabatan presiden. ๐
Makanya gue selalu nganggep komunikasi itu bukan tentang intensitas, tapi konsistensi.
Lo gak harus chat tiap menit. Tapi kalau ada orang yang sayang dan peduli sama lo, jangan dibiarin nebak-nebak nasib kayak lagi baca ramalan zodiak.
Kalau buat gue, ngasih kabar itu bare minimum.
Kalau kalian gimana? Tim "aku kabarin ya" atau tim "kalau penting juga nanti muncul sendiri"? ๐