Let's Bring Stray Kids to Jakarta! ✨️
STAY Indonesia, mari bersatu menyuarakan antusiasme kita untuk tour RUN IT melalui demand survey resmi dari kami.
Suara kalian sangat berarti 🫶🏻
🔗https://t.co/83635SkiB5
#woddy
“ini siapa, dy?”
tiwi menoleh ke arah mas wowo dengan cepat, baru sekali ini mas wowo memanggil nama aslinya. dia hampir tidak pernah memanggil nama asli–bahkan tiwi sekalipun. setelah menjadi kekasih, mas wowo selalu memanggilnya sayang.
“siapa, mas? aku juga gak kenal.”
“ini! ini foto kamu, kan?”
tiwi menatap ponsel yang disodorkan mas wowo, mengamati foto yang terpampang di sana. tiwi mendesah pelan. “mas, kan kamu tau aku hampir seharian sama kamu. menurut kamu, itu foto beneran?”
“ya aku gak tau, makanya aku nanya kamu. tinggal jawab.” jawab mas wowo ketus. dia tidak lagi berbicara dengan tiwi, sibuk menatap kaca mobil padahal di jalanan cuma ada gedung tinggi.
“kamu kalo marah tuh yang masuk akal gitulo, mas.” kata tiwi sama ketusnya. “udah jelas banget kalo itu AI. emang menurut kamu, berapa jam waktu yang kuhabiskan sama kamu? dan menurut kamu apakah aku punya waktu cukup buat ketemu sama oranglain? mikir dong mas. ah, malas lah ngomong samamu. suka-suka kau ajalah udah.”
tiwi tidak lagi bisa menahan amarahnya. ia sebal betul, bisa-bisanya mas wowo lebih percaya ke foto daripada dirinya sendiri. padahal orang di foto juga tidak mirip tiwi!
“sayang, sayang. maafin mas. mas cemburu.”
“ah udahlah makan aja itu cemburumu! sampai AI kayak gitu pun kamu bikin jadi masalah, mas. ahhh, udahlah mas aku capek banget males ribut. jangan ganggu aku tidur ya aku mau tidur. awas kalau mas ganggu tidurku.”
tiwi bergelung ke arah berlawanan, tidak sudi menatap mas wowo. lalu tangan mas wowo memeluk badan tiwi dari belakang. “sayang, yang. maaf ya. maaf mas tadi kebawa cemburu.”
“iya udah dimaafin tapi plis aku mau tidur bentar. nanti aja dibahas.”
tiwi pun terlelap dalam tidur. ia merasakan ada tangan yang mengelus lembut bokongnya.