*3 TANDA ATASAN MANIPULASI TANPA KAMU SADAR.*
Pertama, pujian berlebih di awal hubungan kerja. Kedua, tugas yang ambigu sehingga kamu selalu merasa ragu. Tapi yang ketiga? Itu yang paling licik – karena terlihat seperti 'kebaikan' dan hampir tidak pernah lolos dari radar korbannya.
TANDA 1: LOVE BOMBING PROFESIONAL
* Awal kerja: “Kamu yang terbaik di tim,” “Aku beruntung punya kamu”
* Ini membangun “hutang emosional” kamu merasa WAJIB membalas kebaikan mereka
* Saat nanti mereka minta sesuatu yang tidak wajar, kamu tidak bisa menolak karena merasa berhutang
* Red flag: pujian yang berlebihan TANPA bukti kinerja spesifik
TANDA 2: STRATEGIC AMBIGUITY
* Instruksi yang sengaja tidak jelas: “Kerjakan yang menurutmu terbaik”
* Kalau hasilnya bagus: “Itu arahan aku”
* Kalau hasilnya buruk: “Kan kamu yang decide sendiri”
* Mereka selalu dalam posisi MENANG karena tidak pernah memberi standar yang jelas
* Red flag: kamu selalu merasa ragu dan cemas tentang “apa yang sebenarnya dimaui”
TANDA 3: MANUFACTURED DEPENDENCY (yang paling berbahaya)
* Mereka secara perlahan membuat kamu BERGANTUNG pada mereka
* Menahan informasi yang kamu butuhkan, lalu “membantu” memberikannya
* Memblokir aksesmu ke orang lain yang bisa membantu
* Membuat seolah-olah HANYA melalui mereka kamu bisa berkembang
* Terlihat seperti mentor yang peduli, padahal ini KONTROL
Kenapa ini bahaya? Karena saat kamu bergantung, kamu tidak bisa pergi. Dan mereka tahu itu.
Cara melindungi diri:
* Dokumentasikan SEMUA instruksi secara tertulis
* Bangun hubungan dengan orang lain di organisasi, jangan terisolasi
* Minta KPI dan ekspektasi yang TERTULIS dan terukur
Save ini. Baca ulang sebelum 1-on-1 berikutnya
nemu kata kata yang nenangin banget;
“Apa yang tidak sampai ke telingamu, itulah cara Allah menjagamu.
Apa yang sampai lewat mulut orang lain, itu cara Allah mengujimu.
Dan apa yang sampai langsung dari pelakunya itulah cara Allah beri kesempatan agar hatimu belajar sabar dan memaafkan.”
Kadang kita terlalu sibuk mempertanyakan takdir, sampai lupa… bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan.
Apapun yang terjadi semuanya sudah diukur dengan sangat tepat.
Bahkan luka yang terasa paling dalam, tetap bagian dari cara Allah menjaga kita.🖤
tadi baca di threads cuma udah terlanjur ke scroll,
ada istri yg menyesal sejadi2nya,
suaminya freelancer, istrinya punya pekerjaan tetap.
suaminya kerja dirumah sambil ngurus anak dan bersih2. sedangkan istrinya kerja di kantor.
sayangnya rezekinya blm berpihak ke suami, penghasilan blm stabil padahal udah sering begadang dan berusaha.
istrinya sering merendahkan suaminya apalagi 2 bulan terakhir belum ada penghasilan, alhasil hidup dari gaji istri, sikap istri dingin dan meremehkan.
sampai suatu malam di kamar suaminya bilang mau kerja dengan senyum dan ramah karna mau begadang dan ngulik lagi depan laptop, istrinya masih judes karna si suami blm ada penghasilan 2 bulan itu.
paginya pas dicek suaminya sudah meninggal karna kecapean kerja di depan laptop dan kopi yg belum habis.
dan sedihnya lagi ketika cek hp, suaminya berhutang ke temen2nya untuk sekedar beli susu dan popok anaknya.
jujur sedih banget bacanya..
hasil itu urusan Allah, tugas manusia itu berusaha dan berdoa...
tolong bgt buat istri2, kalau suaminya sudah berusaha maksimal tapi hasilnya blm optimal, tolong tetap di support, di tenangkan mentalnya, cari jalan keluar bareng2, jangan dibuat makin hancur 😭
1 suami gugur ketika mencari nafkah, 19 juta suami merasakan penderitaannya 😭😭😭 semoga syahid.
Guys, lu pada tahu Bluebird kan?
Taksi biru yang sering ada di bandara, di mal, yang sering bokap nyokap kita pakai dulu sebelum era Gojek dan Grab meledak.
Nah, gue mau cerita sesuatu yang bikin gue kaget waktu pertama kali dengar ini.
Bluebird harusnya sudah bangkrut dari 5 tahun lalu.
Tapi kenyataannya?
Mereka baru saja cetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah mereka Rp5,7 triliun di 2025. Profit 600-an miliar.
Gimana bisa?
Dulu waktu Gojek dan Grab masuk semua orang pikir Bluebird tamat.
Dan wajar.
Karena yang terjadi di seluruh dunia pola yang sama.
Startup masuk dengan satu strategi sederhana tapi mematikan: bakar duit, kasih harga murah, curi customer sebanyak mungkin.
Tujuannya bukan cuma dapetin customer.
Tujuannya membunuh kompetitor lama yang asetnya berat bayar gaji driver, maintain armada, sewa kantor sampai mereka kehabisan nafas duluan.
Habis tidak ada yang bisa melawan baru harga dinaikkan pelan-pelan.
Ini yang terjadi sama Yellow Cab di Amerika.
Bangkrut.
Terjadi sama banyak perusahaan taksi di Eropa. Bangkrut.
Di Indonesia banyak perusahaan taksi lokal yang tidak bisa bertahan.
Tapi Bluebird masih ada.
Dan malah makin besar.
Keputusan pertama yang kelihatannya bodoh tapi ternyata genius:
Ketika semua kompetitor panik turunkan harga Bluebird tidak ikut perang harga.
Mereka tetap 20-30% lebih mahal dari taksi online. Tidak ada diskon gede-gedean.
Tidak ada promo bakar duit.
Yang mereka lakukan malah kolaborasi armadanya bisa dipesan lewat Gojek.
Bikin aplikasi sendiri.
Dan tetap jaga standar.
Waktu itu banyak yang bilang ini keputusan bodoh. Kelihatannya mereka ngalah.
Tapi ternyata tidak.
Lalu COVID datang dan ini harusnya jadi pembunuh terakhirnya:
Pendapatan turun dari Rp4 triliun ke Rp2 triliun dalam satu tahun.
Rugi hampir Rp200 miliar.
Jalanan sepi.
Orang tidak kemana-mana.
Tapi gaji driver tetap jalan. Armada tetap harus dimaintenance.
Di titik ini logikanya perusahaan tutup.
Tapi dua hal yang selamatkan mereka:
Pertama — karena tidak ikut perang harga, mereka tidak punya utang besar hasil bakar duit.
Kondisi keuangan mereka jauh lebih sehat dari perusahaan yang ikut perang.
Kedua — sesuatu yang tidak ada yang prediksi sebelumnya: Tech Winter.
Tiba-tiba investor startup mulai tarik duit.
Startup yang selama ini bakar duit kehabisan bahan bakar.
Dan begitu mereka tidak bisa subsidi harga lagi harga naik.
Kualitas mulai tidak terjaga.
Driver mulai sembarangan.
Mobil mulai tidak terurus.
Dan customer yang selama ini pindah ke taksi online mulai sadar ada tradeoff yang mereka bayar.
Dan inilah momen Bluebird masuk dan pukul balik:
Selama kompetitor sibuk perang harga dan akhirnya longgarkan standar Bluebird justru perketat SOP lebih ketat dari sebelumnya.
Driver tetap rapi.
Mobil tetap bersih.
Tidak ada rokok.
Tidak ada sembarangan.
Mereka sasar market yang tidak mau kompromi soal kenyamanan.
Dan market itu ternyata besar dan loyal.
Hasilnya: okupansi armada balik ke 79-81%.
Tanpa bakar duit.
Tanpa diskon gila-gilaan.
Tapi ini bukan yang bikin revenue mereka meledak sampai Rp5,7 triliun.
Yang paling mengejutkan:
Bluebird sekarang bukan perusahaan taksi.
Bisnis terbesar mereka sekarang justru bukan taksi biasa.
Golden Bird — sewa Alphard dan Denza lengkap dengan sopir untuk perusahaan korporat.
Big Bird — sewa bus untuk acara atau rombongan.
City Trans — perjalanan antar kota.
Bluebird Kirim — logistik pengiriman barang.
Bisnis-bisnis ini sekarang menyumbang hampir Rp2 triliun 30% dari total pendapatan.
Kenapa bisnis korporat ini jauh lebih menguntungkan dari taksi biasa:
Kalau taksi kalau tidak ada penumpang ya mobil muter-muter bakar bensin. Rugi.
Kalau bisnis korporat tinggal tunggu telepon dari perusahaan klien, baru deploy mobil.
Tidak ada pemborosan.
Dan yang lebih penting: kontrak jangka panjang. Eksekutif perusahaan bolak-balik kantor setiap hari. Pendapatan bisa diprediksi. Tidak ada bulan sepi, tidak ada bulan ramai yang tidak terduga.
Dan satu fakta soal bisnis B2B yang sering dilupakan: banyak perusahaan lebih memilih bayar lebih mahal ke vendor yang sudah dipercaya daripada coba-coba yang lebih murah. Trust tidak bisa dibeli dengan promo diskon.
Ancaman yang masih ada Sun SM dari Vietnam:
Taksi listrik Vietnam ini masuk dengan harga murah dan sering promo.
Tapi ada hal menarik: Sun SM satu grup dengan brand mobil VinFast.
Kemungkinan besar tujuan utama mereka bukan membunuh Bluebird tapi mempromosikan VinFast agar orang Indonesia familiar dengan brand-nya. Mereka rela bakar duit untuk itu.
Kalau Bluebird tidak salah kelola obsesi mereka pada kualitas plus kontrak panjang dengan perusahaan-perusahaan besar itu tidak mudah direbut hanya dengan harga lebih murah.
Tiga pelajaran yang bisa diambil:
Satu — perang harga itu jebakan.
Kalau modal tidak sepanjang kompetitor ikut perang harga artinya bunuh diri.
Cari medan pertarungan yang berbeda.
Dua — revenue tidak ada artinya tanpa profit.
10 customer dengan profit besar lebih baik dari 100 customer dengan profit tipis.
Dan yang lebih penting dari profit: cash flow.
Perputaran uang yang sehat yang bikin bisnis bisa napas panjang.
Tiga — jangan bergantung pada satu produk.
Bisnis yang monolit rentan.
Yang survive jangka panjang selalu yang punya beberapa lini bisnis yang saling menopang.
Bluebird tidak menang karena lebih besar dari startup. Mereka menang karena tidak mau main di medan yang dibuat startup untuk membunuh mereka.
Ketika semua orang perang harga mereka jaga kualitas.
Ketika core business mereka diserang mereka bangun lini bisnis baru yang tidak bisa diserang dengan cara yang sama.
Dan itu yang bikin perusahaan setengah abad ini justru cetak rekor di tengah industri yang sudah membunuh hampir semua perusahaan sejenis di seluruh dunia.
— Maryam tak memiliki pasangan
— Aisyah tak memiliki keturunan
— Khadijah mendapatkan jodoh terbaiknya diumur 40 tahun
— Fatimah diuji kesempitan
— Asiyah bersuamikan Firaun
dan ternyata wanita terbaik sepanjang masa itu adalah seorang wanita dengan takdir yang nampaknya tidak sempurna dimata semua manusia
Seekor hiu paus secara tak sengaja terjaring nelayan yang sedang mencari ikan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang pada hari Kamis Jumat (10/4/26).
Meski membutuhkan perjuangan ekstra, hiu paus tersebut berhasil dilepaskan ke habitatnya dengan aman.
Keren banget nih buat nelayan Sendang Biru ❤️❤️❤️
.
.
🎥 nicolahendi_ / km_mutiara
HP Android lo dicopet sekarang. Maling matiin HP lo. Find My nunjukin "Offline."
Data, foto, dan mobile banking lo semua di tangan dia.
Tapi Google udah siapin fitur anti-maling yang 90% pengguna Android GAK TAU ADA. Bahkan gak pernah nyalain.
Kalau lo setup 4 hal ini sebelumnya, maling itu cuma pegang batu bata seharga 5 juta.
Ada 1 orang di tim yang kerjanya sebenarnya bagus, tapi lama banget ga dilirik. Output-nya rapi, jarang salah, dan selalu on time.
Tapi anehnya, dia jarang banget dilibatkan di hal-hal penting.
Sampai akhirnya dia ubah satu hal kecil: cara dia communicate kerjaannya.
Dia mulai update progress, tapi bukan sekadar “udah selesai”. Dia jelasin apa yang dia kerjain, kenapa itu penting, dan impact-nya ke tim atau project.
Misalnya, bukan cuma bilang “dashboard sudah diupdate”, tapi dia tambahin, “ada perubahan di metric A, kemungkinan karena X, dan ini bisa impact ke decision Y.”
Langsung beda.
Orang yang baca jadi ngerti value dari kerjaannya tanpa harus buka file dulu.
Di meeting juga dia mulai lebih aktif, tapi bukan asal ngomong. Dia cuma speak up kalau ada yang bisa dia tambahin, biasanya dalam bentuk clarity atau next step.
Lama-lama orang mulai notice.
Bukan karena dia jadi lebih “noisy”, tapi karena kerjaannya jadi lebih kelihatan relevan.
Dari situ gue belajar, bikin kerjaan lo visible itu bukan berarti lo harus pamer atau overclaim.
Cukup pastiin orang lain ngerti:
lo ngerjain apa, kenapa itu penting, dan impact-nya ke mereka.
Kalau itu jelas, visibility lo naik dengan sendirinya.
Dan yang paling penting, lo tetap keliatan profesional, bukan cari perhatian.
Demonstrasi Anti Trump tumpah ruah jutaan umat gaes. Dan ini ga cuma di USA lho. Tahun ini event No King dirayakan di banyak kota di seluruh dunia!!
USA bisa-bisa kalah bukan oleh Iran, tapi oleh rakyat seluruh permukan bumi
gw punya temen, dia kerja di dealer.
Orang dalam lah istilahnya.
Nah dari dia ini, gw baru ngeh ternyata ada permainan halus yang jarang orang sadar.
Katanya
Dealer itu lebih suka pembeli kredit dibanding cash.
Kenapa?
Karena dari kredit, mereka dapet komisi tambahan.
Bukan cuma dari jual unit, tapi juga dari leasing.
Jadi kalau lu bayar cash?
Ya mereka cuma dapet untung standar.
Tapi kalau lu kredit?
Mereka bisa dapet cuan dobel.
Makanya gak heran kalau:
yang cash sering dibilang stok kosong
yang kredit tiba-tiba unit muncul
Padahal motornya ya itu-itu juga.
Temen gw kasih trik halus yang jarang orang tau.
Katanya gini
Kalau lu MAU beli cash tapi pengen diperlakukan kayak pembeli kredit…
Datenglah di akhir bulan atau akhir tahun
Kenapa?
Karena itu momen mereka:
-kejar target
-tutup buku
-bersihin stok gudang
Di titik itu, mereka BUTUH jualan cepet.
Jadi mau cash atau kredit…
yang penting unit keluar.
Dan di situ posisi kita jadi lebih kuat.
Lu bisa:
-nego lebih enak
-dapet prioritas
-bahkan kadang unit yang katanya indent bisa tiba-tiba ada
Karena ya itu tadi…
target > segalanya.
Dealer bukan gak mau jual ke lu.
Mereka cuma lebih “semangat” kalau cuannya lebih gede.
Jadi lain kali kalau lu dibilang:
Stok kosong, harus inden ya…
Jangan langsung percaya 100%.
Bisa jadi…
stoknya ada.
Cuma…
lu belum cukup menarik buat diprioritasin
Baca pelan-pelan... ini untuk dirimu sendiriUcapkan Salam untuk diri sendiri
1. Ucapkan salam untuk diri sendiri "assalamu'alaikum"
2. Kemudian sebut nama lengkap dengan lembut 3x, lalu sentuh dada kiri sambil katakan : "Qodarullah, alhamdulillah 'ala kulli hal".
3. Lanjut katakan : "aku hadiahkan Al Fatihah untuk diriku sendiri, lahir dan batin"
Dan berdoa:
"Ya Allah, berilah hamba kabar gembira atas apa yang sedang hamba tunggu, karena Engkaulah sebaik-baik kabar gembira.
"Ya Allah, jagalah hamba-Mu ini, limpahkan rezeki yang deras seperti air zamzam.
Kemudian bacakan Al Fatihah.
Allahumma khairan fii kulli amrin antaziru
Btw kalo lo dapet project plat merah dan nominalnya gede (di atas 100juta) pastikan pake bank garansi. Wajib
Bank garansi ga cuma buat proyek konstruksi tapi bisa juga untuk proyek kreatif dan website development
Simpelnya: bank garansi itu surat jaminan dari bank yang bilang "kalau orang ini gak selesaiin kewajibannya, kami yang tanggung."
Lo pake ini buat ikut tender, dapet uang muka proyek, atau nego sistem pembayaran yang lebih enak sama client.
Ada 4 jenis yang paling sering dipake:
1. Bid Bond (jaminan tender). Syarat buat ikut tender proyek pemerintah. Bukti lo serius dan gak asal ikut terus kabur.
2. Performance Bond (jaminan pelaksanaan). Jaminan ke pemilik proyek bahwa lo bakal selesaiin kerjaan sesuai kontrak. Kalau lo gagal, pemilik proyek bisa cairkan garansi ini.
3. Advance Payment Bond (jaminan uang muka). Lo mau dapet uang muka dari pemilik proyek buat mulai kerja? Mereka minta jaminan dulu dari bank bahwa uang muka itu bakal dipake sesuai kontrak.
4. Maintenance Bond (jaminan pemeliharaan). Setelah proyek selesai, lo masih bertanggung jawab 6-12 bulan buat perbaikan kalau ada yang rusak. Ini jaminannya.
Cara daftarnya: dateng ke bank (biasanya BNI, BRI, Mandiri, BTN), bawa dokumen kontrak proyek, laporan keuangan perusahaan, dan legalitas usaha. Bank bakal evaluasi dan minta lo setor sejumlah dana sebagai jaminan (biasanya 10-100% dari nilai garansi tergantung track record lo di bank itu).
Biayanya sekitar 1-3% dari nilai garansi per tahun. Jadi kalau proyek lo Rp500 juta dan butuh performance bond, lo bayar sekitar Rp5-15 juta ke bank.
Buat agency atau vendor yang client-nya suka bayar 100% di akhir, bank garansi bisa jadi alat nego biar dapet sistem DP atau termin. Client lebih tenang karena ada jaminan dari bank.
Guys, ini yang lagi terjadi di Amerika dan skalanya bikin gue dua kali baca.
9 juta orang turun ke jalan.
Serentak.
Di seluruh Amerika.
New York, Washington, Chicago, Boston, Philadelphia semua kota besar jadi lautan manusia dengan satu pesan yang sama.
No to monarchy.
No to extremism.
No to wars.
Our forces are not for sale.
Ini bukan demo biasa.
Yang bikin ini luar biasa pesertanya bukan cuma dari kubu Demokrat.
Sebagian Republikan juga ikut turun.
Artinya ini udah melampaui batas partai.
Ini warga Amerika dari berbagai latar belakang politik yang sama-sama ngerasa ada yang salah dengan arah kebijakan Trump sekarang.
Apa yang mereka protes?
Tiga hal utama yang jadi fokus demonstrasi ini kebijakan perang yang dianggap ceroboh dan sembrono, gaya kepemimpinan yang dinilai semakin otoriter, dan penggunaan kekuatan militer untuk kepentingan yang nggak jelas.
Slogan "our forces are not for sale" itu bukan asal pilih. Ini respons langsung terhadap narasi Trump yang beberapa kali terkesan memperlakukan militer Amerika sebagai alat bargaining politik dan ekonomi.
Dan kenapa ini penting buat kita di Indonesia?
Karena kebijakan Trump tarif dagang, eskalasi konflik Timur Tengah, tekanan ke sekutu semua itu langsung berdampak ke ekonomi global termasuk kita.
IHSG kita turun. Rupiah tertekan. Harga minyak naik. Semua itu sebagian besar dipicu oleh ketidakpastian yang lahir dari kebijakan Washington.
Kalau tekanan dari dalam Amerika sendiri berhasil mengubah arah kebijakan Trump itu artinya ada kemungkinan situasi global sedikit mereda.
Tapi kalau tidak kita harus siap bahwa ketidakpastian ini masih akan berlanjut lama.
Yang menarik dari sisi historis
Demo 9 juta orang ini disebut sebagai tekanan pertama yang terorganisir dan masif dari lawan-lawan Trump untuk memaksa pemerintah berhenti dari kebijakan konflik yang agresif.
Dalam sejarah Amerika, tekanan jalanan skala besar pernah berhasil mengubah kebijakan perang seperti yang terjadi di era Vietnam. Apakah sejarah bisa terulang? Terlalu dini untuk bilang. Tapi skalanya hari ini jelas nggak bisa diabaikan.
Formula bisnis yang udah dipake berulang kali dan masih works:
1. Liat apa yang lagi rame di China
2. Bawa ke Jakarta
3. Kalau laku, bawa ke Jogja
4. Kalau laku, bawa ke Surabaya dan Bandung
5. Kalau masih laku, bawa ke kota-kota kecil di Jawa Tengah
6. Kalau masih laku, bawa ke luar Jawa
China itu basically test market terbesar di dunia. 1,4 miliar orang. Kalau sesuatu works di sana, kemungkinan besar works juga di Asia Tenggara.
Tinggal adjust harga dan selera lokal.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, anggota parlemen Hong Kong Dominic Lee membuat pernyataan yang mengejutkan:
"Barat berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi membiarkan Israel lolos begitu saja setelah melakukan genosida.
Darah warga Palestina dan Iran ada di tangan mereka.
Apa kredibilitas moral yang dimiliki Amerika?
Sebuah negara yang diperintah oleh pengikut Epstein!"
Terima Kasih, Pernyataan Anda Mewakili Umat Manusia di Seluruh Dunia.