bahasa gaul gen z :
orang have = orang punya
orang inside = orang dalam
orang enough = pas-pasan
orang use = orang make
orang need = orang butuh
orang not yet = orang blm punya
orang had = dulunya orang punya
in this economy = berhemat
becusn’t = gak becus
haha’nt = gak lucu
guys, kalo kalian lupa atau ketiduran sampe ga solat, jangan khawatir yaaah
langsung solat gapapa begitu inget/bangun tidur. even misal seharian ketiduran dan kebangun pas isya, gapapa!
langsung solat 5 waktu berurutan SAAT ITU JUGA! subuh, lanjut dzuhur, asar, maghrib dan isya☺️
Allah ga menghukum hambaNya yg lupa atau ketiduran kok. Allah Maha Baik🩷
Temen gw kerja di front office hotel bintang 4 di Bali.
Suatu malam gw tanya: "Kalau gw mau nginep di hotel lo, booking di mana yg paling murah?"
Dia bilang satu kalimat.
Satu kalimat yg bikin gw gak pernah lagi booking lewat Agoda atau Traveloka.
Dan setelah lo baca thread ini, lo juga gak akan.
Kalimatnya:
"Telepon langsung ke hotel. Bilang lo liat harga di Agoda Rp sekian. Minta harga lebih murah. Kita PASTI kasih."
Gw kaget.
"Serius?"
"Serius. Tiap tamu yg booking lewat app, hotel bayar komisi 15 sampai 25 persen ke app itu. Kamar Rp 1 juta? Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu masuk ke kantong Agoda. Bukan ke hotel."
"Jadi kalau gw telepon langsung?"
"Komisi itu gak ada. Hotel bisa kasih lo harga lebih murah DAN tetep untung lebih gede. Semua seneng. Kecuali Agoda."
Gw coba.
Hotel yg sama. Kamar yg sama. Tanggal yg sama.
Harga di Traveloka: Rp 1.250.000. Harga di Agoda: Rp 1.180.000.
Gw telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat di Agoda harga kamar deluxe tanggal segini Rp 1.180.000. Ada harga lebih baik kalau saya booking langsung?"
Jawaban resepsionis: "Bisa, Kak. Kami bisa kasih Rp 950.000. Sudah termasuk sarapan."
Selisih: Rp 300.000. Plus dapet sarapan yg di app BELUM termasuk.
Satu telepon. 2 menit. Hemat Rp 300 ribu.
"Kenapa hotel gak pasang harga murah itu di website sendiri aja?"
Nah. Ini bagian yg gelap.
Temen gw bilang: "Kita GAK BOLEH."
Hotel punya kontrak dg Agoda, Traveloka, Booking com. Di kontrak itu ada satu klausul yg namanya RATE PARITY.
Artinya: hotel DILARANG pasang harga lebih murah di channel lain, termasuk website sendiri, selama harga itu bisa diliat publik.
Kalau ketahuan, app bisa turunin ranking hotel di hasil pencarian. Hotel jadi gak keliatan. Booking anjlok. Revenue mati.
Jadi hotel terjebak. Mau kasih harga murah ke tamu, tapi gak boleh.
Kecuali lewat satu celah.
Celahnya: TELEPON.
Rate Parity berlaku buat harga yg DIPUBLIKASI. Website, app, iklan.
Tapi harga yg dikasih lewat telepon? Itu PRIVATE. Gak dipublikasi. Gak bisa ditrack sama Agoda.
Makanya temen gw bilang: "Telepon langsung."
Bukan lewat WhatsApp resmi hotel (bisa diaudit). Bukan lewat website (bisa ditrack).
TELEPON. Suara ke suara. Gak ada jejak digital buat Agoda trace
Ini bukan cheat. Ini cara hotel kasih harga yg SEHARUSNYA lo dapet dari awal. Sebelum 15-25% dipotong buat komisi app
Gw tanya lebih jauh: "Trs kenapa gak semua orang tau ini?"
Temen gw ketawa.
"Krn Agoda dan Traveloka spend MILIARAN buat iklan. Google Ads. Instagram Ads. Influencer. Cashback. Promo.
Semua itu biar lo TERBIASA booking lewat mereka.
Biar lo gak pernah kepikiran buat telepon langsung.
Biar lo gak pernah tau bahwa Rp 150 ribu dari setiap booking lo itu masuk ke kantong app, bukan ke hotel yg ngelayanin lo."
Dan satu lagi yg temen gw bilang.
"Kalau lo telepon dan bilang lo MEMBER loyalty program hotel, harga bisa turun lebih jauh lagi."
IHG Rewards. Marriott Bonvoy. Accor ALL. Daftar GRATIS.
Member rate kadang 10-20% lebih murah dari harga publik. Dan itu SAH. Krn member rate masuk kategori "private rate" yg gak kena aturan Rate Parity.
Jadi stacknya:
Harga Traveloka: Rp 1.250.000. Harga telepon langsung: Rp 950.000. Harga member rate: Rp 850.000.
Selisih total: Rp 400.000. Buat yg PERSIS SAMA
Senjata lo:
Satu. JANGAN langsung booking di app. Liat harga di sana, catat, tapi JANGAN klik bayar.
Dua. Telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat harga di Agoda Rp sekian. Ada harga lebih baik kalau booking langsung?" Kalimat itu aja. Gak perlu negosiasi keras.
Tiga. Daftar loyalty program hotel GRATIS. IHG, Marriott, Accor , semua bisa daftar di app tanpa bayar. Member rate bisa lebih murah lagi.
Empat. Kalau hotel chain besar: cek website resmi mereka. Banyak yg punya "Best Rate Guarantee" kalau lo nemu harga lebih murah di app lain, mereka MATCH dan kadang kasih diskon tambahan.
Lima. Kalau hotel independen atau boutique: WhatsApp atau DM Instagram mereka. Hotel kecil LEBIH fleksibel soal harga krn gak seketat chain besar soal Rate Parity.
Agoda dan Traveloka bukan musuh.
Mereka berguna buat CARI hotel. Bandingin fasilitas. Baca review. Liat foto.
Tapi begitu lo udah tau hotel mana yg lo mau?
Tutup app. Buka dial pad. Telepon.
2 menit. Satu kalimat. Rp 300-400 ribu lebih murah.
Temen gw bilang ini ke gw. Sekarang gw bilang ke lo.
Dan sekarang lo tau kenapa Agoda gak mau lo tau ini.
cc : emmawithai
iPhone lo dicopet sekarang. Maling matiin HP lo. Find My nunjukin "Offline."
Data lo, foto lo, mobile banking lo, semuanya di tangan dia.
Tapi kalau lo udah setup 3 hal ini sebelumnya, maling itu cuma pegang lempengan logam seharga 15 juta yang ga bisa diapa2in.
YANG LAGI RAME
☕️1 kopi TUKU = 1 kg telur
🥤1 gelas Chagee = 2 aqua galon
🥓1 Chikuro = 2 liter minyak goreng
🍪1 Dubai Chewy Cookie = 1 kg ayam
Bukan soal boros, tapi ini soal mindset🤔🤔
KOSAKATA PRABOWO SEBAGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
"Ndasmu"
"Nyenyenyenye"
"Emang gue pikirin"
"Aku kan yang presiden"
"Kalo perut laper ya mati"
Berat banget tugas orang tua & guru ngajarin attitude dan sopan santun jangan sampe nyontoh presidennya
JAWA-BALI TERANCAM REAL KEGELAPAN !!!
BUKAN KARENA BATUBARA INDONESIA SUDAH HABIS,
BUKAN KARENA SEMUA BATUBARA DI EKSPOR
TAPI KARNA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN,
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG AMBURADUL
- RKAB DIPOTONG 60% (VOLUME BATUBARA TURUN JAUH)
- HARGA DMO YANG HAMPIR 50% DIBAWAH HARGA PASAR
- KEBIJAKAN YANG BERUBAH-UBAH
LALU, DARI CERITA INI ADA PERTANYAAN JUGA
APAKAH INI SERANGAN PARA KONGLO BATUBARA?
PLTU Pacitan, salah satu tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali, dilaporkan hanya memiliki stok batubara untuk dua hari operasi. Bukan cuma Pacitan.
Sejumlah PLTU besar di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) sudah masuk lampu merah, termasuk Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Cilacap, hingga Celukan Bawang.
Standar aman PLN itu 26 hari operasi (HOP). Kenyataannya, banyak PLTU hanya punya stok 11-12 hari,
bahkan ada yang tinggal 2 hari.
Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai separah ini?
Pertama, DMO harga murah diabaikan produsen.
Batubara untuk PLTU dijual dengan harga DMO hanya USD 70 per ton. Sementara untuk pabrik semen, harganya USD 90 per ton. Untuk smelter dan ekspor, harga pasar jauh lebih tinggi.
Jelas, produsen lebih pilih jual ke luar negeri atau ke industri lain ketimbang pasok PLTU.
Akibatnya, pembangkit listrik jadi "pelanggan prioritas terakhir" para produsen.
Kedua, RKAB batubara dipangkas drastis. Di awal 2026, pemerintah memotong kuota produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi hanya 600 juta ton, alias dipangkas hampir 24%. Beberapa perusahaan tambang bahkan kena potong 40% hingga 70% dari kuota yang mereka ajukan. Alasannya stabilisasi harga global dan efisiensi SDA.
Volume batubara yang tersedia untuk pasokan dalam negeri ikut menyusut.
Ketiga, persetujuan RKAB lambat dan berlarut-larut. Di awal tahun 2026, banyak perusahaan tambang belum mengantongi persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM. Artinya mereka tidak bisa produksi penuh.
Pasokan batubara ke PLTU pun ikut tersendat.
Keempat, royalti batubara dinaikkan progresif. Sejak April 2025, berlaku PP No. 18/2025 yang menaikkan royalti batubara secara progresif berdasarkan harga acuan (HBA). Jika HBA di bawah USD 70 per ton, royalti 15%. Jika HBA mencapai USD 180 per ton ke atas, royalti bisa sampai 28%. Bagi produsen kecil dan menengah, beban ini sangat berat, sehingga banyak yang memilih kurangi produksi atau alihkan pasokan ke sektor yang lebih menguntungkan.
Kelima, ekspor batubara kini wajib lewat Danantara.
Pemerintah menetapkan bahwa mulai Juni 2026, semua ekspor batubara harus disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sistem satu pintu ini masih dalam transisi dan memunculkan ketidakpastian bagi eksportir. Di tengah masa peralihan ini, rantai distribusi batubara domestik ikut terganggu.
Ada narasi yang beredar, krisis stok batubara ini sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah agar mencabut atau melunak soal kebijakan DMO, RKAB, royalti, dan DSI.
Logikanya, jika listrik padam, pemerintah panik, dan akhirnya produsen batubara bisa "negosiasi ulang" syarat yang lebih menguntungkan mereka.
Kalau dilihat, nama-nama besar di balik tambang batubara Indonesia memang bukan orang sembarangan. Grup Bakrie (BUMI), Grup Indika (INDY), Grup Barito (PTRO), hingga pemain PKP2B lama lainnya punya pengaruh politik dan ekonomi yang sangat besar.
Ketika RKAB dipangkas hingga 70%, wajar jika ada tekanan balik.
Tapi apakah ini benar-benar "serangan terkoordinasi"?
Belum ada bukti eksplisit.
Yang jelas, kombinasi kebijakan yang menghantam semua sisi produksi dibatasi, royalti dinaikkan, ekspor diatur ulang membuat produsen enggan prioritaskan pasokan dalam negeri yang harganya paling murah.
Lampu listrik yang redup di Jawa-Bali bukan sekadar soal stok batubara. Ini cerminan dari tarik-menarik kepentingan antara negara, konglomerat tambang, dan kebutuhan rakyat akan energi yang murah dan andal.
Kebijakan dengan implementasinya kacau dan rantai pasok tidak dijaga, rakyatlah yang paling merasakan