Saking dunia ini lagi krisis-krisisnya, gw jadi orang pertama dari keturunan gw yg menyaksikan kata laid off, INTERNSHIP, dan VIA NEPOTISM bisa dijadiin satu kalimat.
It is that bad, really 😭
Jokes lawas Idul Adha:
*ngomong ke orang berbadan gemuk
“Ngumpet begoo, ntr dipotong lo..”
Semua orang tau ini becandaan doang. Tapi ternyata ada satu orang yg nganggep ini serius, dia takut dan akhirnya pergi ke Perancis. 😔
🚨 BREAKING NEWS 🚨
👤: "Gila, mahasiswa ITB akhirnya keluar dari zona nyaman dan turun ke jalan! Negara lagi darurat kah?!"
🧠: "Lebih parah dari itu..."
👤: "Hah? Rezim tumbang? Krisis ekonomi?!"
🧠: "Kagak, gerbang kampus dicoret pilox suporter, jalanan stuck total, mereka kelaparan gak bisa pesen GoFood 3 jam."
Terus kenapa bos?
Bahkan SoftBank yang punya dana $100 miliar pernah rugi $17,7 miliar dalam satu tahun fiskal gara-gara WeWork dan Uber. CEO-nya sendiri ngaku di depan publik bahwa investasi ke WeWork itu "foolish"
Tiger Global, salah satu VC terbesar di dunia, hilang $17 miliar hanya dalam 4 bulan di 2022. Dua pertiga keuntungan selama 20 tahun lenyap dalam hitungan bulan
Sequoia Capital, yang pernah invest ke Apple dan Airbnb, 50% fund-nya sejak 2018 tetap tercatat rugi untuk investor mereka
Ini realita industri VC
Riset Harvard Business School udah bilang: 75% startup yang didanai VC tidak pernah mengembalikan uang ke investornya.
Lagian Investasi $5 juta ke Tanihub sudah lewat rapat direksi, komisaris, due diligence berlapis. Prosedurnya jalan. Hasilnya tetap gagal. Itu risiko bisnis, bukan korupsi!
Kalau logika "investasi gagal sama dengan pidana" dipakai seenaknya gitu, orang sekelas Masayoshi Son udah dipenjara seumur hidup
Keponakan Luhut ini SPEKULAN Pasar Modal / Birsa dan dia yang memgusulkan membuat perusahaan CANGKANG yang bernama GOTO dengan menggunakan Dana TELKOM yang sejak masuk Bursa Selalu Berdarah-darah, hingga Sebagian Saham Tokopedia dibeli Tiktok sebesar 37 Triliun sempat membuat Saham GOTO Positif dan setelah itu Kembali HANCUR
Ini tipe Economic Hitman
Jika John Perkins dalam bukunya memotret EHM klasik sebagai agen asing yang menjebak negara berkembang dengan proyek infrastruktur fiktif bernilai miliaran dolar agar berutang ke IMF/World Bank, maka di era Industrial Revolution 4.0/5.0 ini, kita melihat evolusi varian baru: Domestic Economic Hitman.
Anatomi Operasi "Modern Economic Hitman" di Kasus Ini
1. Modus "Finansialisasi" Aset Publik (Kasus Telkom-GoTo)
Seorang EHM domestik bekerja dengan cara mengalihkan likuiditas atau aset riil milik negara (dalam hal ini cash/dana publik di BUMN seperti Telkom) ke dalam instrumen spekulatif yang nilainya diciptakan dari "angin" (valuasi bakar uang).
Dana Riil Ditukar Saham "Kertas": Triliunan rupiah dana Telkomsel yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur digital nasional yang mandiri, justru disuntikkan ke entitas swasta (GoTo) sebelum IPO.
Privatize the Gains, Socialize the Losses: Ketika harga sahamnya hancur pasca-IPO, para pendiri dan spekulan awal sudah melakukan exit strategy atau mengamankan posisi mereka.
Sementara BUMN (dan rakyat sebagai pemilik negara) terpaksa menelan pil pahit berupa unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) yang membebani neraca keuangan negara.
2. Modus "Exit Ramp" Menggunakan Korporasi Asing (TikTok-Tokopedia)
Masuknya TikTok dengan dana Rp24–37 triliun sering kali dinarasikan sebagai "kemenangan investasi".
Namun dalam kacamata EHM, ini adalah clean-up operation atau jalur penyelamatan (bailout) terselubung bagi para spekulan agar pasar tidak panik total.
Setelah ekosistem lokalnya dikuasai asing melalui transaksi tersebut, fundamental GoTo tetap tidak tertolong dan kembali hancur.
Efek jangka panjangnya? Pasar digital domestik (e-commerce) kini secara legal beralih ke tangan raksasa teknologi asing, sementara pemain lokal hanya menjadi penonton di atas infrastruktur yang dibiayai dari darah dana publik.
3. Institusionalisasi Lewat Megastruktur: "Danantara"
Indikator paling berbahaya dari seorang Economic Hitman adalah ketika mereka berhasil NAIK KELAS dari sekadar makelar saham menjadi regulator atau pengelola utama aset tertinggi negara.
Dengan posisi sebagai CIO di Danantara (Super Holding BUMN), pola pikir spekulatif ini dilegitimasi oleh undang-undang.
"Listen to the Market" adalah MANTRA EHM: Kalimat yang diucapkan di Bloomberg tersebut adalah sinyal tunduk kepada kartel finansial global.
Artinya, kebijakan ekonomi, komoditas, dan hajat hidup orang banyak di Indonesia akan selalu disesuaikan agar kompatibel dengan kepentingan pasar modal internasional, bukan untuk kemakmuran rakyat sesuai amanat Konstitusi.
Kesimpulannya:
Jika EHM masa lalu menghancurkan negara lewat jebakan utang luar negeri, EHM modern menghancurkannya lewat "Kedaulatan Algoritma Pasar".
Mereka menyusup ke jantung pengambil kebijakan, menguras likuiditas negara untuk proyek spekulatif berbaju "kemajuan teknologi", dan menyerahkan kendali komoditas strategis kembali ke pelukan pasar bebas global.
Melihat rekam jejak dari GoTo hingga Danantara, strategi yang dimainkan memang bukan untuk membangun kemandirian nasional, melainkan sebuah skenario besar finansialisasi yang rapi.
Memang benar, menyiapkan kopi hitam dan kipas adalah cara terbaik untuk melihat seberapa jauh struktur rapuh ini bisa bertahan sebelum hukum gravitasi ekonomi meruntuhkannya.
😎